alexametrics
Sabtu, 17 Apr 2021
radarmadura
Home > Pamanggi
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Kiai Keturunan vs Kiai Keilmuan

oleh Mohammad Suhaidi*

06 Juni 2018, 03: 55: 03 WIB | editor : Abdul Basri

Kiai Keturunan vs Kiai Keilmuan

Share this      

 SEKITAR 2014, saya dan dua teman menemui KH A. Busyro Karim di rumah dinas bupati untuk wawancara tentang kehidupan sosial kiai di Madura. Kiai Busyro memiliki banyak kesibukan karena status kebupatiannya. Kiai Busyro menerima kami dengan ramah dan tetap dengan gaya khasnya: senyum dan suasana penuh keakraban.

Yang saya rasakan saat itu: Kiai Busyro tampak tidak hanya sebagai bupati. Melainkan juga sebagai agamawan dan cendikiawan dengan cara pandang luas dan kompleks. Terutama dalam membaca dinamika kehidupan sosial kiai di Madura.

Berbagai pandangan dan pemikiran Kiai Buysro tersampaikan. Cara pandang yang dalam serta pengalaman sebagai kiai telah memberikan informasi bermakna untuk memahami kehidupan kiai yang memiliki posisi sosial sangat tinggi di tengah masyarakat. Khususnya di Madura.

Baca juga: Perbaikan SDN Tambelangan 2 Harus Selesai sebelum Ajaran Baru

Yang menarik, kiai Busyro memberikan analisis baru tentang genealogi kiai. Menurut dia, generasi kiai telah mengalami perkembangan dinamis. Status kiai tidak hanya mengacu pada faktor gen atau keturunan. Juga telah mengalami perubahan dalam paradigma yang lain. Banyak tokoh dan figur muncul di tengah masyarakat dengan latar belakang keluarga biasa. Tetapi mendapatkan posisi sosial yang tinggi di tengah masyarakat sebagai kiai.

Bahkan, menurut Kiai Busyo, saat acara seperti bahsul masail NU, banyak orang baru yang menguasai kitab kuning dan memiliki pemahaman keagamaan yang dalam. Melebihi keturunan kiai secara genealogis. Padahal, mereka bukan keturunan kiai. Tetapi, mampu menguasai khazanah dan karisma sebagaimana kiai. Masyarakat kemudian menyebut mereka sebagai ”kiai” juga.

Pandangan tersebut sangat brilian dan argumentatif. Secara langsung ataupun tidak, pemikiran Kiai Busyro telah memberikan tesis baru tentang status ”kiai” yang telah banyak dikaji peneliti. Bahwa seseorang disebut kiai karena faktor keturunan. Untuk mendapatkan sebutan sebagai kiai, lebih banyak ditentukan faktor gen keluarga besar kiai. Tetapi, kesimpulan itu ternyata tidak semua benar. Dalam perkembangannya, sebutan kiai bisa diberikan kepada siapa saja asalkan memiliki kemampuan dan karisma sebagaimana kiai.

Dalam konteks itu, status kiai yang diberikan masyarakat karena faktor keilmuan dengan menafikan faktor gen (keturunan) merupakan ekspresi paradigma baru masyarakat dalam memaknai posisi kiai. Sekaligus sebagai bentuk kritik sosial terhadap figur kiai ”keturunan” yang tidak memiliki kualifikasi keilmuan, keteladanan, dan perilaku sebagaimana menjadi identitas kiai yang substansial.

Masyarakat tidak segan-segan menyebut seseorang dari keturunan keluarga biasa sebagai kiai yang berilmu dan pengayom masyarakat. Masyarakat juga akan mudah menyepelekan keturunan kiai yang tidak mencerminkan kualifikasi sebagai kiai.

Efek Mandat Ke-kiai-an

Posisi kiai adalah mandat sosial yang diberikan kepada seseorang yang dianggap layak. Keputusan memberikan status itu berada di tengah masyarakat. Setiap individu yang disebut kiai berarti telah mendapat kepercayaan besar dari masyarakatnya untuk berperan secara terbuka dalam ruang kehidupan sosial. Peran sosial tersebut otomatis membuat kiai menjadi sosok sentral di tengah masyarakat dan menjadi sumber rujukan utama. Eksistensi kiai menjadi penentu kehidupan sosial masyarakat dengan kemampuan yang kompleks.

Status kiai harus dimaknai pada domain keilmuan yang dikuasai serta akhlak mulia yang dimiliki. Sekalipun ia bukan keturunan kiai. Sebagai status, masyarakat memiliki hak dominan untuk menganggap dan memberikan penghargaan terhadap siapa pun yang dianggap memiliki kedekatan dengan semangat ke-ulama-an untuk disebut sebagai kiai. Kemudian ditempatkan pada posisi sentral sebagai elite sosial-agama di tengah mereka.

Beberapa istilah dipakai dalam menggambarkan posisi sosial kiai di tengah masyarakat. Pertama, Clifford Geertz seperti dikutip Mohammad Baharun (dalam Bustami, 2007: xii) menyebut kiai sebagai ”makelar budaya” (cultural broker). Predikat ini karena kiai tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara verbal. Melainkan penyampaian nilai oleh kiai pada dasarnya sebagai proses transformasi yang mampu mengubah dan cara pandang umat. Kedua, Mohammad Baharun menyebut kiai sebagai ”orang yang serba bisa” (multi player), karena peranan kiai yang sentralistik dalam menciptakan wacana pada masyarakat, terutama sebagai agen keagamaan.

Secara sosial, kiai merupakan sosok yang memiliki eksistensi di tengah masyarakat. Apalagi di Madura yang notabene telah memosisikan kiai bukan hanya sebagai elite sosial. Tetapi sebagai guru yang harus digugu dan ditiru. Guru dalam konteks kebudayaan Madura menempati tangga penting dalam keyakinan sosial masyarakat yang terlegitimasi melalui ungkapan buppa’ bappu’, guru, rato (bapak-ibu, guru, dan raja/penguasa).

Kiai sebagai guru yang oleh orang Madura diyakini sebagai elite sosial dan agama, merupakan kiai dengan keilmuannya mumpuni sehingga harus mendapatkan tempat yang sangat terhormat. Masyarakat Madura telah mengalami pergeseran cukup signifikan dalam memandang sosok kiai: tidak lagi hanya diberikan kepada sosok keturunan kiai. Predikat sebagai kiai juga diberikan kepada sosok baru yang lahir bukan dari gen kiai. Yaitu, sosok kiai yang lahir dari semangat –dalam istilah Alquran– ”utul ilma derajat”.

Hal itu relevan dengan sejumlah asumsi bahwa istilah kiai diberikan karena faktor keilmuan yang dimiliki. Mungkin generasi ini bisa disebut sebagai generasi utul ilma derajat.  Yaitu, generasi kiai baru dengan kualifikasi keilmuan yang dapat menjadi pengayom sejati dalam kehidupan sosial masyarakat. Apalagi, predikat utul ilma derajat bisa didapatkan oleh sosok dari tingkat sosial mana pun dan dari keluarga siapa pun. Selama ia mampu memiliki keilmuan yang mumpuni dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan umat.

Munculnya kiai keilmuan dengan penguasaan kitab kuning yang dalam mampu memberikan peran penting setiap kajian dan diskusi keagamaan. Seperti dalam bahtsul masail, merupakan bagian dari dinamika sosial yang mulai berlaku di tengah masyarakat. Apalagi, dengan potret kehidupan masyarakat yang sudah mulai cerdas, juga akan berpengaruh terhadap paradigma dalam memandang status kekiaian seseorang.

Masyarakat berilmu lebih selektif menghormati dan menghargai sosok yang akan ditokohkan. Masyarakat juga akan memberikan penghargaan sosial terhadap sosok dari kalangan nonkiai sebagai kiai melebihi penghargaan terhadap sosok kiai keturunan. 

*)Alumnus PP Annuqayah Lubangsa Selatan. Peneliti di LPPM STKIP PGRI Sumenep.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news