Jumat, 21 Sep 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Jurus Nekat Haji ala Orang Madura

Senin, 10 Sep 2018 01:04 | editor : Abdul Basri

Jurus Nekat Haji ala Orang Madura

DAN sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam (orang-orang yang bukan penduduk Kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya (Qs: Al-Baqarah:196).

Dari ayat di atas, jelas apa yang perlu kita lakukan dan yang tidak perlu dilakukan. Haji adalah rukun Islam kelima dan menjadi azam tersendiri untuk orang Madura. Serta ingin bersegera mengamalkan apa yang sudah menjadi kewajibannya bila mampu. Tapi, mampu menurut orang Madura berbeda dengan orang kebanyakan.

Orang kebanyakan akan berhaji jika uang banyak. Tapi bagi mereka orang Madura, uang bukan segala-galanya untuk melaksanakan haji. Haji bukan karena kaya, tapi haji adalah panggilan Allah SWT. Sekaya apa pun kalau Allah SWT belum memanggil, maka tidak akan bisa berangkat. Semiskin apa pun kalau Allah SWT berkenan, maka yakin akan banyak jalan untuk berangkat haji. Sehingga, hasil pertanian pun bisa menjadi bekal untuk haji. Tentu dengan menabung sedikit demi sedikit.

Sebelum membahas lebih jauh kejenakaan orang Madura di kancah internasional, saya perlu bertanya hal yang mendasar tentang Madura. Mendengar kata Madura, hal apa yang melintas di pikiran kita? Apakah kebaikannya? Apakah rasa sosialnya yang tinggi atau kejenakaannya? Atau  celurit dan tukang carok?

Sepertinya yang paling pas yang terakhir. Saya pernah bertanya hal itu kepada teman-teman saya waktu masih menempuh pendidikan pasca di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Dunia carok yang paling menakutkan bagi orang luar Madura. Stigma negatif ini sampai membuat orang luar Madura ada yang berdoa tidak akan menikah dengan orang Madura. Meskipun tidak semuanya seperti itu.

Stigma negatif ini kadang membuat orang luar Madura ketakutan. Tidak hanya masalah sikap. Sampai kepada motor pun mereka ketakutan juga kalau itu adalah nomor motor area Madura. Meskipun begitu, orang Madura itu bisa ”ditanam” di mana-mana dan mampu bertahan sampai akhir. Jadi, wajar kalau orang Madura dapat merantau hingga ke luar negeri.

Orang Madura punya prinsip. Slogannya ini sangat mendarah daging, ”Lebih baik putih tulang daripada putih mata”. Lebih baik mati daripada menahan malu. Inilah lagi yang membuat orang ketakutan ketika berhubungan dengan orang Madura. Salah satu munculnya orang Madura berkelahi karena slogan ini. Apakah tentang istrinya yang selingkuh, anaknya yang diganggu anak orang lain. Tak ada ketakutan sedikit pun akibat yang akan menimpa mereka kemudian hari. Apakah akan ada balas dendam, masuk  penjara. Harga diri bagi orang Madura adalah segala-galanya. Kalau dirinya tak mau diganggu, jadi jangan mengganggu orang lain.

Itu sekilas tentang orang Madura dari sisi pertahanan hidup. Tapi dari sisi akhlak dan keramahan, orang Madura tidak kalah hebat. Sangat menghargai tetangga dan sangat suka menolong. Apalagi berada di perantauan. Subhanallah! Persaudaraannya luar biasa melebihi saudara kandung.

Selain itu, orang Madura itu humoris. Kadang ada yang memang dari orangnya, ada yang memang tingkahnya membuat orang tertawa. Padahal, tak ada niat ingin melawak, tapi sudah bikin orang tertawa. Seperti cerita-cerita dalam buku ini. Siapa pun yang membaca buku ini membuat perut terkocok karena keluguan orang Madura.

Sikap yang tidak dibuat-buat, alamiah, khas, dan tentunya unik. Dalam buku ini ada judul tentang mimpi haji, serta berbagai atribut untuk menjemput orang yang datang haji. Apalagi tentang bertandang ke rumah Pak Kiai. Sosok kiai di sini adalah sosok yang sangat dihormati. Pada saat berhaji ada sebagian rombongan ingin mengunjungi rumah Pak Kiai yang kebetulan tinggal di sana, dari Madura juga.

Rumah Pak Kiai tersebut harus melewati lift. Serentak seluruh jamaah yang ikut bertandang membuka sandal ketika memasuki lift dan baru sadar ketika sudah keluar dari lift kalau sandal tidak perlu dibuka. Ternyata, mereka mengira lift adalah jalan untuk memasuki rumah Pak Kiai. Masih banyak lagi yang bisa dijadikan humor sikap orang Madura. Seperti kata Cak Nun, ”Orang Madura itu tidak feodal, sikap sosialnya egaliter, rajin kerja, kukuh mempertahankan nilai yang dianggapnya mendasar. Juga cara berpikirnya aneh dan cerdas, meskipun di permukaan tampak seolah-olah bodoh.”

Dalam buku ini dibahas sikap orang Madura yang khas dan unik, tapi memukau. Bagi yang ingin berkenalan dengan keluguan dan keunikan orang Madura ketika akan ke luar negeri dan bagaimana kuatnya bertahan agar mimpinya tercapai, buku ini bisa menjadi salah satu referensi bacaan Anda di rumah. Bahasanya sederhana dan enak dibaca, cocok menemani hidup Anda yang garing tanpa bumbu. 

TITIK HIDAYATI

*)Pengurus FLP Cabang Pamekasan. Kepala PAUD Sekolah Alam Excellentia Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia