Selasa, 21 Aug 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Gempa Terjang 116 Bangunan, 4 Ambruk, 13 Rusak Berat

Minggu, 17 Jun 2018 08:16 | editor : Abdul Basri

RINGSEK: Salah satu rumah warga Dusun Bannu, Desa Bullaan, Kecamatan Batuputih, Sumenep, ambruk setelah terkena gempa Rabu malam (13/6).

RINGSEK: Salah satu rumah warga Dusun Bannu, Desa Bullaan, Kecamatan Batuputih, Sumenep, ambruk setelah terkena gempa Rabu malam (13/6). (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Gempa bumi terjadi di ujung Ramadan 1439 H, Rabu malam (13/6). Gempa berkekuatan 4,7 scala richter itu mengakibatkan ratusan bangunan rusak. Baik rusak total, rusak berat, rusak ringan ataupun rusak sedang.

Getaran gempa tersebut dirasakan masyarakat Sumenep hingga Pamekasan. Tetapi yang merasakan dampak langsung hanya di Kecamatan Batuputih, Dasuk, dan Manding. ”Tapi yang paling parah di Desa Bullaan, Kecamatan Batuputih,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi, Sabtu (16/6).

Ada 99 bangunan yang rusak di Desa Bullaan. Kemudian, di Desa Sergang sepuluh rumah dan di Desa Bantelan satu rumah juga rusak. Tiga desa ini masuk wilayah Kecamatan Batuputih.

TRAUMA: Korban gempa bumi di Desa Bullaan, Kecamatan Batu Putih, Sumenep, tinggal di tenda pengungsian karena khawatir terjadi gempa susulan.

TRAUMA: Korban gempa bumi di Desa Bullaan, Kecamatan Batu Putih, Sumenep, tinggal di tenda pengungsian karena khawatir terjadi gempa susulan. (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

Di Kecamatan Dasuk, kata Rahman, ada lima bangunan yang rusak. Sedangkan di Manding satu bangunan dilaporkan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, yang rusak total alias ambruk empat bangunan. Kemudian, rusak berat 13 rumah, 40 rumah rusak ringan, dan 59 rusak sedang.

”Kita fokuskan dulu di Desa Bullaan. Karena di desa ini paling parah terdampak gempa,” tegasnya.

Rahman mengaku belum menghitung secara rinci kerugian material akibat gempa tersebut. Laporan dari masyarakat, angka kerugian ditaksir mencapai Rp 400 juta. ”Kerugian material persepsi masyarakat Rp 400 juta. Saya tidak tahu munculnya angka Rp 400 juta itu dari mana. Kita tidak bisa menghitung,” paparnya.

Masalahnya, lanjut Rahman, ada laporan yang butuh divalidasi ulang. Misalnya, rumah yang rusak ringan dilaporkan rusak berat. Setelah ditanya dari apa acuannya menyebut rusak berat, masyarakat mengaku menggunakan penilaian sendiri.

Karena itu, tim BPBD kemarin keliling mengecek kerusakan rumah korban gempa bumi. Validasi itu penting guna menyesuaikan dengan bantuan pascabencana. Sebab rencananya bangunan-bangunan yang rusak tersebut akan direkonstruksi ulang.

”Pascabencana, kita upayakan kerja sama lintas OPD, termasuk melibatkan TNI secara gotong royong untuk melakukan rekonstruksi terhadap rumah yang rusak,” tambah mantan sekretaris bappeda itu.

Sekretaris Desa Bullaan Suhairi menyebutkan, saat ini sebagian warga berada di pengungsian. Mereka khawatir terjadi gempa susulan. Meski demikian, tempat pengungsian korban tidak jauh dari pekarangan rumah.

”Masyarakat banyak yang tinggal di depan rumah mereka karena ada benda-benda berharga yang menurut mereka masih ada di dalam. Sehingga dia tidur di luar, tapi sekaligus mengamankan,” katanya.

Salah satu korban, Marzuna, berharap pemerintah segera memproses bantuan. Menurutnya, rumah-rumah warga sudah tidak bisa dipakai lagi. Mereka khawatir rumah mereka tiba-tiba ambruk saat ditempati.

”Banyak rumah yang terlihat masih bagus dari luar, tapi setelah masuk ke dalam rusak parah,” katanya. ”Makanya, kami berharap pemerintah benar-benar valid mendata kerusakan rumah warga,” pintanya.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia