Sabtu, 22 Sep 2018
radarmadura
icon featured
Features

Dagangan Orang Madura di Makkah Laris Manis

Kamis, 02 Aug 2018 17:31 | editor : Abdul Basri

LARIS MANIS: Ketua Kloter 11 jamaah haji asal Sumenep Ibnu Hajar (kaus pendek putih) saat berbelanja jajanan khas Madura di Makkah, Rabu (1/8).

LARIS MANIS: Ketua Kloter 11 jamaah haji asal Sumenep Ibnu Hajar (kaus pendek putih) saat berbelanja jajanan khas Madura di Makkah, Rabu (1/8). (IBNU HAJAR FOR Radar Madura/JawaPos.com)

MAKKAH – Musim haji menjadi momen yang penuh berkah bagi warga Indonesia yang sudah bermukim di Makkah. Selain bisa berinteraksi dengan sesama penduduk nusantara, para mukimin (sebutan bagi warga Indonesia yang bermukim di Makkah) juga bisa berjualan makanan. Terutama makanan siap saji dengan menu khas Indonesia.

Ketua Kloter 11 jamaah haji asal Sumenep Ibnu Hajar menuturkan, setiap hari banyak warga Indonesia, termasuk dari Madura, yang berjualan makanan. Mereka menggelar lapak di dekat hotel pemondokan jamaah haji asal Indonesia. Menu yang tersaji pun nyaris sepenuhnya makanan-makanan khas Nusantara.

”Di tempat tersebut ada yang jualan jajanan Indonesia. Mulai onde-onde, te-ote, rap-orap, nasi pendhang, dan lain sebagainya,” kata Ibnu Hajar kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Rabu (1/8). ”Nuansanya sama seperti pasar pagi di Sumenep,” tambahnya.

Ada banyak tempat berjualan makanan khas Indonesia. Salah satunya di depan hotel nomor 410 yang menjadi tempat pemondokan jamaah haji Indonesia. Di tempat tersebut terdapat beberapa pedagang asal Pamekasan dan Bangkalan yang berjualan makanan.

”Salah satu pedagangnya bernama Sulami asal Bangkalan. Dia sudah 10 tahun tinggal di Arab Saudi, dan setiap musim haji selalu panen rezeki dari berjualan makanan khas Indonesia,” tegasnya.

Menurut Ibnu, hasil penjualan yang diperoleh Sulami cukup besar. Dalam satu musim haji dia bisa memperoleh laba bersih sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Sebab, setiap hari dagangannya selalu diserbu jamaah haji asal Madura.

”Dagangan Bu Sulami selalu ramai. Itu terjadi setiap pagi setelah salat Subuh. Ramainya luar biasa,” jelas pria yang suka menulis puisi itu. ”Saat ditanya dari mana Bu Sulami mendapat bumbu makanan Indonesia? Katanya, di Arab Saudi ada pasar Indon alias pasar Indonesia. Sehingga, mereka tidak kesulitan untuk mencari bahan untuk membuat masakan khas Indonesia,” tukas Ibnu.

Sementara itu, seorang jamaah haji asal Kecamatan Gapura, Sumenep, Afif Makruf mengaku rutin membeli makanan khas Indonesia. Nasi berlauk pindang merupakan menu favorit yang dia beli setiap pagi. Nasi tersebut menjadi menu yang dirindukan para jamaah haji, termasuk dirinya.

”Karena memang dari pemerintah Indonesia sarapan paginya adalah roti. Sementara bagi orang Madura, kalau belum makan nasi kan seperti belum sarapan,” tutur penulis buku Tak Ada Cinta Buat Penyair itu. ”Karenanya, saya beserta jamaah haji lainnya suka beli makanan khas Madura,” tambahnya.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia