Senin, 16 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Geliat Industri Kecil Menengah Memproduksi Batik Tulis Trunojoyo

Sudah Dipatenkan, Pemasaran Tetap Sulit

11 Desember 2017, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

KHAS LOKAL: Pedagang menunjukkan salah satu motif batik tulis yang sudah dipatenkan sebagai produk asli Sampang.

KHAS LOKAL: Pedagang menunjukkan salah satu motif batik tulis yang sudah dipatenkan sebagai produk asli Sampang. (ZAINAL ABIDIN/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

SAMPANG – Setiap kabupaten di Madura memiliki batik tulis khas. Sampang baru-baru ini getol memopulerkan batik tulis Trunojoyo. Sedikitnya sudah ada delapan motif batik tulis Trunojoyo. Enam di antaranya sudah dipatenkan sebagai batik tulis khas Kota Bahari.

Tidak banyak yang tahu Sampang memiliki delapan produk batik tulis khas. Batik tulis tersebut terkenal dengan nama Batik Trunojoyo. Batik kebanggaan warga Kota Bahari ini diproduksi kelompok perajin batik yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Yakni, di Kecamatan Kota Sampang dengan nama kelompok Shalempang dan Atin Zaini, Kecamatan Jrengik dengan nama kelmpok Barokah Jaya. Sementara di Kecamatan Camplong dengan nama kelompok Indo Busana dan Alisa. Lalu, di Kecamatan Banyuates dengan nama kelompok Nafa Brother dan Lima Bersaudara. Satu kelompok lagi ada di Pulau Mandangin yakni Berdikari Jaya.

Sebagian hasil produksi sudah dipatenkan. Meskipun kelompok-kelompok tersebut memproduksi satu jenis batik, tapi tetap memiliki ciri khas masing-masing. Mulai dari motif dan warna batik.

Salah satu kelompok industri kecil menengah (IKM) batik tulis yang produknya sudah dipatenkan yaitu karya Indo Busana di Jalan Raya Camplong milik Usman. Selain menyediakan batik tulis Trunojoyo, toko ini juga menyediakan batik cap dengan beragam motif dan warna.

Bahkan, toko yang terletak di kawasan wisata Pantai Camplong ini juga menyediakan batik ghentongan khas Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan. Menurut Usman, batik tulis Trunojoyo yang sudah dipatenkan memiliki label atau merek berwarna kuning emas.

Ciri paling mudah untuk dapat mengetahui keaslian batik tulis bisa dilihat dari gambar. Batik tulis yang asli tidak memiliki gambar yang sama dalam satu motif, garis pinggir tidak lurus, dan baunya tidak menyengat. ”Membuat satu motif batik tulis asli tidak mudah. Kalau dikerjakan sendiri, minimal butuh waktu 15 hari,” katanya.

Usman menyampaikan, dengan mengandalkan sepuluh pekerja, setiap bulan kelompoknya bisa memproduksi 30 lembar batik tulis. Dia mematok harga batik tulis Rp 250 ribu per motif. Namun, meskipun produknya sudah dipatenkan, dia mengaku kesulitan dalam hal pemasaran.

Apalagi saat ini banyak produk batik cap yang terus bermunculan. Tapi, pemkab belum bisa membantu memasarkan produk batik tulis Trunojoyo. ”Pemerintah hanya membantu mematenkan produk. Tapi, tidak untuk pemasaran. Sehingga, mayoritas perajin batik sulit memasarkan produknya,” tutur dia.

”Dalam satu bulan hanya bisa laku tiga potong. Minat masyarakat terhadap produk lokal minim. Buktinya, pejabat di Sampang lebih meminati produk batik luar daerah,” imbuh Usman.

Di tempat terpisah, Kabid Perindustrian Disperdagprin Sampang Imam Rizali mengatakan, setiap tahun pihaknya menjalankan Program Paten terhadap sejumlah produk yang dihasilkan para pelaku IKM. Di antaranya, produk makanan dan minuman (mamin), kerajinan tangan berupa suvenir, dan batik tulis.

Selain, itu pihaknya melakukan program sertifikasi halal produk. ”Kami bantu semua kelompok IKM di Sampang untuk mematenkan produk yang dihasilkan. Biayanya ditanggung pemerintah. Tapi sebelumnya, IKM harus mengajukan proposal kepada kami,” ujarnya.

Tidak semua IKM bisa mendapat bantuan paten produk. IKM batik tulis misalnya. Dari delapan produk, baru enam yang sudah dipatenkan. Yakni hasil karya IKM Shalempang, Atin Zaini, Barokah Jaya, Indo Busana, Nafa Brother, dan Lima Bersaudara.

Sementara dua produk batik tulis yang belum dipatenkan yaitu batik tulis karya Berdikari Jaya dan Alisa. Namun, kedua produk tersebut sudah masuk dalam proses pengajuan pada Program Paten 2018.

Biaya pematenan batik tulis Rp 3,5 juta per produk. Prosesnya dilakukan di Balai Besar Kerajinan dan Batik di Jogjakarta. Uji kualitas dan keaslian produk selama tiga bulan. Setelah itu, baru ditentukan apakah produk batik tulis tersebut layak dipatenkan atau tidak.

”Program Paten produk dilakukan secara bertahap. Total anggaran hanya Rp 48 juta. Itu pun dibagi menjadi dua program. Untuk paten produk Rp 24 juta dan sertifikasi halal produk Rp 24 juta. Dana berasal dari APBD,” beber dia.

”Kami memang tidak begitu maksimal dalam hal membantu pemasaran produk. Tapi, setiap IKM bisa menitipkan hasil produksi di galeri batik di kantor disperdagprin,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Sampang Fadhilah Budiono meminta agar disperdagprin bisa lebih maksimal dalam membantu pelaku IKM batik tulis untuk mematenkan hasil produksi. Tujuannya, agar tidak ada produk asli Sampang yang diklaim pihak lain.

Dia meminta agar dinas terkait bisa membantu memasarkan batik khas Sampang. Harapannya, agar usaha yang dijalankan warga bisa terus berjalan. ”Semua produk IKM di Sampang harus dipatenkan. Sebab, itu milik masyarakat Sampang,” tegasnya.

(mr/nal/hud/han/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia