Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Hari Ini Kirim Tujuh Pikap ke Sapudi

Korban Gempa Batuk, Pilek, dan Pusing

18 Oktober 2018, 09: 50: 40 WIB | editor : Abdul Basri

SAKIT: Warga memeriksakan kesehatan di posko kesehatan gempa di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Sumenep, beberapa waktu lalu.

SAKIT: Warga memeriksakan kesehatan di posko kesehatan gempa di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Sumenep, beberapa waktu lalu. (MUSTAJI/Radarmadura.id)

Share this      

SUMENEP – Bantuan kebutuhan pokok terus mengalir ke Pulau Sapudi. Tetapi, tidak semua tersalurkan ke masyarakat korban bencana gempa bumi di dua kecamatan itu. Penyebabnya, di pulau terdampak gempa itu mengalami kendala transportasi.

Hal itu disampaikan Bupati Sumenep A. Busyro Karim berdasarkan laporan dari bawah. Banyak bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat yang tertahan di posko. Seperti beras, air mineral, dan semacamnya. ”Tidak sampai karena persoalan transportasi. Maka, Kamis (hari ini, Red) saya bawa tujuh pikap langsung,” jelas Busyro.

Tujuh pikap itu berasal dari beberapa instansi. Dari dinas PU bina marga, dinas perumahan rakyat kawasan permukiman dan cipta karya serta dinas-dinas lain yang memiliki pikap. Pikap itu akan dioperasikan di Sapudi selama proses penanggulangan bencana gempa bumi. ”Selain pikap, kami juga bawa bahan-bahan bantuan lainnya,” tegas bupati dua periode itu.

BERI KETERANGAN: Bupati A. Busyro Karim memberi keterangan kepada awak media di Pendapa Agung Sumenep.

BERI KETERANGAN: Bupati A. Busyro Karim memberi keterangan kepada awak media di Pendapa Agung Sumenep. (IMAM S. ARIZAL/Radarmadura.id)

Busyro menambahkan, upaya penanggulangan bencana gempa bumi di Sapudi tidak bisa hanya dilakukan oleh Pemkab Sumenep. Butuh keterlibatan BUMN, BUMD, serta perusahaan-perusahaan lain di Kota Keris. Pemkab Sumenep juga telah berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan untuk turut serta membantu korban gempa itu.

”Kami juga koordinasi dengan Pak Karwo (Gubernur Jawa Timur). Pak Karwo sudah secara lisan menyampaikan kepada saya, soal kerusakan rumah itu memang provinsi akan menganggarkan,” jelasnya. ”Tinggal nanti koordinasi lagi lebih teknis antara pemkab dengan provinsi ditambah kementerian-kementerian terkait. Seperti kita ketahui, dari pusat kadang langsung datang ke sana,” tegasnya.

Mantan ketua DPRD Sumenep ini belum bisa memastikan bantuan dari provinsi bisa direalisasikan. Sebab, proses penganggaran membutuhkan waktu yang tidak singkat. ”Kalau anggaran pasti tidak langsung dalam waktu dekat. Tapi kalau koordinasi tentang tanggung jawab sudah selesai,” tukasnya.

Sementara itu, kondisi terkini korban gempa di Pulau Sapudi mengalami masalah kesehatan. Setiap hari rata-rata ada lebih dari 300 warga yang memeriksakan kesehatan di posko kesehatan di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam.

Penanggung Jawab Posko Kesehatan dr Andi Fanny Suyuti mengungkapkan, dalam sehari sejak posko kesehatan digelar di hari pertama gempa, ratusan warga memeriksakan kesehatannya. ”Bisa sampai 330 orang, kadang kurang dari 300 orang. Kalau diambil rata-rata mungkin sekitar 300 orang per hari,” katanya kemarin (17/10).

Menurut dia, mayoritas pasien yang dia tangani di posko kesehatan terdiri dari balita, anak-anak, dan lanjut usia (lansia). Sebagian besar keluhannya yakni batuk, pilek, dan pusing. ”Keluhannya semua hampir sama. Di samping mungkin luka akibat reruntuhan bangunan, yang paling dominan adalah batuk, pilek, dan pusing,” jelasnya.

Meski selalu banyak pasien, Fanny mengaku persediaan obat-obatan di posko kesehatan masih mencukupi. Rencananya, posko kesehatan akan didirikan hingga sepuluh hari setelah gempa. ”Persediaan (obat) diperkirakan cukup sampai beberapa hari ke depan. Selain kami membawa dari RS Bhayangkara Surabaya, kami juga mendapat suplai dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Fanny menjelaskan, ada beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan para korban. Di antaranya adalah kondisi mental yang drop, minimnya air bersih, dan kekurangan bahan makanan bergizi. ”Pikiran memang sedang drop, asupan nutrisi kurang. Ketersediaan air juga sangat memengaruhi kesehatan para korban,” katanya.

Ketersediaan air bersih memang masih menjadi permasalahan di Desa Prambanan. Selain harus mulai memulihkan perekonomian, mereka juga kesulitan mendapat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Bukan hanya setelah gempa, dari sebelum gempa memang sudah susah air.

”Sementara hidup seadanya di sini,” tandas Suhaidi, 37, warga Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam.

(mr/mam/aji/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia