Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Minim Promosi, Industri Batik Menurun

03 September 2017, 01: 29: 09 WIB | editor : Abdul Basri

TUNGGU PEMBELI: Karyawan mendata penjualan batik di salah satu galeri di Jalan Syamsul Arifin, Kelurahan Polagan, Kota Sampang, Sabtu (2/9).

TUNGGU PEMBELI: Karyawan mendata penjualan batik di salah satu galeri di Jalan Syamsul Arifin, Kelurahan Polagan, Kota Sampang, Sabtu (2/9). (ZAINAL ABIDIN/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

SAMPANG – Industri batik di Sampang menyusut. Penjualan batik di sejumlah galeri mengalami penurunan hingga 25 persen jika dibanding pada 2016. Hal itu ditengarai minimnya sosialisasi dan kegiatan pameran batik.

Atik Zaini, 45, pemilik galeri batik di Jalan Syamsul Arifin, Kelurahan Polagan, Kota Sampang, menuturkan, pada 2016 pemkab melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada UKM batik. Namun tahun ini belum jelas apakah sosialisasi dilakukan.

Dia mengaku belum pernah mendapat sosialisasi. Dia kesulitan untuk memasarkan produk dan mengembangkan UKM batik miliknya. Omzet penjualan batik semakin menurun. ”Saya melihat UKM batik di Sampang belum ada yang bisa maju dan berkembang,” katanya.

Jarang sekali digelar pameran batik. Meskipun ada, hanya segelintir kelompok usaha yang mengikuti pameran. Padahal, pameran merupakan langkah awal untuk memasarkan batik khas daerah.

”Sebebenarnya target kami di pameran. Tapi, peserta yang ikut pameran tidak berubah, tidak bergantian,” ujarnya.

Menurut dia, meningkat atau tidaknya industri batik tidak lepas dari pemasaran. Namun, kata dia, yang terjadi pemasaran batik mengalami kesulitan. Sebab penjualan berkutat di daerah sendiri.  Alhasil, pembeli hanya warga sekitar.

”Sesekali ada pembeli dari luar daerah. Itu pun karena tidak sengaja melihat toko batik saat melintas di Sampang atau mendapat  informasi dari seseorang,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah mempromosikan dan menyosialisasikan industri batik Sampang. Harapannya, perekonomian di Sampang bisa stabil dan UKM batik bisa maju. ”Perkembangannya lesu karena untuk memasarkan produk keluar daerah sulit,” keluhnya.

Kabid Perindustrian Disperdagprin Sampang Imam Rizali mengaku, sosialisasi kepada perajin dan pengusaha batik telah dilakukan. Hanya, kegiatan sosialisasi dan pembinaan dilakukan kepada sebagian perajin. ”Kalau dilakukan secara bersamaan, tidak mungkin. Jumlah UKM di Sampang banyak,” terangnya.

Pihaknya mengikutsertakan sejumlah UKM dalam pameran batik. Tapi yang perlu diketahui, UKM itu bersedia dan harus mengajukan proposal dalam kegiatan pameran. ”Kalau tidak mengajukan proposal, tidak bisa ikut dalam pameran,” jelasnya.

Pihaknya kesulitan dalam memasarkan produk batik tulis khas Sampang ke luar daerah. Dia berdalih banyak produksi batik yang lebih berkualitas dibandingkan batik Kota Bahari. ”Secara kualitas, produksi batik kita kalah bersaing. Tapi kami akan terus berupaya bekerja sama dengan pihak lain dalam pemasaran dan mendorong para perajin batik meningkatkan kualitas,” pungkasnya.

(mr/nal/hud/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia