Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Aisya, Bocah Sepuluh Tahun Robek Empat Sentimeter

Tertimpa Runtuhan Rumah Akibat Gempa

Sabtu, 13 Oct 2018 11:56 | editor : Abdul Basri

TERBARING: Avivatul Aisya, 10, warga Dusun Bettengan, Desa Rabasan, Kecamatan Kedungdung, Sampang, menjadapat jahitan karena luka akibat tertimba tembok.

TERBARING: Avivatul Aisya, 10, warga Dusun Bettengan, Desa Rabasan, Kecamatan Kedungdung, Sampang, menjadapat jahitan karena luka akibat tertimba tembok. (BPBD SAMPANG FOR Radarmadura.id)

AVIVATUL Aisya, bocah 10 tahun di Dusun Bettengan, Desa Rabasan, Kecamatan Kedungdung, Sampang, menjadi korban gempa Kamis (11/10) dini hari. Putri dari Zaini itu luka robek 4 sentimeter di betis kanan.

Di rumah Zaini terdapat lima bidang tembok. Dua bidang tembok memang sudah lama keropos atau rapuh. Satu minggu lalu, satu tembok yang sudah rapuh itu dibongkar. Tersisa satu tembok yang belum dibongkar untuk diperbaiki. Rencananya, tembok tersebut akan dirobohkan dalam pekan ini.

Kamis (11/10) kira-kira pukul 01.45 tembok tersebut roboh sendiri akibat dampak gempa berkekuatan 6,4 SR. Parahnya, tembok tersebut menimpa putrinya yang saat itu sedang tidur tak jauh dari tembok tersebut. ”Menimpa putri saya itu,” ungkapnya.

Saat itu juga dia langsung meminta bantuan bidan desa untuk membawa putrinya ke puskesmas. Luka robek di bagian betis putrinya kemudian dijahit. ”Kami terkejut waktu itu karena tiba-tiba ada bunyi keras akibat tembok roboh itu,” tuturnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sampang Anang Joenaidi menjelaskan, anak sepuluh tahun itu merupakan satu-satunya korban akibat gempa di Sampang. Pihaknya memastikan korban mengalami luka robek di betis kanan. Tidak benar jika korban dikabarkan patah tulang.

Sementara itu, masih ada yang memanfaatkan kekwatiran masyarakat untuk membuat hoaks. Setelah gempa bermagnitudo 6,4 dengan kedalaman 10 kilometer di wilayah Jawa Timur, beredar pesan tentang gempa susulan. Dalam pesan itu dikatakan akan ada guncangan lindu lebih besar.

Pesan tersebut berisi imbauan agar masyarakat waspada karena akana da gempa susulan yang lebih besar. Bahkan, pesan ersebut mencatut nama tokoh masyarakat. ”Setelah gempa masyarakat tidak tidur di rumahnya. Mereka takut kabar gempa susulan akan terjadi sungguhan,” kata Moh. Mahsus, 24, warga Desa Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan.

(mr/rus/bad/luq/fat/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia