Senin, 20 May 2019
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Tamar Saraseh: Seni Adalah Bentuk dari Kebebasan dan Kejujuran

02 Desember 2017, 18: 31: 49 WIB | editor : Abdul Basri

BERKREASI: Tamar Saraseh melukis di studio pribadinya di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jumat (1/12).

BERKREASI: Tamar Saraseh melukis di studio pribadinya di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jumat (1/12). (MUSTAJI/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Hujan mengguyur Sumenep saat koran ini bersiap berangkat ke kediaman Tamar Saraseh Jumat pagi (1/12). Dari Kota Sumenep melalui jalan nasional hingga Pasar Saronggi. Dari pertigaan itu belok kiri ke arah Pelabuhan Tanjung hingga Desa Saroka.

Sekitar dua kilometer ke arah timur ada lapangan sepak bola di kiri jalan. Setelah itu ada rumah dengan cat oranye dengan garasi di sisi kirinya. Rumah itu juga berada di kiri jalan arah timur. Di rumah itulah Tamar Saraseh tinggal bersama keluarga.

Pagar besi warna hitam di depan rumah itu sedikit terbuka. Saya ucapkan salam agak lantang, khawatir tidak terdengar. Lalu keluar seorang wanita dengan mengenakan long dress warna putih dan jilbab merah muda. Wanita itu menjawab salam sembari berdiri di teras.

Hujan masih lebat mengguyur saat itu. Setelah menanyakan keperluan dan mendapat jawaban, wanita itu masuk sambil memanggil Tamar Saraseh. Tidak lama berselang, orang yang dipanggil ayah itu keluar.

Dengan mengenakan sarung dan kaus dalam berwarna putih, Tamar mempersilakan masuk. ”Saya ambil baju dulu,” ucapnya setelah mempersilakan saya masuk dan duduk di kursi ruang tamu.

Saat itu, Tamar  terlihat rapi. Rambutnya yang beruban terpangkas rapi. Kesan sederhana muncul saat pertama bertatap muka. Mungkin karena dia memang bukan hanya seniman. Dia juga pengajar di SMPN 2 Saronggi. Mata pelajaran yang diampu juga seni budaya.

Tak lama berselang, dia kembali dengan mengenakan kaus warna hitam. Tetap bersarung. Sambil mengambil sebatang rokok dari meja cokelat di depan kami, Tamar memulai pembicaraan.

Tamar bukan orang baru di dunia seni. Dia menggeluti seni lukis sejak 1985 di bangku kuliah. Pria 52 tahun itu lulusan Universitas Negeri Malang (UM).

Tamar belum lama ”insyaf”. Beberapa bulan lalu pria yang sudah memiliki dua cucu itu masih berambut panjang. Bahkan, pria asli kelahiran Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, itu juga mengaku sempat menggimbal rambutnya.

”Saat mengajar saya sudah tidak gimbal, tapi masih gondrong. Rambut diikat lalu saya pakai peci agar tidak kelihatan,” ungkapnya sambil tertawa mengenang masa lalu.

Saat ini, nama Tamar Saraseh sudah terkenal di berbagai negara. Karya lukisannya tersebar ke berbagai negara penikmat seni. Seperti Jerman, Swiss, dan Austria. Berbagai penghargaan kejuaraan pernah dia dapatkan.

Pada Sepetember lalu, dia berhasil memenangi tiga kejuaraan lukis internasional sekaligus. Yaitu, Iraq International Fine Art dan Gold Brazilian. ”Satunya saya lupa. Sudah nggak apa-apa. Lupakan saja, toh sudah lewat,” ucap bapak empat anak itu.

Tamar mengaku tidak memiliki aliran untuk lukisannya. Dia beralasan aliran akan membuat dia terpaku pada satu gaya. ”Seni adalah bentuk dari kebebasan dan kejujuran. Saya tidak mau dalam kebebasan ini jadi terpaku pada satu gaya saja. Tapi sebenarnya itu terjadi tanpa saya sadari,” ungkapnya.

Seni lukis bagi Tamar adalah cara mengekspresikan diri. Tamar adalah sosok yang humanis. Itu dapat dilihat dari karya-karyanya yang menyiratkan pesan perdamaian. Bahkan, kritik sosial yang dia ingin sampaikan pun mengajak ke dalam keharmonisan hidup.

Seperti beberapa lukisan yang terpajang di ruang tamunya. Harmosisasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, bahkan manusia dengan binatang, tersirat dari lukisan-lukisan buatan tangan dingin pria itu.

”Ide-ide saya berasal dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang bilang karya saya ini memiliki sifat humanis. Saya tidak membantah itu. Tapi bagi saya, lukisan saya adalah kejujuran saya. Bagi saya seorang seniman harus jujur, paling tidak kepada karyanya sendiri,” ucapnya.

Obrolan kami sempat terhenti beberapa saat. Seorang gadis datang membawa dua gelas kopi untuk kami. Lalu muncul dua balita. Mereka adalah cucu kembar Tamar. Aisyah dan Ainun. Tiba-tiba tawa pecah dari mulut Tamar saaat dia sadar bahwa lupa menyalakan rokok di tangannya.

Perjalanan Tamar di dunia seni sesungguhnya tidak selancar saat ini. Titik jenuh pernah membuat dia vakum dari dunia seni lukis. Dia juga pernah vakum dari dunia seni karena sebuah kecelakaan.

”Setelah beberapa tahun saya menggeluti dunia seni lukis, saya sempat mencoba dunia sastra. Saya sering membuat cerpen. Tapi tidak lama saya kembali lagi ke lukisan. Lalu akhir 90-an kecelakaan yang membuat saya sulit berkonsentrasi selama masa penyembuhan. Akhirnya saya vakum selama lima tahun,” kenang suami Ana itu.

Dia sadar gaya lukisanya sudah berkali-kali berubah. Dalam karyanya, Tamar sering menggabungkan berbagai aliran seperti Kubis dan Impresionis. Hal itu dia lakukan untuk menciptakan karya seni yang bisa mewakili perasaannya.

Beberapa masterpiece karyanya masih tersimpan rapi di studio lukisnya di belakang rumah. Dalam ruangan 3x4  meter itu dia melahirkan karya seni. Terdapat lukisan seorang pria sedang bermain dengan beraneka macam hewan. Lalu gerombolan pria gimbal lengkap dengan vespa-nya.

”Saya suka lukisan ini. Di sini saya tuliskan ’memang tubuh dan baju kami gimbal, tapi hati kami penuh cinta dan persaudaraan’ karena menurut saya lebih baik tampilan yang urakan tapi hatinya baik ketimbang tampilan rapi tapi dengan tetangga saja tidak peduli,” begitu cara dia menerangkan makna dari lukisannya.

Dia memiliki pandangan bahwa setiap orang yang masih belajar pasti akan selalu berubah. Bukan berarti tidak konsisten. Tapi, proses pencarian memang melahirkan prilaku bosan yang positif. Begitu juga perubahan gaya lukisannya.

”Saya pikir orang yang punya kecenderungan terus menggali itu pasti pembosan. Kalau seni sudah hampir mendekati rumus jadi bosan membuatnya. Jadi ingin sesuatu yang baru. Saya pikir itu bukan hanya pelukis atau sastrawan. Semua orang yang terus belajar akan mengalami hal itu,” papar pria kelahiran 1965 itu.

Di usianya yang sudah mulai menua, dia masih memiliki cita-cita yang belum kesampaian. Tamar ingin memiliki galeri lukisan sendiri. Dia ingin karyanya dinikmati generasi sesudahnya. Minimal untuk anak cucunya kelak.

”Saya boleh mati, tapi saya ingin meninggalkan sesuatu untuk dikenang anak-cucu dan anak dan cucu dari mereka,” pungkasnya.

(mr/aji/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia