Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Gelorakan Islam sebagai Agama Ramah Budaya

23 Oktober 2017, 05: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

PENGHARGAAN: Ketua STAIN Pamekasan Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag., menyerahkan cenderamata kepada Prof. Muhammad Ali, Ph.D., sebagai narasumber di acara Iconis.

PENGHARGAAN: Ketua STAIN Pamekasan Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag., menyerahkan cenderamata kepada Prof. Muhammad Ali, Ph.D., sebagai narasumber di acara Iconis. (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Islam bukanlah rumah bagi terciptanya kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Islam merupakan agama yang ramah serta selaras dengan nilai-nilai budaya. Itulah spirit yang diangkat dalam kegiatan International Conference on Islamic Studies (Iconis) di STAIN Pamekasan.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan menguatkan diri sebagai laboratorium kajian keagamaan. Kampus negeri tertua di Madura ini terus memberikan kontribusi, terutama bagi pengembangan kajian keislaman, kebudayaan, dan perdamaian.

Terbaru, kampus yang dipimpin Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag., ini mengelar International Conference on Islamic Studies (Iconis) mulai Sabtu (21/10) sampai Minggu (22/10). Konferensi internasional kajian Islam ini merupakan yang pertama digelar di STAIN Pamekasan. Tujuannya, memperkuat khazanah keislaman serta mempertegas peran STAIN Pamekasan dalam kancah nasional dan internasional.

Ada tiga kelompok narasumber yang didatangkan dalam konferensi ini. Pertama, kelompok pakar. Yakni, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin, M.A. Kedua, Direktur Kajian Timur Tengah dan Islam di Universitas California Riverside, Amerika Serikat. Ketiga, Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, Amerika Seritak Prof. Mun’im Sirry, Ph.D.

”Tiga narasumber utama diundang untuk memberikan penekanan terkait Islam dan budaya,” ujar Mohammad Kosim. ”Kehadiran tiga narasumber ini membuat Iconis semakin bermakna,” tambahnya.

Narasumber kelompok kedua adalah mereka yang menyetorkan makalah hasil penelitian terkait agama Islam yang ramah budaya. Mereka diundang secara terbuka melalui media online. Para akademisi di Tanah Air diundang untuk mengirimkan artikel terbaiknya dan relevan dengan tema yang digagas oleh panitia.

”Dua bulan mengirim undangan kepada para akademisi di seluruh Indonesia, bahkan dunia karena diunggah di online, untuk berpartisipasi mengirim artikel sesuai dengan tema yang diusung, yakni Islam agama ramah budaya,” jelas Kosim.

”Selama dua bulan itu ternyata ada 68 artikel yang masuk dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah diseleksi sesuai persyaratan panitia, yang layak 35 naskah,” tegasnya.

Mereka itulah yang diundang untuk mempresentasikan makalah. Mereka datang dari berbagai kampus di Tanah Air. Ada yang datang dari Jogjakarta, Surabaya, Sulawesi, Kalimantan, dan daerah lainnya. Rata-rata mereka berprofesi sebagai dosen di daerah masing-masing. ”Artikel yang dipresentasikan rata-rata hasil penelitian,” paparnya.

Kosim menjelaskan, latar belakang dilaksanakannya konferensi ini. Di antaranya, Islam datang tidak di ruang hampa, melainkan di wilayah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban. Secara normatif, Islam tidak serta-merta menolak budaya yang telah berkembang sebelum Islam.

”Bahkan, jika belum didapat ketentuan hukum yang qath’i, maka adat, tradisi, atau budaya yang tak bertentangan dengan norma hukum Islam dapat menjadi sumber hukum,” jelas Kosim.

Spirit itulah yang dipegang teguh oleh panitia Iconis. STAIN Pamekasan berharap konferensi ini dapat memperkaya kajian keislaman yang terus berkembang setiap saat. Kosim berharap kegiatan ini bermanfaat bagi pengembangan Islamic Studies.

”Tekad kami, Iconis menjadi agenda tahunan, dengan kemasan yang terus-menerus diperbaiki,” ujarnya bersemangat.

(mr/mam/hud/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia