Minggu, 18 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Berita Kota

Pemohon Perceraian di Bangkalan Mencapai 5401 Kasus

Didominasi Faktor Ekonomi Dan Perselingkuhan

Jumat, 19 Oct 2018 21:04 | editor : Abdul Basri

Pemohon Perceraian di Bangkalan Mencapai 5401 Kasus

BANGKALAN - Angka pengajuan perceraian di Kabupaten Bangkalan masih cukup tinggi. Buktinya, hingga Jumat (19/10) , berkas pengajuan perceraian di Pengadilan Agama (PA) sebanyak 5401. Dari jumlah tersebut didominasi masalah ekonomi dan perselingkuhan.

Data yang dihimpun Radarmadura.id, sejak Januari hingga September 2018 angka pernikahan mencapai 8974. Sementara angka perceraian mencapai 1806. Itupun belum termasuk berkas perceraian yang masih dalam proses. Tercatat penyebab perceraian akibat masalah ekonomi, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Humas PA, Muhammad Supriyadi mengungkapkan faktor ekonomi masih menjadi alasan perceraian. Bahkan, beberapa diantaranya dipengaruhi oleh penggunaan narkoba ”Sampai saat ini pengajuan perceraian paling banyak dilatarbelakangi oleh perekonomian keluarga yang relatif rendah yang beberapa diantaranya dipengaruhi oleh penggunaan narkoba,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pihak PA tetap memaksimalkan upaya mediasi untuk menekan angka perceraian. Walaupun hingga bulan september lalu berkas perceraian yang telah dicabut hanya 40 berkas. ”Untuk upaya mediasi sudah betul-betul kami upayakan namun tidak terlalu memberi efek,”ucapnya.

Menurut Supriyadi, angka pengajuan berkas perceraian tersebut masih dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan daerah Jawa Timur lainnya. Sebab untuk wilayah Bangkalan sendiri masih banyak masyarakat yang menikah sirih secara agama dan tidak mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama (KUA).

”Masyarakat sini masih banyak yang menikah hanya secara agama. Mungkin karena dianggap lebih mudah  tapi tidak memperhatikan dampak jangka panjangnya,” katanya.

Kasi Bimas Islam Kemenag Bangkalan, Arif Rahman mengatakan pihaknya sedang gencar melakukan sidang isbat nikah. Itu dilakukan untuk mengurangi resiko jangka panjang yang akan dialami istri dan anak yang tidak memiliki kekuatan hukum jika kelak terjadi sesuatu didalam keluarganya. Seperti sidang isbat di gelar terbuka, Jum’at (19/10). di Desa Durinan Timur Kecamatan Konang. Acara tersebut diikuti oleh 62 pasangan suami istri yang sebelumnya hanya menikah secara agama. (RM2)

(mr/fat/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia