Senin, 16 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Kemarau Panjang, Warga Pantura Irit Air Bersih

20 September 2018, 15: 04: 03 WIB | editor : Abdul Basri

MAIN AIR: Aliran sungai di Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, Pamekasan, ini dimanfaatkan untuk mandi oleh warga sekitar.

MAIN AIR: Aliran sungai di Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, Pamekasan, ini dimanfaatkan untuk mandi oleh warga sekitar. (PRENGKI WIRANANDA/radarmadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Kemarau panjang membuat masyarakat wilayah pantai utara (pantura) Pamekasan super irit menggunakan air bersih. Mereka memanfaatkan air sungai untuk mandi. Sementara sisa air sumur khusus untuk konsumsi.

Nurus Solehen, pemuda asal Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean mengatakan, kemarau panjang benar-benar membuat masyarakat harus mengatur penggunaan air. Jika tidak digunakan sesuai kebutuhan bisa kekurangan.

Suplai dari pemerintah tidak setiap hari. Pengiriman air melalui tangki BPBD Pamekasan itu dilakukan secara berkala. Sementara kebutuhan air setiap hari.

Kebutuhan air juga sangat banyak. Selain untuk mandi dan konsumsi, juga untuk pertanian. Sebab, musim kemarau itu berbarengan dengan musim tembakau. ”Sangat membutuhkan air,” kata pemuda 24 tahun itu Rabu (19/9).

Dengan demikian, masyarakat Desa Dempo Barat, Batukerbuy, dan Tlontoraja memanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi. Air sungai itu juga digunakan untuk pertanian tembakau. Sementara untuk konsumsi, mengambil sisa air di sumur yang belum kering penuh.

Sebab, sebagian sumur mengalami kekeringan. ”Kalau mandi, ya di sungai. Kalau mandi pakai air sumur, khawatir habis,” katanya.

Nurus berharap, distribusi air bersih lebih maksimal. Pemkab harus menambah armada agar volume air yang dikirim lebih banyak. Kemudian, masyarakat tidak perlu menunggu giliran dalam tempo yang cukup lama.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pamekasan Budi Cahyono mengatakan, distribusi air dilakukan secara bergiliran. Setiap hari, delapan armada diberangkatkan mendistribusikan air ke desa terdampak kekeringan.

Berdasarkan kajian BMKG, musim penghujan bakal terjadi pada September. Kemudian, akan merata di seluruh Jawa Timur. Terjadi pergeseran musim penghujan yang dipengaruhi beberapa faktor, antara lain La Nina dan El Nino. ”Itu kajian BMKG,” tandasnya.

Rabu (19/9) beberapa wilayah di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep turun hujan.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia