Selasa, 21 Aug 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Humor Pertemuan Orang Madura dengan Gus Dur

Minggu, 01 Jul 2018 20:36 | editor : Abdul Basri

Humor Pertemuan Orang Madura dengan Gus Dur

KELAKAR telah mempertemukan Gus Dur dengan orang Madura. Sujiwo Tejo, dalang kelahiran Jember berdarah Madura, mempertemukannya dalam esai-esai yang terhimpun dalam buku ini.

Orang Madura dikenal dengan sifat keras kepala dan keluguannya. Sering juga tersirat kecerdikan dan kepandaian mengambil perspektif di balik dua sifat ini. Karakter khas orang Madura ini sering tampil dalam cerita sehari-hari penuh kelakar yang disampaikan dalam pembicaraan santai atau bahkan dalam panggung pengajian atau forum diskusi.

Banyak orang percaya, humor memiliki kekuatan yang tak dapat disepelekan. Kumpulan esai Gus Dur di Majalah Tempo diterbitkan dengan judul Melawan Melalui Lelucon (2000). Gus Dur dalam esai pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia menulis bahwa humor adalah ”sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat”. Lebih jauh, humor bagi Gus Dur juga menjadi unsur penting dalam tradisi perlawanan budaya.

Sujiwo Tejo dalam buku ini menyajikan kisah-kisah orang Madura dengan latar saat Gus Dur aktif di dunia politik, khususnya saat menjabat sebagai Presiden RI keempat. Ada kisah Pak Sutawi, pedagang bekisar dari Sumenep, yang dalam kisahnya menyentil arah reformasi yang tidak jelas. Dia menyuruh sopir pribadinya untuk mencopot stiker ”Hidup Reformasi!” di kaca mobilnya, dan menggantinya dengan poster Jennifer Lopez, lalu diberi tulisan: ”Jangan cam-macam. Pantat dia saja diasuransikan. Apalagi mobil ini!”

Selain mengkritik reformasi yang ”tak diasuransikan” sehingga jalannya tak keruan dan mengkhawatirkan, dalam kisah Pak Sutawi ada selingan kisah lucu. Di sebuah lampu merah di Malang, Pak Sutawi memprotes penjual foto presiden dan wakil presiden karena harganya sama. Menurut Pak Sutawi, mestinya foto wakil presiden harganya beda, karena kedudukannya beda.

Di bagian lain, Sujiwo Tejo juga menyelipkan pandangan orang Madura yang unik dalam salah satu esainya, yakni pandangan orang Madura tentang ayam. Sujiwo Tejo menulis bahwa alasan Gus Dur membiarkan kursi jabatan ketua Mahkamah Agung tetap kosong waktu itu karena Gus Dur khawatir orang Madura bakal marah.

Apa hubungannya? Karena sebelumnya pernah ada rombongan demonstran yang mendemo Andi M. Ghalib, ketua Mahkamah Agung sebelumnya, dengan menghadiahinya ayam. Menurut Sujiwo Tejo, di mata orang Madura ini penghinaan terhadap martabat ayam. Apalagi, hidup orang Madura menganut filsafat ayam, yaitu kar-karkar colpe’.

”Ibarat ayam, mereka mengais-ngaiskan cakar kakinya (kar-karkar) untuk menemukan yang masih bisa dimakan di antara sampah lalu mematuknya (colpe’),” tulis Sujiwo Tejo.

Etos kerja keras orang Madura di antaranya bersumber dari filosofi ini, sehingga tak heran orang Madura banyak yang hidup merantau. Di perantauan, mereka tak malu untuk bekerja sebagai pengumpul besi tua, penggali parit, tukang becak, tukang cukur, dan sebagainya.

Di salah satu esai, Sujiwo Tejo juga menulis terkait salah satu profesi yang melekat sebagai identitasnya: dalang. Saat membandingkan Gus Dur dengan Semar, Tejo menulis tentang wayang topeng Madura. Dalam wayang topeng Madura, hanya Semar yang bisa berbicara terlepas dari skenario dalang karena topeng Semar hanya tertutup di bagian separo atas.

Tejo bercerita tentang sebuah lakon yang kacau karena dalangnya bercerita tentang Raja Mandura yang kalah perang. Penonton tidak terima. Tapi Semar menjadi penyelamat. Dia nyerocos di luar skenario.

Semar berbicara tentang konflik orang Madura di Sambas. Semar memberi kilasan singkat sejarah keberadaan dan konflik orang Madura di sana, meski kemudian pembicaraannya yang berhasil menenangkan penonton menjadi melantur.

Selain mengangkat dan mengemas aspek humor yang mengandung kearifan, unsur kritik dan perlawanan, serta kebersahajaan dan kecerdasan orang Madura, Sujiwo Tejo dalam 32 esai dalam buku ini juga banyak menyisipkan informasi menarik tentang Madura, baik yang bersifat historis maupun antropologis.

Ada tentang peran Wiraraja yang menolong Raden Wijaya sebelum kelak mendirikan Kerajaan Majapahit (yang oleh Tejo diletakkan dalam konteks ”bakat” orang Madura untuk menjadi otonom dari sesuatu yang lebih besar), tentang Trunojoyo, dan tentang Syarifah Ambani (istri Cakraningrat) yang kemudian menjadi legenda Rato Ebu.

Ada banyak unsur antropologis Madura yang juga disebut dalam buku ini. Misalnya tentang kerupuk tangguk dari Kampung Pongkoran, Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, can-macanan buatan Bersoka yang terkenal, orang Madura yang suka menggunakan gigi emas, dan banyak lagi yang lainnya.

Meski bagian-bagian yang bersifat historis maupun antropologis tersebut tidak disampaikan secara luas dan mendalam, seperti juga halnya unsur humornya yang bagi sebagian pembaca di beberapa bagian mungkin masih kurang terasa kental. Tetapi, buku ini merupakan khazanah budaya yang bernilai, khususnya bagi masyarakat Madura.

Paling tidak dari buku ini kita sebagai masyarakat Madura semakin tersadar bahwa ada banyak aspek menarik yang perlu digali dari kebudayaan Madura sebagai bagian dari kerja kebudayaan. 

M. MUSHTHAFA

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia