Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Ikhtiar Mematangkan Ideologi Pancasila

oleh Ahmad Wiyono*

Minggu, 16 Sep 2018 21:11 | editor : Abdul Basri

Ikhtiar Mematangkan Ideologi Pancasila

MASALAH krusial yang melanda bangsa kita dewasa ini adalah tergerusnya nilai-nilai kebangsaan sekaligus menipisnya ideologi Pancasila dalam jiwa segenap bangsa. Fakta perongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dilakukan oleh bangsa sendiri merupakan akibat melemahnya semangat kebangsaan dan tipisnya pemahaman atas fungsi dasar negara, yaitu Pancasila.

Yudi Latif dalam buku ini hendak menguliti dalam-dalam makna Pancasila sebagai dasar utama keutuhan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangannya, Pancasila sudah harus menjadi pijakan akhir dalam setiap pergerakan bangsa. Dengan demikian, Pancasila sudah harus tersublimasi pada denyut nadi kehidupan manusia, baik secara lahiriah termasuk secara batiniah, sehingga spirit Pancasila hadir sebagai kiblat gerak tubuh manusia sebagai bangsa.

Buku Makrifat Pagi ini menghadirkan cara baru dalam mengajak bangsa menjadi generasi pancasilais. Berbeda karena gagasan yang dituang dalam buku ini disampaikan dengan cara sederhana, bertutur, dan puitis. Wajar saja, karena seluruh gagasan kampanye mematangkan ideologi Pancasila yang diurai dalam buku ini merupakan hasil kontemplasi penulis tentang fenomena kebangsaan yang mulai rapuh.

Setidaknya ada lima bab utama dalam buku ini, disesuaikan dengan jumlah sila yang ada di dasar negara kita. Dari pemetaan bab saja, penulis sudah menyampaikan pesan penting yang patut direnungi. Bahwa lima dasar negara kita adalah pijakan kehidupan berbangsa yang tak bisa diutak-atik lagi. Karena itu, penting kita selami lebih dalam satu per satu makna dan pesan Pancasila dalam buku ini.

Ulasan pertama tentang Ketuhanan, sesuai dengan sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Yudi Latif menegaskan, hakikat ketuhanan selalu identik dengan cinta. Ini berkaitan dengan keberadaan Tuhan yang mahacinta dan maha pemilik cinta. Maka, agama diturunkan Tuhan sebagai media untuk menebar cinta. Inilah pesan luhur tentang posisi agama dalam kehidupan yang majemuk, bahwa agama mana pun harus menjadi wadah perdamaian. Bukan sebaliknya.

Terkait kemanusiaan, Yudi Latif mengurai bahwa nilai kemanusiaan terletak pada nilai simpati setiap umat manusia. Stratifikasi sosial mestinya tidak menjadikan jarak bagi setiap orang untuk membangun hubungan naik antar sesama. Sebaliknya, harus dijadikan momen untuk saling bekerja sama. Maka, makna kemanusiaan yang tertuang dalam sila kedua adalah menjadikan manusia lain sebagai bagian penting dalam kehidupan kita. Tanpa membedakan suku, agama, ras,  golongan, miskin, kaya, ulama, umara, dan sebagainya (hlm. 76).

Nilai kemanusiaan yang terpatri dalam jiwa akan berimplikasi pada lahirnya persatuan dan kesatuan. Perbedaan yang nampak di depan mata tak menjadikan manusia terpecah belah, karena dalam perbedaan itulah mereka akan menemukan persamaan. Sungguh dalam setiap rupa dan warna kulit yang berbeda, ada darah dan tulang yang berwarna sama. Maka, persatuan Indonesia, menurut Yudi Latif, ialah keberagaman dan perbedaan yang dibungkus dalam satu nilai yaitu kebersamaan dan kemanusiaan.

Mempertanggungjawabkan kekuasaan bagi kebesaran dan keluasan bangsa Indonesia sungguh berat. Kecuali bagi mereka yang tidak takut kehilangan apa pun selain kebenaran dan keadilan (hlm. 187). Penegasan ini berkaitan dengan makna dan nilai kerakyatan dan kepemimpinan yang diurai  dalam sila keempat. Bahwa, hakikat dari kepemimpinan adalah menyadari akan posisi rakyat sebagai bagian penting dalam kehidupan bangsa, sehingga mereka tidak dijadikan objek, melainkan bagian penting dalam membangun bangsa.

Di bagian akhir, Yudi Latif mengulas perihal keadilan sosial. Pesan penting yang hendak disampaikan, bahwa keadilan merupakan kunci utama dari nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, seluruh elemen bangsa terutama para penguasa harus betul-betul bisa menerjemahkan nilai keadilan bagi seluruh rakyat.

Membaca buku ini, kita seakan dibawa menjelajahi sebuah kota besar, dengan rambu yang sudah tertata rapi, dan pejalan yang mengikuti rambu itu akan nyaman dan selamat hingga tujuan. Rambu itu adalah Pancasila. 

AHMAD WIYONO

Pegiat literasi dan peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia