Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Lupa Seragam dan Pinjam Celana, Salat Duha sebelum Lomba

24 Agustus 2017, 11: 53: 56 WIB | editor : Abdul Basri

BERPRESTASI: Dari kiri, Akmal, Daniel, dan Putra menunjukkan piala dan medali yang diperoleh sebagai juara SSO XVIII 2017 di SMPN 2 Bangkalan, Selasa (22/8).

BERPRESTASI: Dari kiri, Akmal, Daniel, dan Putra menunjukkan piala dan medali yang diperoleh sebagai juara SSO XVIII 2017 di SMPN 2 Bangkalan, Selasa (22/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

BANGKALAN – Siapa tak kagum dengan siswa berprestasi? Pintar, sering juara, ganteng lagi. Tidak sombong dan rendah hati. Tapi, lupa seragam jadi bumbu saat berkompetisi.

Banner besar berisi tiga foto siswa memegang piala dan berkalung medali menyambut di halaman SMPN 2 Bangkalan, Selasa (22/8). Petugas satuan pengamanan (satpam) mengantarkan kami ke ruang kepala sekolah. Lalu, Edy Haryadi selaku nakhoda di sekolah itu menemui koran ini di ruangan penuh piala dan piagam penghargaan.

Perbincangan santai dimulai. Pertama mengenai tiga siswanya yang baru kembali dari kompetisi tingkat nasional. Mereka adalah Akmal Maulana Ibrahim, Daniel Aiman Siba, dan Maulana Putra Suryana. Tiga siswa itu mengikuti olimpiade yang diselenggarakan Yayasan Darul Ulum SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang Cambridge International School (CIS) ID 113. Para siswa pilihan tersebut dikirim untuk menunjukkan kualitas intelektualnya di ajang The National Science and Social Olympiads (SSO) XVIII 2017 tingkat SMP sederajat.

Olimpiade bertajuk Cross The Crimson To United The Excellent Pioneer For The Shining Generation itu bisa ditaklukkan. Satu-satunya tim dari Madura ini menggondol juara pertama kategori ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Babak penyisihan sistem online dapat diselesaikan dengan baik. Babak semifinal digelar Sabtu (19/8). Delapan tim yang diikutkan. Rinciannya, empat tim kategori IPA (science) dan empat IPS (social). Namun dua tim yang lolos ke babak selanjutnya masing-masing kategori satu tim. Perjuangan tim kategori IPA gugur di tahap semifinal.

Sementara tim yang ikut dalam kategori IPS tampil apik hingga masuk ke grand final pada Minggu (20/8). Tim ini berhasil menyingkirkan tim dari SMP lain. Mereka itulah Akmal Maulana Ibrahim, Daniel Aiman Siba, dan Maulana Putra Suryana.

Ajang ini diakui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penghargaan yang diperebutkan berupa piala bergilir Kemendikbud. SMPN 2 Bangkalan 18 kali mengikuti ajang ini. Tapi, kemenangan baru diraih tahun ini.

Selain piala bergilir, mereka mendapatkan piala SSO, medali emas, sertifikat, dan uang pembinaan Rp 5 juta. Para juara juga mendapat beasiswa setahun ketika sudah menempuh pendidikan SMA.

Tim asal Madura yang lolos ke babak grand final hanya SMPN 2 Bangkalan. Tiga tahap pada babak grand final. Pertama yaitu presentasi, soal dalam bentuk animasi, dan soal cepat tepat. Materi yang dilombakan matematika, geografi, ekonomi, sejarah, dan pengetahuan umum.

”Suatu kebanggaan untuk SMPN 2 Bangkalan, Bangkalan, dan Madura. Kami memang tekankan siswa ikut setiap kompetisi agar tahu letak kelemahan. Sehingga terus dilakukan pembenahan,” ungkap Edy.

Sembari berbincang, tiga siswa berprestasi itu masuk ke ruang kepala sekolah didampingi seorang guru. Anis Indriati, guru pendamping mereka menyampaikan, sebelum tim berkompetisi rutin salat Duha. ”Sampai-sampai, ada yang buat tulisan salam settong dhara dan atribut dukungan kepada kami,” ungkapnya terkait dukungan siswa Madura.

Dia menceritakan, persaingan pada babak grand final cukup ketat. Total peserta seluruh Indonesia pada babak penyisihan 942 tim. Kemudian di babak selanjutnya dipilih 74 tim IPS dan 94 tim IPA. Kemudian, setiap kategori diambil lima tim untuk masuk ke grand final.

Grand final SSO XVIII kategori social tim SMPN 2 Bangkalan bertemu SMPN Pakem 1 Jogjakarta, SMPN 1 Madiun, SMPN 2 Jember, dan SMPN 1 Cluring Banyuwangi. Paling berat menghadapi tim dari Jember. Daya ingatnya luar biasa. ”Juara I kategori science diraih SMP Petra Surabaya,” ujarnya.

Tiga jenis soal kategori sosial. Matematika, bahasa Inggris, dan IPS. Akmal Maulana Ibrahim, mendapat tugas menjawab soal matematika. Pelajar 13 tahun kelas VIII asal Bilaporah, Kecamatan Socah ini juga menjawab soal ekonomi.

Kemudian Daniel Aiman Siba, bertugas menjawab soal bahasa Inggris. Siswa 14 tahun kelas IX dari Kelurahan Kemayoran ini juga menjawab soal matematika. Sementara Maulana Putra Suryana, menjawab soal IPS. Murid 14 tahun kelas IX dari Kelurahan Mlajah ini juga menjawab materi sejarah, ekonomi, dan geografi.

Banyak kesan selama mengikuti kompetisi ini. Akmal mengaku terkadang sering gagal fokus. Dia lupa membawa seragam sekolah saat babak grand final. Peristiwa ini tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

”Jadi pakek jaket Daniel. Terus pinjam celananya Putra,” ujar siswa yang akrab disapa Ula itu. Ruang kepala sekolah mendadak ramai dengan tawa.

Berbeda dengan Daniel. Dia mendadak jadi pilihan objek foto selama olimpiade. Terlebih saat timnya meraih gelar juara. Siswi-siswi dari berbagai SMP, khususnya di Madura, mengabadikan momen bersama. ”Banyak yang minta foto,” ucap Daniel malu.

”Ada juga yang chat saya di instagram. Bilang gini, ’Masih ingat aku? Yang ikut SSO. Iya ingat.’ Saya jawab gitu. Dia balas lagi. ’Tahu akun instagramnya Daniel?” sambung Ula bercerita tentang banyaknya fans temannya itu. Suasana ruang kepala sekolah kembali penuh tawa.

Lupa seragam selama kompetisi tidak hanya dialami Ula. Daniel juga. Dia pernah salah seragam waktu mengikuti lomba di SMPN 2 Bangkalan. Saat itu masih SD kelas V. Jika Daniel dan Ula sering lupa seragam, beda lagi dengan Putra. Saat kompetisi sempat berbelanja di salah satu mal. Niat ingin membeli parfum, malah menyebut merek sabun wajah.

Saat perlombaan berlangsung, mereka juga tidak bisa melupakan jawaban konyol Daniel. Kala itu soal matematika. Maksud Daniel ingin menjawab angka 8, tapi terucap 12. Anehnya, jawaban itu benar.

”Pertanyaannya tentang faktor persekutuan terbesar (FPB) dari 24 dan 36. Sudah mau jawab delapan sebenarnya. Tapi pas ngomong bilang 12,” ucap Daniel.

Menurut Ula, lupa seragam saat mengikuti lomba merupakan tanda akan menang. Itu terbukti berkali-kali. Guru mengiyakan kebiasaan seragam tertinggal berbuah kemenangan. ”Kalau pakaian seragam lengkap biasanya kalah karena terlalu percaya diri dan meremehkan lawan,” lanjut Ula.

Namun Ula, Daniel, dan Putra bukan lantas memercayai kejadian tersebut sebagai faktor bisa meraih kemenangan. Bagi mereka, belajar dan mengatur strategi menjawab soal menjadi salah satu penentu. Yang paling utama, doa orang tua, guru, dan kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

SMPN 2 Bangkalan rata-rata mendapat sekitar 100 piala per tahun baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Juli lalu, sekolah yang berdiri 1 Juli 1953 ini juga mendapat piala juara I Best of The Best Fotogenic Indonesian Model @Hunt 2017 di Jakarta. Sudah ribuan penghargaan dan prestasi yang dikoleksi. ”Jangan sombong. Jangan lupakan guru. Jangan lupakan orang tua. Tidak lupa ibadah,” pesan Edy kepada siswanya itu.

Di akhir pertemuan itu, Edy sempat menjajal tiga siswa itu terkait pelajaran matematika. Baru sesaat pertanyaan dilontarkan, dalam hitungan detik langsung dijawab dengan cepat dan tepat.

(mr/bad/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia