Kamis, 18 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Features

Kisah Aisyah, Balita Keluarga Miskin Mengidap Encephalocele

Keluarga Tunggu Dana Cukup Untuk Operasi

Kamis, 11 Oct 2018 14:27 | editor : Abdul Basri

BUTUH ULURAN TANGAN: Hanidah memangku anak bungsunya yang mengidap encephalocele di ruang tunggu RSUD dr Mohammad Zyn Sampang didampingi Ketua DKR Sampang Iqbal Fatoni, Selasa (9/10).

BUTUH ULURAN TANGAN: Hanidah memangku anak bungsunya yang mengidap encephalocele di ruang tunggu RSUD dr Mohammad Zyn Sampang didampingi Ketua DKR Sampang Iqbal Fatoni, Selasa (9/10). (ZAINAL ABIDIN/Radarmadura.id)

SAMPANG - Pasangan Hanidah dan Heji hanya petani. Tapi, Aisyah yang masih berumur lima bulan butuh penanganan serius. Kini, bungsu tujuh bersaudara itu dirujuk ke Surabaya. Namun akibat keterbatasan ekonomi keluarga, balita itu belum bisa dioperasi.

Ekspresi sedih tidak bisa disembunyikan dari wajah Hanidah, warga asal Desa Lar Lar Barat, Kecamatan Banyuates, saat membawa anaknya ke RSUD dr Mohammad Zyn Sampang, Selasa (9/10). Perempuan 45 tahun itu tidak tega melihat anaknya yang baru berumur lima bulan menahan sakit akibat benjolan besar di mukanya.

Bayi itu bernama Aisyah. Dia divonis mengidap encephalocele atau cacat lahir yang langka. Putri bungsu pasangan suami istri Hanidah dan Heji itu mempunyai benjolan besar di bagian muka. Benjolan itu merusak hidung dan hampir menutupi mulut. Untuk bisa sembuh, jalan satu-satunya harus dioperasi.

Hanidah menuturkan, saat lahir anaknya itu tumbuh sehat, layaknya bayi pada umumnya. Setelah berusia satu bulan, timbul tiga benjolan kecil. benjolan itu di dahi, hidung, dan pipi kiri. Saat itu dia mengira benjolan tersebut merupakan hal biasa. Tidak membuatnya khawatir.

Namun saat memasuki umur dua bulan, benjolan kecil itu semakin membesar. Suhu badan panas dan berat badan (BB) turun drastis. Meski begitu, dia tidak pernah membawa anaknya periksa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau rumah sakit. Sebab, dia tidak mempunyai biaya untuk pengobatanApalagi selama ini pekerjaannya hanya bertani.

Perempuan 45 tahun itu berharap pihak rumah sakit atau pemerintah membantu untuk biaya operasi anaknya. Dengan begitu, si anak bisa sembuh dan tumbuh dengan normal. Dirinya juga berterima kasih kepada kepala desa (Kades) dan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sampang karena telah membantu membawakan anaknya ke rumah sakit untuk diperiksa.

”Kalau malam dia nangis terus, mungkin karena sakit. Saya tidak tega melihatnya. Semoga pihak  rumah sakit atau pemerintah bisa membantu mengobati anak saya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Siang itu, pukul 13.45 dia berada di ruang tunggu bagian administrasi pendaftaran pasien sambil membelai dan mencium kening anaknya. Harapan dan doa demi kesembuhan sang buah hati selalu diucapkan dari ibu empat putra dan tiga putri itu. Tiga anaknya sudah berkeluarga.

Saat menjalani pemeriksaan di ruang poli bedah, Aisyah menangis histeris hingga membuat dokter dan perawat yang menangani lebih berhati-hati melakukan pemeriksaan. Tangis Hanidah tidak bisa dibendung begitu mendengar keterangan dari dokter bahwa anaknya itu menderita penyakit langka atau jarang terjadi.

Ketua DKR Sampang Iqbal Fatoni menyampaikan, pihaknya mendapatkan informasi adanya bayi yang mengidap penyakit tersebut dari kader di Banyuates. Kemudian, pihaknya segera berkoordinasi dengan Kades dan puskesmas setempat untuk membawa bayi tersebut ke rumah sakit umum daerah (RSUD).

Setelah diperiksa di poli bedah, pihak rumah sakit memberikan surat rujukan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di RSU Haji Surabaya. Pihaknya berharap ada bantuan dana atau uluran tangan dari pemkab dan donatur untuk meringankan biaya kebutuhan yang lain.

Iqbal Fatoni menyampaikan, hingga saat ini Aisyah masih berada di rumahnya dan menunggu uluran tangan atau sumbangan dan dari para donatur. Untuk biaya hidup selama di rumah sakit, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas sosial (dinsos) untuk menempati rumah singgah di Surabaya sebagai tempat beristirahat bagi keluarga yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari RSU Haji.

”Semoga ada orang baik yang mau menyumbang juga. Kalau dananya sudah dirasa cukup, kita akan segera berangkat ke RSU Haji,” tuturnya.

Sri Mulyono, dokter spesialis bedah di RSUD dr Mohammad Zyn mengatakan, encephalocele terjadi ketika jaringan menjorok keluar dan menembus bukaan tengkorak. Kemudian, membentuk kantung yang tertutup kulit dan menimbulkan benjolan yang berisi pembuluh darah dan selaput otak.

”Penyakit ini bisa ditimbulkan karena kebiasaan kurang baik yang dilakukan ibu selama kehamilan. Juga karena efek dari sejumlah jenis obat tertentu,” terangnya.

Satu-satunya cara untuk mengobati penyakit itu ialah harus dilakukan pembedahan atau  operasi. Tindakan itu dilakukan untuk mengangkat kantung dan menutup pembukaan di tengkorak. Jenis encephalocele di wajah biasanya lebih jinak dibandingkan yang di belakang kepala. Pihaknya berharap agar nantinya operasi berjalan lancar. 

(mr/luq/fat/nal/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia