Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal
Ruang Gelap Tempat Esek-Esek Di Pantura

Rp 100 Ribu Satu Kali Main

11 November 2017, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Rp 100 Ribu Satu Kali Main

Share this      

PAMEKASAN – Kos, warung remang-remang, dan tempat lain yang berbau mesum kerap jadi sasaran petugas satpol PP. Terutama untuk wilayah perkotaan. Sedangkan untuk daerah yang jauh dari kota kurang mendapat perhatian.

Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) tak seindah yang dibayangkan. Masih ada tempat yang menjadi sarang maksiat. Seperti tempat prostitusi yang beroperasi puluhan tahun. Lokasinya berada di wilayah pantai utara (pantura).

Pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dua tempat esek-esek yang beroperasi di wilayah pantura tidak jauh dari jalan raya. Hanya sekitar dua ratus meter. Tempat itu merupakan rumah warga. 

MEMPRIHATINKAN: Jalan masuk menuju ke tempat yang diduga menyediakan perempuan pemuas pria hidung belang di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan.

MEMPRIHATINKAN: Jalan masuk menuju ke tempat yang diduga menyediakan perempuan pemuas pria hidung belang di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. (RUSYDI ZAIN/Radar Madura/JawaPos.com)

Di sekitar rumah itu ada kamar-kamar seperti tempat kos. Kamar itu merupakan tempat ”eksekusi” lelaki hidung belang. Jumlah penghuni dalam satu lokasi antara 4 sampai 7 wanita.

Di desa itu terdapat dua lokasi. Lokasi pertama terdiri dari sembilan kamar dalam dua deret memanjang dari selatan ke utara. Kamar-kamar tersebut menghadap ke timur dan barat.

Di lokasi kedua juga terdiri dari sembilan kamar. Tempat ini mengharap ke utara. Jarak antara lokasi pertama dengan lokasi kedua sekitar satu kilometer.

Umur penghuni variatif karena setiap saat pekerja bisa saja berubah. Mucikari merotasi pekerja dengan tempat lain. Wanita yang bekerja di tempat A sewaktu-waktu ditemukan di tempat B.

Setiap tamu yang datang bisa langsung mengecek ”barang” yang akan dibeli untuk dipakai. Jika ada yang cocok, bisa langsung dipakai dalam kamar berukuran 3x4 meter itu. Mengenai tarif hanya Rp 100 ribu untuk satu kali main.

Tempat ini beroperasi selama puluhan tahun. ”Saya cukup kagum dengan Pemerintah Kabupaten Pamekasan yang nyata sebagai tempat melakukan maksiat tak ditutup,” sindir pemuda berinisial FA (inisial) di Desa Lesong Daja, Kecamatan Batumarmar, Kamis (9/11).

Dia mengungkapkan, dua lokasi itu sudah ada sejak dirinya duduk di kelas sekolah dasar. Sampai dia lulus sebagai sarjana, tempat itu masih beroperasi dengan bebas. Pelanggan dari dua tempat prostitusi tersebut lebih banyak para sopir di kawasan pantura.

FA mengungkapkan, dua tempat bermaksiat itu sudah bukan menjadi rahasia umum. Akan tetapi sampai sekarang pemerintah dan aparat penegak hukum belum menunjukkan taringnya. Padahal, tempat tersebut jelas meresahkan warga sekitar.

”Mewakili warga pantura, kami ingin tempat itu segera ditutup. Itu jelas sangat berdampak pada masyarakat di sekitarnya,” terangnya.

Dengan begitu, pihaknya meminta kepada Pemkab Pamekasan agar segera turun dan melakukan tindakan. Pemerintah dan aparat penegak hukum jangan hanya fokus di wilayah kota. ”Ini jelas prostitusi, perdagangan orang, masak mau dibiarkan? Ayolah pemerintah dan penegak hukum ini jangan tutup mata,” pungkasnya.

Kapolsek Batumarmar AKP Junairi Tirto membenarkan di wilayah hukumnya terdapat dua tempat lokalisasi. Pihaknya sudah berkali-kali bersama dengan muspika mendatangi tempat itu. ”Sudah berkali kali kami menegur dan meminta supaya tidak beroperasi lagi,” ungkapnya.

Setelah didatangi dan ditegur, tempat tersebut memang ditutup. Namun, satu bulan kemudian kembali beroperasi. Pekerja wanitanya datang lagi. ”Ini sebenarnya kewenangan dari satpol PP. Makanya kami akan berkoordinasi lebih lanjut nanti,” pungkasnya. 

Camat Batumarmar Khusairi mengungkapkan, muspika sudah menegur pemilik tempat prostitusi tersebut. Menurut dia, pemilik tempat memang berhenti beroperasi selama bebeberapa minggu setelah ditegur. Namun, setelah itu tempat tersebut kembali beroperasi lagi.

Maka dari itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah di tingkat kabupaten mengenai penanganan dua tempat prostitusi di wilayahnya. ”Kami tentu tidak melakukan pembiaran. Tetapi sementara ini cara kami halus,” ungkapnya.

Pihaknya berjanji untuk mengupayakan supaya tempat maksiat di wilayah pantura ditutup. Sebab, wilayah pantura sebagai ikon masyarakat agamis di wilayah Pamekasan. ”Segera kami koordinasikan. Semoga dalam waktu dekat ada penindakan,” katanya.

Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Pamekasan Yusuf Wibiseno tidak merespons upaya konfirmasi koran ini hingga tadi malam.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia