Sabtu, 22 Sep 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

2 Tahun Kasus KDRT Tak Diproses

Sabtu, 15 Sep 2018 05:32 | editor : Abdul Basri

KDRT: Korban KDRT SK (tengah), bapak korban, Sidiono (peci hitam), dan Hayat.

KDRT: Korban KDRT SK (tengah), bapak korban, Sidiono (peci hitam), dan Hayat. (ALI HAFIDZ S./radarmadura.id)

   SUMENEP – Proses hukum kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan korban berinisial SK, 20, warga Kecamatan Batuputih dipertanyakan. Pasalnya, kasus yang dilaporkan pada awal 2016 tersebut tidak ada perkembangan berarti.

Dugaan KDRT tersebut terjadi pada Minggu (21/2/2016) di rumah suami korban, Faro’id, warga Desa Gadding, Kecamatan Manding. Korban sudah melapor ke Polres Sumenep dengan surat tanda penerimaan laporan (SPTL) bernomor STPL/72/III/2016/JATIM/RES SMP.

Hayat, tokoh masyarakat di Desa Batuputih Laok, menuturkan, KDRT membuat korban trauma. Bahkan saat hendak diwawancarai Jawa Pos Radar Madura Jumat (14/9), yang bersangkutan mewakilkan kepada dirinya.

Dia menjelaskan, berdasar cerita Kholifah, KDRT terjadi di rumah suaminya. Saat itu Siti Kholifah hendak mengambil sandal di depan rumahnya. Tiba-tiba ada dua laki-laki memegang tangannya dan menyeretnya ke dalam rumah suaminya.

Kemudian, perempuan 20 tahun itu dibaringkan di ranjang. Kedua tangan dan kakinya diikat. Bahkan mulutnya juga disumbat dengan kain. ”Dua laki-laki tersebut melepas kain pembungkus tubuhnya, lalu dua laki-laki bernama Mar dan Usman itu keluar meninggalkannya” kata Hayat.

Setelah itu, kata Hayat, suaminya masuk ke kamarnya. Dia kemudian melampiaskan nafsunya kepada SK. Kemudian, Faro'id menyerahkan kepada keluarganya.

Menurut Hayat, SK masih sah sebagai istrinya. Sebab, Faro'id tidak menceraikan secara resmi hingga kemarin. Sejak kejadian itu, korban tinggal bersama orang tuanya.

”Dari kejadian itu, korban memar di mulutnya dan langsung melapor ke polisi. Namun, sampai saat ini belum juga ada kabar dari Polres Sumenep,” katanya.

”Saya sudah beberapa kali ke polres meminta keadilan, tapi alasannya sibuk dan semacamnya,” ujarnya sambil menunjukkan STPL. Keluarga korban berharap polisi memproses kasus KDRT tersebut.

Kasubbaghumas Polres Sumenep Ipda Agus Suparno saat dimintai keterangan terkait kasus KDRT tersebut masih meminta waktu, ”Kami mau tanya dulu kepada yang menangani langsung kasus itu,” katanya. Dia beralasan karena kasus tersebut sudah lama. 

(mr/*/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia