Sabtu, 22 Sep 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Anggaran Legalisasi Budaya Capai Rp 536 Juta

Senin, 23 Jul 2018 11:26 | editor : Abdul Basri

BUDAYA: Dua pasang sapi adu cepat dalam karapan di Lapangan Priuk, Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, beberapa waktu lalu.

BUDAYA: Dua pasang sapi adu cepat dalam karapan di Lapangan Priuk, Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, beberapa waktu lalu. (Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Kabupaten Sampang memiliki kekayaan budaya dan peninggalan sejarah. Antara lain, Masjid Madegan, Makam Rato Ebuh, Pasarean Pangeran Santo Merto, rumah tradisional taneyan lanjang, dan Masjid Agung. Kemudian, Pababaran Trunojoyo dan Alquran 350 Tahun yang terbuat dari daun lontar.

Akan tetapi, belum semua dipatenkan. Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang tahun ini berencana mematenkan rokat gumbek di Desa Banjar, Kecamatan Kedungdung. Anggaran yang disediakan Rp 536.388.000 untuk program pelestarian atau legalisasi budaya.

Kepala Disporabudpar Sampang Aji Waluyo menyampaikan,ritual rokat gumbek merupakan salah satu tradisi masyarakat Kedungdung sejak dulu.Budaya tersebut hanya ada di Sampang dan satu-satunya di Pulau Garam.

”Gumbek merupakan ritual penyucian senjata bersejarah yang disimpan di masjid desa setempat. Tahun ini kami sedang mengurus legalitas budaya tersebut untuk diajukan kepada Pemprov Jatim sebagai budaya asli Kota Bahari,” katanya.

Rokat gumbek sudah menjadi tradisi turun-temurun. Dilaksanakan setiap 14 dan 17 Zulhijah. Mematenkan gumbak sebagai cagar budaya merupakan salah satu cara agar tradisi tersebut tidak punah dan bisa terjaga atau dilestarikan dengan baik. ”Juga supaya tidak diklaim sebagai kesenian daerah lain,” ucapanya.

Anggaran ratusan juta itu juga untuk pelestarian situs budaya di Desa Napo Laok, Kecamatan Omben. Situs budaya di tempat itu berupa sumber air, masjid, dan tombak. Pendataan mengenai situs budaya di lokasi itu tengah dilakukan. ”Pengelolaan akan diserahkan ke badan usaha milik desa (BUMDes),” terang Aji.

Pihaknya tidak menampik jika selama ini pelestarian dan aktualisasi budaya daerah belum maksimal. Hal itu karena tenaga ahli di bidang sejarah dan kebudayaan minim. Juga, anggaran yang ada terbatas. Karenanya, banyak situs budaya dan benda peninggalan sejarah di Sampang yang belum diketahui dan terdata.

Ke depan, instansinya akan fokus mencari tempat-tempat bersejarah baru yang belum ditemukan dan diaktualisasikan. Baik berupa benda pusaka maupun situs-situs bersejarah yang lain. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas kearsipan dan perpustakaan daerah (disarpus) serta dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD) untuk melakukan pendataan.

”Kami akan membentuk tim khusus untuk mencari dan meneliti situs budaya dan benda bersejarah yang belum ditemukan. Misalnya, di Kecamatan Sokobanah dan Banyuates,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana meminta program dijalankan secara maksimal. Jika semua budaya sudah dipatenkan menjadi cagar budaya, akan mendongkrak sektor pariwisata. ”Minimnya anggaran dan tenaga ahli jangan dijadikan alasan untuk tidak mendata, mengaktualisasi, dan mengelola situs budaya,” harapnya.

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia