Senin, 17 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Pengakuan Korban Selamat Gempa dan Tsunami asal Sumenep

10 Oktober 2018, 15: 29: 44 WIB | editor : Abdul Basri

KEMBALI PULANG: Warga asal Desa/Pulau Tonduk, Kecamatan Raas, yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulteng, tiba di Sumenep, Selasa (9/10).

KEMBALI PULANG: Warga asal Desa/Pulau Tonduk, Kecamatan Raas, yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulteng, tiba di Sumenep, Selasa (9/10). (ALI HAFIDZ S./Radarmadura.id)

Gempa dan tsunami di Palu mengakibatkan ribuan orang meninggal. Namun banyak juga yang selamat. Di antaranya warga asal Madura. Hingga Selasa, (9/10) mereka masih terbayang-bayang terjadinya tsunami. 

****

RATUSAN warga yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali dengan selamat di Sumenep, Selasa (9/10). Yakni, 158 warga yang semuanya berasal dari Desa/Pulau Tonduk, Kecamataan Raas. 

Kepala Desa (Kades) Tonduk Sri Hajati menyampaikan, warganya yang terkena bencana di Palu tiba di Surabaya Senin (8/10) sekitar pukul 22.00. Mereka kemudian diantarkan ke Sumenep menggunakan tiga bus. Mereka tiba di Kota Keris sekitar pukul 02.30 kemarin. 

Dia mengungkapkan, masih ada dua warga Desa Tonduk yang dirawat di rumah sakit di Makassar. Mereka belum bisa pulang karena sakit. Sementara dua warga Pulau Tonduk yang meninggal akibat gempa dan tsunami sudah dikebumikan di Palu. Dengan demikian, tersisa dua warga Sumenep yang belum ditemukan di Palu. 

Pemulangan ratusan warga itu dijadwal pukul 10.00 kemarin. Yaitu, dari Pelabuhan Dungkek menuju Pulau Raas. Kapal yang disiapkan berkapasitas 200 penumpang. 

Sebelum bencana alam itu terjadi, ratusan warga Pulau Tonduk kebanyakan bekerja sebagai pedagang kaki lima di Palu. Ada juga yang jualan stiker dan menjadi tukang tambal ban. Hajati berharap pemerintah tak membiarkan korban bencana sengsara. ”Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, warga miskin di Tonduk bertambah,” ucapnya. 

Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep Zulkarnain menyampaikan, masih banyak warga Sumenep yang tertahan di Makassar. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk melayani korban gempa dan tsunami di Palu. 

Muhfa, 22, salah seorang warga Pulau Tonduk yang merasakan langsung gempa dan tsunami di Palu, mengaku trauma dengan kejadian mengerikan itu. ”Trauma sekali. Saya tidak mau kembali lagi ke Palu,” katanya. 

Posisi tempat dia berjualan di Palu sangat dekat dengan pantai. ”Sekitar enam meter tempat saya dari laut,” tuturnya. ”Saya sudah diingatkan tetangga suruh lari karena air laut naik. Saya mau lari, tapi ombak datang menghantam. Untung saya selamat,” imbuhnya. 

Muhfa kehilangan banyak barang berharga akibat gempa dan tsunami di Palu. Terutama, bibi dia, yakni Hamida, 35, dan Jati, 40, yang meninggal akibat bencana itu. ”Saya berharap, semoga pemerintah meringankan beban saya dan semua korban yang lain,” ujarnya.

(mr/*/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia