Rabu, 19 Sep 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Bupati Sampang Kecewa Perkembangan Peserta Didik

Sabtu, 03 Feb 2018 07:00 | editor : Abdul Basri

BERDUKA: Ribuan warga mengantarkan jenazah Achmad Budi Cahyanto dari Masjid Al-Hidayah ke pemakaman di Jalan Jaksa Agung Suprapto Sampang, Jumat (2/2).

BERDUKA: Ribuan warga mengantarkan jenazah Achmad Budi Cahyanto dari Masjid Al-Hidayah ke pemakaman di Jalan Jaksa Agung Suprapto Sampang, Jumat (2/2). (GHINAN SALMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Budi jadi korban murid tak berbudi. Begitu yang menimpa guru bernama lengkap Achmad Budi Cahyanto. Dia meninggal dunia setelah menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan muridnya sendiri.

Peristiwa itu terjadi saat jam pelajaran sesi terakhir di SMAN 1 Torjun, Sampang,  Kamis (1/2). Saat itu Budi mengajar mata pelajaran seni rupa dengan materi seni lukis kelas XII di halaman. Kemudian sang guru membagi siswa secara berkelompok. Sesuai perjanjian, siswa dilarang menganggu kelompok lain.

Sanksinya, bagi siswa yang melanggar akan dicoret menggunakan cat lukis di bagian pipi. Ternyata, siswa berinisial HZF, 17, tidak mendengarkan. Siswa kelahiran 2001 asal Kecamatan Torjun itu malah mengganggu teman-temannya dengan mencoret-coret lukisan mereka.

Teguran sang guru tidak dihiraukan. Bahkan, semakin menjadi-jadi. Budi menindak siswa tersebut dengan mencoret pipinya dengan cat lukis. HZF tidak terima dan memukul gurunya itu.

Tindak kekerasan berusaha dilerai oleh sejumlah. Guru Budi kemudian dibawa ke ruang guru. Di tempat itu dia menjelaskan duduk perkaranya kepada Kepala SMAN 1 Torjun Amat. Setelah itu, Budi dipersilakan agar pulang lebih awal.

Pengakuan adik kandung Budi, Siti Choirun Nisak Ashari, setiba di rumah dia sempat salat. Setelah itu tidur. Kakak kandung perempuan 25 tahun itu tidak menceritakan peristiwa pemukulan oleh siswanya di sekolah.

Tetapi, saat itu Budi mengerang kesakitan di bagian leher. ”Mas Budi hanya mengucapkan kata ’sakit’ berkali-kali dan menyampaikan bahwa dia dipukul muridnya. Tetapi, saat ditanya siapa nama murid yang memukulnya, jawabannya tidak jelas,” ucap Siti Choirun.

Pukul 17.00, Budi dibawa ke RSUD Sampang. Oleh pihak rumah sakit pelat merah itu Budi dirujuk ke RSUD dr. Soetomo. Pukul 21.40 guru yang juga seniman itu dinyatakan meninggal dunia.

Jenazah dimakamkan Jumat (2/2) sekitar pukul 09.18 di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Dusun Pliyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang. Sebelum dimakamkan, jenazah Budi disalatkan di Masjid Al-Hidayah yang berdekatan dengan tempat peristirahatan terakhir almarhum.

Ribuan warga mulai dari guru, siswa, seniman, dan pejabat mengantarkan ke pemakaman. Praktis, Jalan Jaksa Agung Suprapto sempat menjadi lautan manusia. Mereka memberikan doa-doa terbaik untuk almarhum.

Kasatreskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto menerangkan, pihaknya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di SMAN 1 Torjun. Sekaligus meminta keterangan kepada sejumlah saksi untuk mendukung pemeriksaan kasus tersebut.

”Tersangka sudah kami amankan Kamis malam sekitar pukul 24.00. Saat ini berada di Polres Sampang. Statusnya kami tetapkan sebagai tersangka,” terangnya.

Menurut dia, Kamis malam pihaknya berkoordinasi dengan keluarga tersangka. Keluarga kooperatif dan menyerahkan HZF kepada polisi. Proses hukum perkara ini menggunakan sistem peradilan anak karena tersangka di bawah umur. Tersangka dijerat dengan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

”Dari segi ancaman hukuman sama, dipidana. Cuma perlakuannya, hukuman anak di bawah umur separo dari hukuman orang dewasa. Penanganannya hampir sama dengan orang dewasa,” katanya.

Bupati Sampang Fadhilah Budiono mengaku sangat prihatin dan terkejut mendengar ada murid menghajar gurunya. Sebagai pimpinan daerah, Fadhilah mengaku kecewa dengan perkembangan peserta didik di daerahnya. ”Saya tidak tahu apa faktor yang melatarbelakangi murid itu hingga tega melakukan perbuatan keji semacam itu,” katanya.

Fadhilah menyampaikan, antara kedua belah pihak sudah terjadi perdamaian. ”Sekali lagi saya sangat menyesal dengan perilaku anak didik kita. Mereka belum sadar bahwa jasa guru kepada murid sungguh luar biasa bagi bangsa dan negara,” tandasnya.

(mr/luq/ghi/bas/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia