Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

Tiga Prajurit TNI Jago Menembak, Silat, dan Sepak Bola

06 Oktober 2017, 05: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Prajurit TNI AD sekaligus pesilat

DEMI NKRI: Prajurit TNI AD sekaligus pesilat asal Bangkalan Syarief Hidayatullah (kanan) dalam sebuah pendidikan di Gunung Malabar, Pangalengan, Bandung. (SYARIEF HIDAYATULLAH FOR Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

BANGKALAN – Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak selalu memegang senjata. Mereka bisa membuktikan mampu berkompetisi di bidang yang lain. Termasuk olahraga.

Kamis siang (5/10) Koptu Moh. Hasan Busri tengah mengikuti tes masuk dalam pemusatan latihan daerah di Surabaya. Prajurit TNI Angkatan Darat ini sudah malang melintang sebagai pembela negara.

Dia memiliki kemampuan istimewa di bidang olahraga. Beberapa kali menjadi wakil Indonesia dalam ajang internasional. Terutama di bidang menembak. Keahliannya ini mengantarkannya menjadi peraih medali emas dalam Kejuaraan Menembak Asia Tenggara 2016 di Vietnam.

Kini prajurit yang berdinas di Kodim 0828/Sampang tersebut tengah melakukan persiapan menuju pelatihan daerah cabor menembak Jawa Timur. ”Demi Madura dan keluarga, saya akan berbuat yang terbaik jika mendapat kepercayaan,” ungkap Koptu Moh. Hasan Basri.

Selain Hasan, ada nama Moh. Syarief Hidayatullah Suhaemi, prajurit TNI yang juga berprestasi di bidang olahraga. Kali ini di cabang olahraga pencak silat.

Pesilat andalan Bangkalan ini masih berusia 21 tahun. Namun, anggota berpangkat sersan dua itu sudah mengoleksi pundi-pundi prestasi. Syarief berdinas di kesatuan Yonhub Dithubad, Bekasi.

Kelihaiannya dalam menampilkan gerakan silat yang membuatnya masuk menjadi anggota TNI AD. ”Jujur ini bukan cita-cita saya. Tapi di sini saya bisa mengabdikan jiwa dan raga untuk bangsa,” ungkapnya.

Prestasinya di tingkat internasional cukup bagus. Di antaranya menjuarai ASEAN School Games cabang olahraga pencak silat. Dalam kejuaraan di Hanoi, Vietnam, 2009, itu Syarief turun di kategori seni tunggal putra.

Syarief memang baru berseragam loreng hijau sejak 2016. Namun dia bertekad untuk memberikan prestasi. ”Selain karena keluarga berasal dari orang-orang silat, saya juga ingin berprestasi seperti kakak saya,” ungkap prajurit kelahiran Bangkalan, 9 Februari 1996 itu.

Inspirasinya untuk menjadi seorang TNI dan meraih prestasi di bidang pencak silat lahir dari sang kakak yang juga anggota TNI. Namun, sejak awal justru tak berpikir untuk menjadi seorang prajurit. ”Awalnya saya pikir prajurit itu waktu kita terbatas. Tapi tidak pada kenyataannya,” ungkap pesilat asal Perguruan Jokotole Bangkalan itu.

Pada 2017 ini, Syarief juga meraih beberapa gelar di ajang nasional. Yaitu pada kejurnas TMII Jakarta meraih juara kedua di kategori tunggal putra. Lalu, juara pertama di Bekasi.

Sebagai atlet Syarief pernah mengalami masa-masa jenuh. Sebab, aktivitas yang dia jalani tidak sama dengan teman-teman lain. ”Mereka lebih enak. Mereka hanya sekolah, sepulang sekolah lanjut main,” ungkapnya.

Namun anak ketiga dari empat bersaudara putra pasangan Suhaimi dan Dwi Setiyaningsih itu sadar jika hasil yang diperolehnya selama ini bukanlah dengan perjuangan yang mudah. Suhaimi merupakan salah satu pendiri dan guru besar Perguruan Jokotole. Syarief rela memangkas waktu atau masa-masa bermain remajanya demi mencapai cita-citanya menjadi pesilat nasional.

Sama halnya dengan pesepak bola Madura United Moh. Rifad Marasabessy. Bek sayap andalan Timnas Indonesia U-19 ini rela kehilangan waktu bermain demi cita-cita menjadi pesepak bola andal. Memang, dia tidak lahir di Madura. Namun jiwanya sudah loreng merah-putih setelah berbaur dengan Madura United dan seluruh pecintanya.

Saat ini, pesepak bola kelahiran Tulehu, Provinsi Maluku itu terdaftar sebagai prajurit TNI AD. Namun, dia tetap bisa bermain bola karena kesatuannya sangat mendukung.

”Menjadi prajurit karena kemauan orang tua. Paman juga ada yang menjadi prajurit TNI,” jelas penggawa Timnas U-19 tersebut. Prestasinya memang baru didapatkan di ajang Piala AFF U-18 di Myanmar akhir bulan lalu.

Saat dia menjadi bek sayap andalan Timnas U-19 bersama Egy Maulana dkk, tim ini berhasil meraih juara ketiga dalam turnamen se Asia Tenggara tersebut. Saat ini dia berada di Padang bersama Madura United setelah sebelumnya membela Timnas U-19 berhadapan dengan Kamboja U-19.

Keberadaannya di Padang karena masuk dalam skema pelatih Madura United Gomes de Olivera. Timnya bertemu dengan Semen Padang di ajang Liga 1. ”Semua pesepak bola bercita-cita membela timnas. Sama dengan saya,” tandasnya. 

(mr/dam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia