Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mengunjungi Kelas Literasi SDN Pamolokan 3 Sumenep

Dulu Semrawut, Sekarang Jadi Rujukan

02 Mei 2018, 03: 38: 57 WIB | editor : Abdul Basri

MENGISI HARI LIBUR: Siswa membaca buku di ruang kelas SDN Pamolokan 3, Kota Sumenep, Selasa (1/5).

MENGISI HARI LIBUR: Siswa membaca buku di ruang kelas SDN Pamolokan 3, Kota Sumenep, Selasa (1/5). (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

SUMENEP – Dua tahun yang lalu, SDN Pamolokan 3 Sumenep dikenal sebagai sekolah makam Cina. Selain jauh dari jalan raya, lokasinya memang berdekatan dengan pemakaman. Tapi kini, sekolah tersebut menjadi rujukan dari kabupaten tetangga.

Semestinya tidak ada aktivitas di SDN Pamolokan 3, Kota Sumenep. Sebab, kemarin merupakan hari libur. Tapi, siang kemarin kegiatan di sekolah tersebut tetap hidup. Beberapa siswa sibuk baca buku. Sementara guru mempersiapkan pameran Hardiknas.

Jawa Pos Radar Madura mendatangi sekolah yang terletak di Jalan Merpati Nomor 17 tersebut. Seorang guru menyambut dan mempersilakan duduk. Sesaat kemudian, koran ini diajak untuk berkeliling kelas.

Pemandangan ruang kelas di sekolah ini berbeda dengan sekolah pada umumnya. Penataan ruang tidak lagi konvensional, melainkan di-setting sebaik mungkin agar siswa betah berada di kelas.

Masing-masing kelas didesain sesuai kreativitas guru kelas dan murid. Kepala SDN Pamolokan 3 Masrur Abadi menekankan agar antara satu kelas dengan lainnya tidak sama. Desain tematik membuat siswa nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kelas I didesain sebagai gubuk baca. Gambar di dinding menampilkan sebuah gubuk, dan di bawahnya terdapat sejumlah buku. Buku-buku tersebut setiap hari dibaca oleh siswa dengan bimbingan guru.

Kelas II di-setting dengan tema pantai baca. Layaknya pantai, ada gambar pantai, pohon kelapa serta tempat duduk. Sedangkan di kelas III bertemakan taman baca dengan aneka bunga-bunga di dalamnya.

Kelas IV menampilkan tema kereta baca. Gambar yang ditampilkan layaknya kereta yang sedang berjalan. Ada tempat buku serta miniatur kereta di kelas tersebut. Kelas V bertemakan religius dengan tulisan Iqra’ Bismirobbika berbahasa Arab. Sementara kelas VI tampil dengan tema rimba baca dengan aneka gambar hewan rimba.

Kondisi ini baru terwujud dalam satu tahun terakhir. Dua atau tiga tahun sebelumnya, SDN Pamolokan 3 terlihat kumuh. Tidak ada orang luar yang tertarik untuk melirik atau mempelajari sekolah tersebut.

Masrur Abadi mencoba mendesain sekolah tersebut menjadi semenarik mungkin. ”SK mutasi saya terima awal Maret 2017. Senin saya terima SK, Rabu saya masuk ke sini,” kata Masrur menceritakan awal datang ke sekolah tersebut.

”Hal pertama yang saya lakukan, pemetaan awal. Saya potret semua sudut sekolah sebagai data awal,” tegasnya.

Secara fisik, gedung SDN Pamolokan 3 kala itu terlihat kukuh. Dari segi tampilan terlihat biasa. Yang parah justru di ruang kelas. Menurut Masrur, banyak besi tongkat pramuka atau besi bekas berserakan di kelas. Kelas serba semrawut.

Masrur kemudian menggelar rapat dengan guru. Dia menjelaskan bahwa kondisi kelas kurang representatif. Murid dipastikan tidak betah dengan kondisi ruang kelas ala kadarnya saat itu. ”Kita membedah kelas, menjadi kelas literasi,” tuturnya.

Dia menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) seperti yang sudah dicanangkan Kemendikbud. Dia juga menekankan program penguatan pendidikan karakter (PPK). Dua target ini menurutnya bisa dicapai manakala semua warga sekolah, khusunya guru dan staf, mengubah cara pandang terhadap pendidikan.

”Untuk menerapkan GLS, komponennya harus mendukung. Kita garap kelas VI terlebih dahulu. Setelah itu, baru bergerak ke kelas-kelas yang lain,” paparnya. ”Masing-masing guru kelas kita biarkan bebas berkreasi. Masing-masing kelas harus beda temanya,” tutur dia.

Pria kelahiran Blitar, 17 Juni 1972 ini juga melakukan perubahan jam masuk kelas. Jika awalnya siswa datang pukul 07.00, sejak 2017 diubah menjadi pukul 06.30. Selama 30 menit, siswa diberi pendidikan karakter dan cinta membaca.

”Senin penguatan pendidikan karakter lewat upacara. Selasa dan Kamis membaca buku nonpelajaran yang diambil dari tempat buku di ruang kelas. Kelas menjadi perpustakaan mini,” jelas lulusan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

”Rabu dan Jumat tadarus Alquran. Itu sebagai cara kami agar murid bisa membaca kitab suci dengan baik,” urai mantan Kepala SDN Pangarangan 3 tersebut.

Sabtu, tidak ada pelajaran di dalam kelas. Murid dibiarkan bermain mengembangkan bakat masing-masing. Yang hobi catur, main catur. Ada pula yang main futsal, latihan hadrah, hingga berkuda, dan latihan memanah.

Untuk gerakan literasi, awalnya butuh intervensi guru. Murid disuruh baca sambil dibimbing guru. Tapi saat ini, begitu bel pukul 06.30 berbunyi, mereka langsung membaca buku tanpa diperintah guru.

Pendidikan karakter dikemas dalam bentuk air kejujuran. Sekolah tersebut menyediakan satu galon untuk masing-masing kelas. Setiap siswa yang minum harus bayar. Satu gelas Rp 250. Jika dia bayar Rp 1 ribu, kembaliannya ambil sendiri di kotak yang sudah disediakan oleh sekolah.

Minggu pertama, ketika yang satu galon habis, uang yang terkumpul hanya Rp 6 ribu. Sekolah berkesimpulan banyak siswa yang tidak bayar. Minggu berikutnya, uang dari air terkumpul sebesar Rp 10 ribu. Tapi uang tersebut hilang.

”Ternyata hilang. Artinya uang itu ada yang nyuri. Nah ini jadi garapan bagi guru kelas untuk membimbing. Bagaimana anak bisa berlaku jujur,” katanya.

Saat ini murid sudah bayar sesuai dengan air yang dia minum. Jika minum dua gelas, bayar Rp 500. Uang yang terkumpul pun mencapai Rp 25 ribu atau lebih. Tidak ada lagi murid yang mencuri uang air di kelas.

Berkat inovasi ini, banyak pihak yang melirik SDN Pamolokan 3 Sumenep. Gladi Kusuma, organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan datang ke sekolah tersebut. Mereka melakukan survei sekaligus membuat video dokumenter.

Pada September 2017, tim dari Inovasi untuk Anak Indonesia (Inovasi) Jakarta datang melakukan survei ke SDN Pamolokan 3. Mereka datang lagi pada April 2018. Kedatangan yang kedua kalinya ini dalam rangka survei lanjutan dan tes membaca bagi murid. Puncaknya, pada 26 April 2018, SDN Pamolokan 3 ditetapkan sebagai lima besar sekolah inovasi di Jawa Timur.

Capaian SDN Pamolokan 3 memang tidak begitu populer. Tetapi, apa yang dilakukan sekolah ini membuat kabupaten tetangga tertarik belajar. Meski total murid dari kelas I–VI hanya 66 orang, tapi sekolah ini jadi rujukan. Sudah ada puluhan kepala sekolah dari Kabupaten Pamekasan yang melakukan studi banding ke SDN Pamolokan 3 Sumenep.

”Pertama, ada rombongan 20 kepala sekolah se-Pamekasan. Kemudian datang lagi 26 kepala sekolah se-Kecamatan Tlanakan. Setelah itu, 50 kepala sekolah se-Kecamatan Pakong juga datang ke sini,” jelas pria yang sejak 1977 menetap di Sumenep tersebut.

Inovasi yang diterapkan oleh Masrur ini didukung oleh guru. Muzahro, guru kelas VI, mengatakan bahwa banyak yang berubah setelah SDN Pamolokan 3 dipimpin Masrur. Baik perubahan dari segi fisik ataupun komponen pendukung pendidikan lainnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ernawati, guru kelas I. Baginya, kedisiplinan warga sekolah semakin kuat sejak satu tahun terakhir. Guru yang awalnya datang pukul 07.00, kini lebih awal lagi. ”Guru dan murid sama-sama datang lebih awal,” paparnya.

Sementara bagi murid, perubahan ruang belajar juga tambah menyenangkan. Siswa kelas VI Muhammad Haris Ahmad Jauhari mengaku bangga dengan sekolahnya saat ini. Dia lebih betah berada di kelas dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. ”Sekarang saya tambah rajin baca buku,” ucapnya.

(mr/mam/hud/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia