Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Nidomuddin Ciptakan Pupuk Cair Kesuburan Tanah dan Tanaman

Digandrungi Poktan Berbagai Kota

Jumat, 19 Oct 2018 12:18 | editor : Abdul Basri

UJI COBA: Nidomuddin mengecek kandungan nutrisi pupuk cair yang dijual di pasaran dibandingkan dengan pupuk cair buatannya Rabu (17/10).

UJI COBA: Nidomuddin mengecek kandungan nutrisi pupuk cair yang dijual di pasaran dibandingkan dengan pupuk cair buatannya Rabu (17/10). (DARUL HAKIM/Radarmadura.id)

SAMPANG - Penduduk Sampang rata-rata bekerja sebagai petani. Tapi, jarang yang bisa membuat atau meracik pupuk untuk pertanian. Nidomuddin berhasil meracik pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman.

 Nidomuddin memang tidak mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Namun, bakat warga Dusun Kendal, Desa Baruh, Kecamatan/Kota Sampang, itu tak bisa diragukan lagi.

Di samping dan depan rumahnya dihiasi berbagai macam tanaman. Seperti buah-buahan dan obat-obatan. Juga ada ruang fermentasi berukuran 2 x 3 meter persegi.

Ruangan itu khusus untuk pembuatan pupuk cair. Alat-alat yang digunakan tradisional. Dibuat sendiri.

Pria 49 tahun itu juga aktif di berbagai organisasi. Untuk meningkatkan pengetahuannya di bidang pertanian, dia mengikuti seminar dan kunjungan ke universitas ternama.

Membuat pupuk cair membutuhkan waktu yang cukup lama. Dia melakukan penelitian selama sepuluh tahun. Tujuannya, mengetahui bahan-bahan dasar pupuk cair. ”Setelah diproses dan terbukti, akhirnya saya melakukan fermentasi. Sudah berjalan tiga tahun sejak 2016,” katanya kepada Radarmadura.id  Rabu (17/10).

Bahan dasar pupuk cair dengan kapasitas 200 liter di antaranya menggunakan lima kilogram kotoran kelelawar, cangkang kepiting, atau tiga kilogram rajungan, dan tiga kilogram rumput laut basah . Jika rumput laut kering, takarannya setengah kilogram.

Selain itu, air kelapa 40 liter, air rebusan kedelai atau air pabrik tahu 80 liter, tetes atau molasses 10 liter, fermentor (em4, mall, provibio) 1 liter, dan untuk penyempurnaan menggunakan lima kilogram kulit pisang. Waktu fermentasi selama dua minggu.

”Yang paling bagus kalau kotoran, ya kotorannya kelelawar. Bisa kotoran kelinci, ayam, sapi, dan kambing,” sebutnya. ”Kalsium kulit pisang tinggi sehingga nutrisi kebutuhan tanaman terpenuhi. Kalau menggunakan cairan ini, unsur hara mikro dan makro terpenuhi,” imbuhnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Trunojoyo Sampang itu menjelaskan, hasil racikannya memang belum dikasih label. Dia memberikan nama ”Bio Plus Pupuk Hayati”. Tujuannya, meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman. Sedangkan pupuk kimia sifatnya merusak tekstur tanah.

”Kenapa dikatakan hayati, karena berbagai macam mikro yang berfungsi untuk kesuburan tanah dan tanaman,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai satu cucu dan dua putra itu mengakui, sudah banyak daerah yang mencoba racikan pupuk cair miliknya. Misalnya, kelompok tani (poktan) asal Banyuwangi, Malang, Pasuruan, Bondowoso, Madiun, Tuban, Ponorogo, Tulungangung, Blitar, dan Jombang. Selain itu, Nganjuk, Pacitan, Sumenep, dan Pamekasan.

”Apalagi kalau di Sampang. Per musim tanam saya gratiskan kepada petani. Tidak kurang dari 600 liter,” paparnya.

Nidomuddin menuturkan, penggunaan pupuk cair itu dimulai pratanam. Mulai disemprotkan. Takarannya, tiap satu liter air diberi 10–15 mili pupuk air. Misalnya, lahan untuk tanaman padi, ketika tanaman padi berumur lima hari setelah tanam (HST). Setelah itu, sepuluh hari sekali sampai umur padi 45 hari.

”Teman-teman dari kabupaten lain di Jawa Timur datang ke sini (rumah) langsung. Mereka sharing dan ingin mencoba. Alhamdulillah terbukti. Bisa mengalahkan pupuk cair yang dijual di pasaran,” akunya.

Hingga saat ini, pihaknya melakukan sosialisasi dan pengenalan kepada petani. Biaya yang digunakan milik pribadi. Tidak ada yang membantu. Ketika tanaman padi menggunakan pupuk cair miliknya, daun dan batang tetap hijau, tapi buah sudah tua. Tanah atau lahan yang disemprot pupuk cair itu juga lebih gembur.

”Anakan padi juga lebih banyak. Kalau menggunakan produk lain yang dicoba itu tanahya kalah. Itu memang salah satu khasiatnya. Karena bisa memperbaiki kesuburan tanah dari berbagai macam mikroba,” bebernya. 

Pihaknya pernah sharing dengan Dinas Pertanian Sampang. Mereka meminta pupuk cair hasil inovasinya itu agar dilegalkan. Saat ini pihaknya meminta disediakan rumah produksi atau klinik tempat produksi dan pelatihan kepada petani. Dengan begitu, petani di sampang tidak dikesampingkan.

”Saya murni ingin membantu petani yang lain. Supaya mereka betul-betul diperhatikan pemerintah,” harapnya.

Anggota Komisi II DPRD Sampang H Sahid mengapresiasi petani yang bisa membuat pupuk cair. Itu kualitasnya diakui dan terbukti. Pihaknya meminta pemerintah betul-betul memperhatikan itu. ”Kami bangga Sampang memiliki petani kreatif,” harap politikus Golkar asal Kecamatan Jrengik itu. 

(mr/rul/luq/fat/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia