Jumat, 15 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Politik Pemerintahan

KH Ma’ruf Amin: Jangan Merusak Keutuhan Berbangsa

03 Juli 2018, 02: 08: 50 WIB | editor : Abdul Basri

BERI PEMAPARAN: Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengisi dialog di Pendapa Pratanu Bangkalan kemarin.

BERI PEMAPARAN: Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengisi dialog di Pendapa Pratanu Bangkalan kemarin. (BADRI STIAWAN/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

BANGKALAN – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyampaikan, Pilkada Serentak 2018 harus diwujudkan dengan aman dan damai. Sebagai bangsa yang memiliki keberagaman suku, bahasa, dan agama, seluruh rakyat Indonesia perlu saling menjaga kondusivitas.

”Indonesia merupakan negara kesepakatan. Ada tata cara memperjuangkan sesuatu. Pemecah kondusivitas keamanan dan persatuan menyalahi kesepakatan,” ujarnya di Pendapa Pratanu Bangkalan, Senin (2/7).

Pada momen Pilkada Serentak 2018 ini, dia mengimbau umat Islam menjunjung tinggi toleransi dalam menghadapi perbedaan. Tak terkecuali, perbedaan dalam memilih pemimpin. Pilkada bukan ajang mencari musuh. Berbeda pilihan sudah biasa. Perbedaan harus dihargai.

”Pilkada memilih pemimpin. Jangan merusak keutuhan berbangsa. Ukhuwah islamiyah jangan rusak gara-gara berbeda pilihan,” imbau Rais Aam, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) itu.

Di Madura ada tiga kabupaten yang memilih pemimpin. Yakni, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. KH Ma’ruf meminta masyarakat Madura menjaga persaudaraan. ”Perbedaan itu indah. Mari tetap bersatu dalam keberagaman,” ajaknya.

”Penduduk Madura 99,4 persen muslim. Tidak baik sesama saudara terpecah belah hanya karena beda pilihan saat pilkada,” lanjut ulama yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu.

Ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah madurawiyah jangan sampai rusak. Pemimpin yang dipilih hanya lima tahun. Sedangkan menjaga bangsa, negara, dan kerukunan untuk selamanya. Jika mendapat masalah, saudara dan orang terdekat yang datang membantu.

”Jangan dipecah. Boleh beda pilihan, mengampanyekan calon masing-masing, boleh. Tapi kalau sudah terpilih, kita harus bisa terima menang atau kalah,” ujar KH Ma’ruf.

Ulama kelahiran Tangerang, Banten, 11 Maret 1943, itu menerangkan, masyarakat Madura merupakan salah satu suku yang dikenal solidaritas antar sesama tinggi. Itu harus dipertahankan. ”Masak hanya masalah perbedaan pilihan dalam pilkada, persaudaraan dikorbankan. Gak lucu,” ujarnya.

Siapa pun pemimpin yang terpilih, harus diterima dengan lapang dada. Usai pesta demokrasi, tugas selanjutnya kembali bersama membangun daerah demi kesejahteraan rakyat. ”Kita kembali bergandengan tangan,” ucap KH Ma’ruf.

(mr/bad/hud/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia