Rabu, 14 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai

Dari Ladang Jagung: Mencari Praktik Seni Penyadaran

oleh Syah A. Lathief*

Senin, 10 Sep 2018 01:02 | editor : Abdul Basri

SENIMAN MENGAJAR: Drama tari The Last Rato Karya Parmin Ras.

SENIMAN MENGAJAR: Drama tari The Last Rato Karya Parmin Ras. (SYAH A. LATHIEF FOR radarmadura.id)

SEBAGAI subjek kebudayaan, rakyat memiliki potensi dan hak guna menguasai seni sebagai media yang nonjenjang dan hierarkis. Ungkapan tersebut diperkenalkan Moelyono, tokoh gerakan seni rupa penyadaran, sekaligus seniman yang dedikasi dan komitmen sosialnya bagi kawula cilik tak perlu diragukan lagi.

Apa yang dilakukan Moelyono bersama Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK) di Tulungagung bisa diadaptasi di mana pun. Sebab yang dibutuhkan adalah cara pandang dalam melihat dan memperlakukan seni, tak lebih sebagai perkakas. Ia bisa membunuh, jika tilikan kita melihat seni sebagai alat perang. Augusto Boal, seniman teater dari Brasil yang metode mimesisnya sering kali dipinjam untuk melatih kepekaan aktor ketika latihan dalam mencerap hal apa pun yang terjadi di sekitarnya, menggunakan teater sebagai perkakas untuk menghancurkan budaya bisu, budaya yang membuat kawula cilik tak berani bicara.

Di Dusun Balowar, Desa Nyapar, Dasuk, Jumat malam (24/8) digelar perhelatan bertajuk: Festivart Tanah Merah yang diinisiasi Seniman Mengajar, membuka mata kita akan praktik kesenian sejenis yang dilakukan Moelyono maupun Augustu Boal di Brasil. Kalau kita membuka diri dengan kemungkinan transformasi sosial yang bisa dilakukan kesenian, dan melihat seluruh rangkaian proses program Seniman Mengajar selama satu bulan yang dilakukan bersama warga Desa Nyapar. Selain workshop menari, teater, musik, ada pelatihan membuat film pendek, fotografi human interest, seni memanfaatkan teletong sapi dan sagu sebagai media campuran lem dan cat untuk melukis mural, atau juga seni daur ulang plastik dan sampah untuk dijadikan barang bermanfaat serta bermartabat yang bisa dipajang dengan keramik porselen dari Cina di lemari ruang tamu, atau dibawa ke pasar oleh ibu-ibu untuk membungkus belanjaannya.

MENGHIBUR: Pertunjukan Teater Rit(us) Laut karya Nunung Deni Puspitasar

MENGHIBUR: Pertunjukan Teater Rit(us) Laut karya Nunung Deni Puspitasar (SYAH A. LATHIEF FOR radarmadura.id)

Perhelatan Festivart Tanah Merah tersebut merupakan puncak dari seluruh rangkaian acara Program Seniman Mengajar yang diadakan Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan. Ada empat seniman yang ikut residensial dalam program tersebut di antaranya Parmin Ras, seniman penari dari Lumajang dengan karyanya The Last Rato; Budi Sutrisno, perupa dari Magelang karya instalasinya Bamboo Art; Nunung Deni Puspitasari, seniman teater dari Jogjakarta membawakan karya Rit(us) Laut; dan Risky Julian Permana, seniman video art dari Jogjakarta mempresentasikan Film Dokumenter Harmoni Tongtong.

Menurut Nunung Deni Puspitasari, Festivart merupakan dua kata parodik untuk menyebut festival dan seni (art). Sedangkan tanah merah lebih karena alasan warna tanah tegalan di Desa Nyapar yang konturnya keras dan merah kecokelatan. Namun subject matter dari tema yang diangkat mereka, sebetulnya lebih sebagai upaya katalisasi atas peran-peran ruang publik bagi pendidikan warga, sekaligus ruang bagi warga desa mengukuhkan eksistensi di ladang jagungnya yang sudah berubah menjadi ladang pertunjukan. Yang tumbuh di ladang itu kini bukanlah umbi-umbian, ketela, kacang-kancangan atau jagung, melainkan gagasan kreatif yang juga dapat dinikmati oleh mereka dan warga sekitarnya.

Diakui oleh Haji Abdul Azis, warga desa yang dipercaya menjadi tuan rumah Program Seniman Mengajar 2018 jika setiap kali ada perhelatan kesenian, mendadak kampungnya jadi ramai dan jadi pusat perhatian warga-warga dari desa lainnya. Harus diakui, manfaat pertunjukan dari ladang jagung tersebut benar-benar dirasakan langsung oleh warga desa, terutama oleh para pedagang kecil dan asongan. Meskipun, bisa jadi mereka yang datang, kurang paham betul dengan pertunjukan yang tengah disaksikan. ”Setiap ada hiburan seperti ini, para pedagang asongan jadi kaya mendadak. Mereka akan mendapatkan laba bersih dari jualannya tak kurang dari dua juta rupiah dalam beberapa jam saja,” kata Abdul Azis.

Menghidupkan Desa yang Sepi

Di desa-desa terpencil seperti Nyapar di Kecamatan Dasuk, roda perekonomian warga desa sebetulnya mudah digerakkan melalui media kesenian berbasis warga. Harapan ini kiranya tidak berlebihan jika di Madura ada pekerja seni yang bersedia menjadi talent, yang inisiatif maupun komitmen sosialnya bisa kita jadikan model untuk projek kesenian berbasis warga desa. Pada saatnya inisiatif warga akan muncul, setelah ikut menjadi bagian dari kerja-kerja transformatif yang dilakukan oleh para pekerja seni. Selain itu, semangat kebersamaan di antara warga dapat dipelihara agar di masa rawan isu-isu memecah belah yang begitu mudahnya menghilangkan akal sehat bisa diatasi.

Tak penting benar seni serta pertunjukan jenis apa yang disuguhkan, karena warga desa dalam tahap ini sebetulnya terdorong oleh kebutuhan interaksi secara langsung. Nyapar, dan desa-desa lainnya di Madura yang memiliki tipikal teritori tegalan, kualitas pergerakan sosial selalu disanggah oleh aktivitas yang bergerak ke arah aktualitas yang intim. Selain pengajian, dangdut, tayub, ludruk, kerapan sapi selalu menjadi cara paling mudah sebagai selingan tetap setelah warga desa bosan menghabiskan episode-episode tangisan bersama sinetron di layar televisi yang menguras air mata.

Televisi yang menawarkan tontonan satu arah, bukan satu-satunya hiburan yang dengan mudah dapat tercerabut tradisi yang sudah berurat berakar di masyarakat. Meskipun channel televisi bisa diganti sesuka hati, tapi rasa bosan dan kebutuhan individu sebagai diri untuk ditonton—beraktualitas juga tinggi. Bagi saya sama pentingnya ia dengan hasrat untuk didengarkan, dihargai dan dihormati. Televisi tidak memberikan hal tersebut, sehingga seseorang perlu beraktualitas dengan intim dalam ranah apa pun. Dalam konteks ini, pekerja seni bisa masuk, berproses bersama mereka untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya yang gigantik, bahkan adikodrati.

Di kota besar, prinsip tontonan berubah, dan interaksi individu di dalamnya ikut berubah. Entertainment dan iklan menggeser tontonan sebagai komodifikasi di desa seperti Nyapar, yang diperlukan warganya tak lebih dari ruang interaksi di mana mereka bisa bertemu, bercakap, berbagi dan menghargai, untuk kemudian saling meyakini perlunya menjaga kedaulatan tradisi desanya sendiri. Sebab itu, produksi akan hiburan yang berkualitas selalu diperlukan bagi warga desa untuk menarik mereka agar tidak jatuh ke dalam passion, dan basa-basi sosial yang tidak perlu.

Dalam tujuh tahun terakhir, yang kita rasakan tekanan ekonomi telah membuat urbanisasi semakin menancapkan akarnya di desa-desa, tak terkecuali di Desa Nyapar, Dasuk, dan Madura. Warga desa semakin berpikir pragmatis, karena kebutuhan hidup yang terus naik. Meskipun harga kebutuhan pokok mungkin masih terjangkau, tetapi lapangan pekerjaan yang membuat warga desa di banyak daerah di Madura dan pulau-pulaunya sudah bosan tinggal di desanya, dan memilih merantau ke luar daerah, ke Jakarta, Arab, Malaysia atau Singapura.

Bicara Karya

Risky Julian Permana, seniman Vedio Art yang akrab disapa Ukie Junx mendapatkan giliran pertama menceritakan sebuah gesekan kecil antara generasi tua dan muda soal garapan aransemen musik tongtong dalam film dokumenternya, Harmoni Tongtong. Kelompok Dangdang Gulo di Desa Jelbudan, Dasuk, yang mencitrakan diri sebagai kelompok amatir karena baru dibentuk dalam dua tahunan ini. Para penabuhnya adalah para pemuda desa yang awalnya sama-sama menyukai petasan. Hermanto salah satu pemuda desa setempat yang kini menjadi ketuanya lalu sadar jika yang dilakukan teman-temannya kurang bermanfaat, karena buang-buang uang. Pada suatu hari, tak sengaja ketika di antara mereka ada yang main tetabuhan, gagasan untuk membuat komunitas tongtong saat itu terbentuk. Jadilah Dangdang Gulo itu. Pelan-pelan mereka kemudian mencicil membeli alat-alat musik tongtong dan secara intensif melakukan latihan.

Kelompok lainnya adalah semi-profesional, yaitu Angin Ribut. Kelompok ini sudah tidak asing di Madura, karena selalu menjadi juara setiap kali ada perlombaan tongtong. Bahkan, juri tidak bersedia lagi melakukan tugasnya memberi penilaian ketika Angin Ribut tampil, karena selalu juara, itu diakui oleh Abdurrahman ketuanya. Tidak hanya garapannya yang unggul, dekorasinya pun cukup bagus dan layak apabila Angin Ribut sering manggung di luar daerah karena suatu undangan.

Yang ingin disampaikan Ukie dalam film dokumenternya ini, sebetulnya lebih kepada spirit penciptaan aransemen yang terjadi di kalangan anak muda, yang bersemangat dan menyala-nyala. Sedangkan yang tua adalah kebalikannya. Gesekan semacam itu biasa terjadi dalam dunia kreativitas, terutama seni, seperti disampaikan pemusik Turmidi Jaka maupun budayawan Zawawi Imron dalam film tersebut. Mengenai tongtong di Madura, Helene Bouvier (45:2002) menjelaskan jika semua instrumen tongtong membentuk puzzle irama yang gencar dan berpegang pada formula ritmis yang sama sepanjang permainan, dan posisi alat tetap berada dalam susunan dasar yang ditentukan oleh perkusi bernada rendah. Sedangkan simbal kecil dipukul pada setiap ketukan dan setengah ketukan, meski terkadang mendadak dijadikan triol titinada berbendera satu, bahkan dijadikan susunan satu titinada berbendera satu-dua dan berbendera dua-satu titinada berbendera satu.

Film pendek ini secara dekopasional berhasil mengangkat jejak sejarah pergumulan musik tongtong di Madura, yang di beberapa kabupaten di Pulau Garam tersebut berbeda pelafalan dan penyebutannya; ada guwar, daul, dungdung, dan tongtong. Film dokumenter ini cukup menambah referensi pengetahuan mengenai kesenian tradisi yang masih bertahan di Madura.

Parmin Ras menggarap lakon drama tari berjudul The Last Rato yang ditampilkan di bagian terakhir acara. Dalam karyanya ini, ia mengangkat penggalan kisah epik si politikus gaek Banyak Wedi alias Arya Wiraraja yang dalam versi ini konon dibakar bersama kerajaannya di daerah Lumajang. Parmin menghadirkan firing berbentuk lingkaran raksasa di tengah ladang yang apinya berkobar besar di akhir pertunjukan. Ada sepuluh aktor perempuan dan lelaki menirukan gerakan-gerakan pesilat seraya memainkan daun pisang di tangannya seperti tombak dan pedang. Semakin cepat mereka memainkan jurus-jurus yang dikombinasi dengan gerakan tari, semakin membubung jilat-jilatan api ke udara. Asap putih bergulung-gulung bercampur debu-debu merah dari kaki, sabetan, serta pukulan para aktor yang bergerak chaos.

Ketika suara musik yang dimainkan dalam tempo konstan dan sorot lampu merah, jingga serta kekuningan mengarah ke tengah lapangan, tepat kepada payung kebesaran yang sudah terbakar, suasana mendadak menjadi mistis dan mendebarkan. Para penari yang terjebak di dalam api, di beberapa menit berikutnya telah bergerak perlahan demi perlahan. Tapi bunyi musik tongtong Dangdang Gulo masih dimainkan dengan nada-nada yang ganjil. Suasana berubah saat koreografer memasuki lapangan seraya mengajak aktor-aktornya melakukan sembah empat arah kepada penonton.

Daun pisang dipilih oleh Parmin sebagai komunikasi semiotik kepada penonton untuk merenungkan kembali kehidupan kosmos yang terlalu fana dan ringkih. Manusia harus belajar dari daun pisang yang mudah sobek agar sifat arogansi serta syahwat politik kuasanya tidak terlalu kelewatan. Tragedi Arya Wiraraja yang luluh lantak oleh api bersama kerajaannya, sesungguhnya merupakan tragedi kemanusiaan yang jamak terjadi, yang tidak kalah getir dan pahitnya dari tragedi pada karya-karya Sophokles, maupun sejarah Orde Baru yang tumbang setelah 32 tahun merampas kedaulatan warga negara Indonesia.

Berbeda dari Parmin Ras yang bermain di lapangan utama yang besar, Nunung Deni Puspitasari memanfaatkan panggung kecil bersama sembilan aktornya. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat repertoar pendek bertitel Rit(us) Laut, atau di Madura dikenal sebagai rokat tase’. Repertoar Nunung hendak menyoal isu-isu yang berdimensi lingkungan--laut. Sebelum pertunjukan diangkat ke atas panggung, ia bersama aktornya telah berkali-kali melakukan observasi dengan kelompok nelayan di Desa Pasongsongan guna memetakan isu tersebut ke dalam struktur pengadeganan pertunjukannya. Dari mereka pula Nunung menemukan sudut pandang bahwa para nelayan di laut utara Sumenep, memperlakukan laut tidak berbeda dari petani memperlakukan ladangnya.

Perempuan yang diperankan Nunung sendiri, membawa setangkup dupa yang ditebarkan di antara tujuh lelaki pendayung yang keluar dengan cara melompat dari sela-sela penonton. Kemudian, membentuk komposisi merapat, dan bergerak seperti menaiki perahu dengan dayung di tangannya. Demi menjaga harmoni dan kekompakan, para pelaut ini mendayung seraya berteriak ultra jud jud ahh dengan cara diulang-ulang. Gerak repetitif dalam beberapa detik pun diperagakan untuk menyampaikan semangat kehidupan gotong royong para pelaut ketika bahu-membahu menaik-turunkan perahu dari darat ke laut. Sayup-sayup penggalan lagu abantal omba’ asapok angen (berbantal laut berselimut angin) mengiringi gerakan Nunung saat menebarkan dupa di antara pelaut yang juga bergerak mundur. Di atas bagan piramida, dua aktor (Helmi dan Andi) berkostum sampah, naik turun dengan aksi akrobatik. Penonton berteriak-teriak karena khawatir bagan piramid dari bambu yang dibebat pelepah pisang tersebut hancur.

Baik Parmin Ras maupun Nunung Deni Puspitasari, mengetengahkan prosedur-prosedur sosial yang diekstraksi sebagai pertunjukan teater dan drama tari mereka. Meskipun terkadang banyak terjadi gagasan besar tidak bisa diturunkan sepenuhnya ke dalam pertunjukan. Namun hal tersebut yang kadang terus menyemangati ragam eksperimentasi penciptaan dalam kesenian modern, baik dalam tari dan teater. Rokat tase’ yang disajikan Nunung dalam repertoarnya boleh jadi memang akrab di telinga warga desa, terutama pesisiran karena setiap musim-musim menjelang pancaroba para nelayan di pesisir Madura selalu mengadakan ritual tersebut. Namun pertunjukan yang dibentuk melalui resonansi tubuh, gerakan, teriakan, tanpa dialog sedikit pun yang bisa menjahit alur cerita, sangatlah tidak akrab dengan tradisi warga desa yang lebih dulu mengenal ludruk, topeng dalang, dan pesan hitam-putih dalam suatu pengajian di masjid atau di rumah-rumah warga. Warga desa juga sama sekali tidak pernah membayangkan bagaimana cara kerja semiotika visual yang menjadi aparatur pertunjukan tari atau teater di dalamnya.

Sementara perupa Budi Sutrisno memanfaatkan bamboo art sebagai instalasi dan mengubah ladang jagung menjadi panggung pertunjukan terbuka. Penonton yang menyaksikan akan dimanja dengan instalasi bambu yang dibebat pelepah pisang untuk meracik kontras antara ladang dan suasana suatu kerajaan, sekaligus panggung teater. Tidak hanya itu, karya rupa berupa mural dan tiga dimensi kepala harimau sebesar tong yang terbuat dari bungkus semen dicampur lem sagu, yang dililitkan pada bambu dan dibentuk kepala harimau cukup menarik anak-anak, karena ukurannya yang jumbo.

Ragam karya rupa yang berbasis lingkungan tersebut materialnya diambil dari lingkungan, ada gelas plastik, bambu, daun pisang, teletong sapi, dan sampah. Budi selalu yakin bahwa karya yang baik pasti berangkat dari lingkungan. Ada banyak hal yang bisa didapatkan setelah menikmati pertunjukan Festivart Tanah Merah ini. Di antaranya, bagaimana kita mendorong warga desa menciptakan kebudayaannya sendiri dari ladang jagung dan mendudukkannya sebagai subjek pencipta kebudayaan.

Ketika hiburan disusun, dan penciptaannya dibentuk dari epistemologi kerakyatan, kemampuan didaktik merebut ruang publik maupun keramaian seyogianya merupakan zoom-in ke dalam peristiwa budaya yang lebih besar. Ladang jagung adalah ruang bagi petani di Desa Nyapar untuk menjaga kelestarian kehidupan mereka. Tontonan yang baik tidak hanya menyuplai rangsangan perlunya hiburan yang baik, tapi sekaligus pergerakan ’dapur’ mereka agar terus menyala. Benarkah? 

*)Pekerja dan penikmat seni. Tinggal di Dungkek, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia