Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Haflatul Imtihan Antara Gurauan dan Tasyakuran

oleh Mawardi*

23 Mei 2018, 05: 12: 01 WIB | editor : Abdul Basri

Haflatul Imtihan Antara Gurauan dan Tasyakuran

Share this      

Setahun penuh lembaga pendidikan bersama wali murid mendidik dan mengajar agar anak didik menjadi insan berakhlakul karimah dan berwawasan ilmiah. Di akhir tahun mereka mengadakan tasyakuran atas ilmu dan prestasi anak didiknya.

LEMBAGA-lembaga di Madura, khususnya lembaga pendidikan Islam, berlomba-lomba mengadakan tasyakuran ilmu melalui haflatul imtihan atau haflah akhirussanah. Rata-rata tahun ini haflah dilangsungkan setelah Ramadan. Ada sebagian yang sudah melaksanakan.

Banyak bentuk tasyakuran ilmu melalui kegiatan haflatul imtihan. Mayoritas lembaga pendidikan Islam (LPI) menggunakan model pesantren salaf. Seminggu biasanya diisi dengan berbagai macam perlombaan edukatif dan hiburan. Di puncak mereka tutup dengan pengajian akbar dan penobatan bintang teladan.

Pawai dengan berbagai macam tema berbau budaya dan agama mewarnai keseruan haflatul imtihan. Mulai siswa berbusana muslim, berpakaian adat, selebrasi para huffadz, atraksi peserta karnaval, drum band, becak hias, ul-gaul, jaran kenca’, hingga para elite profesi diperankan anak TK.

Namun, ada segelintir lembaga (LPI) di sebagian daerah (khususnya Madura) lebih fokus dalam perayaan haflatul imtihan pada sisi hiburan. Becak hias, jaran kenca’, dan drum band mendominasi pawai. Hal ini tetap patut kita apresiasi. Akan tetapi, banyak kalangan terlalu berlebihan. Seolah-oleh lupa tujuan awal haflatul imtihan untuk mensyukuri prestasi.

Pawai dengan aneka becak hias dan jaran kenca’ seakan-akan menjadi hal wajib sehingga kurang memperhatikan status ekonomi. Perasaan gengsi dikedepankan sehingga walaupun harus pusing cari uang pinjaman tetap memaksakan diri.

Perayaan tasyakuran model becak hias ini dianggap tradisi yang wajib ada. Mereka tidak sadar telah mencekik diri sendiri. Sawah dan pohon jati pun rela dijual demi mendatangkan becak hias dan hiburan lainnya. Bahkan ada yang sampai ngutang kepada tetangga. Usai acara, banyak yang hijrah ke negeri tetangga demi mencari tambahan penghasilan untuk membayar utang.

Seolah-olah pawai adalah harga diri. Padahal, lembaga tidak menganjurkan wali murid mendatangkan becak hias atau berbagai hiburan lainnya. Bahkan ada sebagian lembaga yang melarang. Lembaga menganggap perilaku tersebut terlalu menghambur-hamburkan uang.

Alangkah baiknya jika pawai model sekarang ditiadakan. Alih-alih dapat dukungan, yang ada lembaga malah diancam oleh sebagian wali siswa bahwa ia akan memindahkan anaknya ke sekolah lain jika pawai ditiadakan. Hal tersebut menjadi dilema bagi lembaga. Lebih-lebih lembaga yang muridnya pas-pasan.

Di satu sisi perayaan haflatul imtihan dengan model sekarang sudah mendekati kata ishrof. Di sisi lain mereka tidak menginginkan siswanya pindah sekolah gara-gara lembaga menghapus pawai.

Ada sisi positif yang tidak bisa dianggap remeh. Pertama, kebahagiaan yang terlihat di mata siswa dan wali siswa saat pawai. Kedua, menggugah kreativitas insan per-becak-an, drummer, dan per-kuda-an. Ketiga, mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.

Sisi negatif perayaan ini juga perlu dipikirkan. Panitia penyelenggara harus me-manage semaksimal mungkin. Lebih-lebih saat memasuki jalan raya. Jangan sampai pawai mengganggu ketertiban. Apalagi sampai membuat macet dan merusak lingkungan.

Banyak kejadian memilukan di tengah hiruk pikuk pawai. Ada ibu hamil yang terpaksa melahirkan di mobil karena tidak bisa lewat akibat jalan macet. Tidak sedikit orang sakit tambah parah karena tidak cepat mendapatkan pertolongan akibat tidak bisa cepat sampai ke rumah sakit.

Satu lagi yang mencoreng label LPI adalah ketika ada sawer-menyawer saat pawai. Dengan bangga menaburkan lembaran-lembaran rupiah kepada anak sendiri. Bukankah hal tersebut hanya menumbuhkan sifat materialisme kepada siswa atau bahkan bisa dianggap merendahkan harga diri? Bahkan ada sebagian lembaga yang mendatangkan Andika musik drum band yang menghadirkan goyangan erotis sebagian personel wanitanya. Tasyakuran model apa jika seperti itu?

Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang sedang hanyut dalam kemeriahan pawai. Namun, penyelenggara perlu dimintai pertanggungjawaban. Kurangnya konfirmasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, khususnya pihak berwajib, menjadikan salah satu kendala lembaga. Mungkin jika ada pengatur lalu lintas akan meminimalkan kemacetan.

Semua lembaga harus bahu-membahu menyukseskan acara tahunan siswa ini. Jika dianggap perlu, adakan musyawarah khusus dengan wali siswa mengenai bagaimana format pawai yang baik.

Satukan tekad dan bulatkan niat. Pawai tetap ada dengan format berbeda. Bukan menjadi keharusan bagi siswa yang lulus atau khotmil Quran. Tetapi kebolehan saja. Pawai tidak melulu dengan becak hias, jaran kenca’, dan drum band. Bisa menggunakan format lama, pawai obor, dan pawai hias bendera.

Bisa juga dengan format baru, pawai amal dengan bagi-bagi suvenir kepada pengendara atau memungut sampah dari sekian meter jalan yang dilalui. Semua bergantung pada kreativitas dan kondisi masing-masing lembaga. 

*)Santri PP. Mambaul Ulum, Ganding, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia