Selasa, 10 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Terpengaruh Teman Facebook, Pelaku Ujaran Kebencian Minta Maaf

09 Agustus 2017, 01: 29: 25 WIB | editor : Abdul Basri

MENYESAL: Barmawi, pemilik akun Facebook Rizal Ali Zain (dua dari kanan) menyalami Wakil Ketua PC NU Pamekasan RP KH. Najibul Chair usai tabayun Selasa (8/8).

MENYESAL: Barmawi, pemilik akun Facebook Rizal Ali Zain (dua dari kanan) menyalami Wakil Ketua PC NU Pamekasan RP KH. Najibul Chair usai tabayun Selasa (8/8). (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

PAMEKASAN – Ujaran kebencian di media sosial menjadi masalah krusial. Penyelesaiannya pun beragam. Mulai intimidasi hingga proses hukum. Juga cara persuasif dengan melakukan tabayun antara pelaku dengan pihak yang disudutkan.

Media sosial (medsos) ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, medsos bisa menjadi sarana edukasi, dakwah, atau tempat mencurahkan rasa rindu antarteman. Pada saat yang sama, tak jarang juga menjadi keranjang ujaran kebencian, baik bagi perseorangan atau kelompok masyarakat.

Penampakan ujaran kebencian inilah yang belakangan membumbui akun Facebook Rizal Ali Zain. Banyak pihak yang disoroti oleh akun milik Barmawi, 37, warga Desa Panaguan, Kecamatan Proppo, Pamekasan, ini. Salah satunya, Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj, Ketua PP GP Ansor KH Yaqut Cholil Qoumas, bahkan terhadap Presiden RI Joko Widodo.

Seperti yang ditunjukkan dalam statusnya pada 9 Mei 2017 pukul 11.54. Akun Rizal Ali Zain mengunggah foto KH Said Aqil Siradj. Dalam status itu dia memberikan keterangan yang membuat warga NU marah. Merasa nama baik pimpinannya disudutkan. 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Pamekasan pun memanggil Barmawi Selasa (8/8). Barmawi dimintai penjelasan atas status-statusnya di Facebook. Terutama yang menyudutkan tokoh NU. Cara ini ditempuh agar tidak perlu terjadi proses hukum atas perkara tersebut.

Mengenakan peci putih, jaket cokelat, dan sarung oranye, Barmawi mendatangi kantor PC NU Pamekasan di Jalan R Abdul Aziz. Di kantor ini, dia bertemu para kiai dan ulama. Yakni, Ketua PC NU Pamekasan KH Taufik Hasyim, Wakil Ketua RP KH. Najibul Chair, Sekretaris H. Abd. Rahman Abbas, Bendahara H. Mohammad Ramli, dan Wakil Rois PC NU Pamekasan KH Wahdi Musyaffa’.

Beberapa badan otonom (banom) NU seperti Ansor, Banser, Lakpesdam, Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH), serta kader muda NU juga hadir. Mereka menyimak seluruh isi tabayun antara para kiai dan Barmawi. Meski sempat memanas, dialog berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Dari pertemuan inilah kemudian dihasilkan dua keputusan. Pertama, PC NU Pamekasan beserta banom dan lembaga meminta Barmawi meminta maaf langsung kepada Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj di Jakarta. Sebab, ujaran kebencian itu diutarakan kepada KH Said, bukan kepada tokoh NU Pamekasan.

Namun, PC NU bertanggung jawab karena KH Said Aqil Siradj merupakan simbol organisasi. Jika simbol dihina, seluruh warga NU merasa terpukul. Terlebih jamaah NU di Pamekasan merasa paling bertanggung jawab karena Barmawi merupakan warga di kabupaten ini.

”Tadi diputuskan, yang bersangkutan melakukan permohonan langsung kepada Ketum PB NU dan Ketum PP GP Ansor. Karena beliaulah yang disinggung-singgung dan dihina oleh yang bersangkutan,” kata H. Mohammad Ramli mewakili Ketua PC NU Pamekasan KH Taufik Hasyim.

”Di samping itu, juga meminta maaf melalui media cetak, elektronik, dan media sosial,” tambahnya.

Untuk memudahkan komunikasi dengan KH Said Aqil Siradj, PC NU Pamekasan akan mendampingi Barmawi ke Jakarta. PC NU memberikan waktu seminggu agar dia segera berangkat ke ibu kota. Jika dalam seminggu Barmawi tidak juga minta maaf, dia bakal dituntut secara hukum.

”Kalau itu tidak dilakukan, sebagaimana tadi dalam pertemuan, akan dilaporkan ke Polres Pamekasan,” jelas Ramli.

Sementara itu, Barmawi mengaku menyesal atas status-status yang telah ditulisnya. Dia juga meminta maaf kepada seluruh warga NU jika selama ini dibuatnya gerah. Dia mengaku tidak pernah berpikir bahwa status-statusnya akan berdampak besar.

”Saya ini sangat menyesal dan mudah-mudahan atas kejadian ini bisa diambil hikmah. Jadi, pelajaran berharga untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, memperbaiki kesalahan yang saya lakukan,” ucapnya.

Dia juga bersedia meminta maaf langsung kepada KH Said Aqil Siradj. Dalam waktu dekat, Barmawi akan berangkat ke Jakarta. ”Dan masalah proses lainnya (hukum, Red), saya pasrahkan kepada sesepuh NU yang ada di Pamekasan,” tegasnya.

Kepada awak media, Barmawi mengaku menulis status-status yang berisi ujaran kebencian itu karena terpengaruh teman-temannya di salah satu grup Facebook. Di grup itu, banyak ujaran kebencian yang di-posting. Foto-foto ujaran kebencian terhadap Presiden RI Joko Widodo juga tersedia.

Awalnya dia tidak tahu bahwa jika mem-posting ulang foto-foto itu akan masuk pada ujaran kebencian. Karena itu, dia melakukan berulang-ulang. ”Saya terbawa dengan keadaan. Ngambil di grup lalu ditaruh di Facebook. Saya tidak kepikiran berdampak hukum,” tukasnya.

Selain meminta maaf, Barmawi menghapus akun Rizal Ali Zain. Setelah Jawa Pos Radar Madura melacak di Facebook, ternyata akun tersebut memang sudah tidak tersedia. ”Maaf, konten ini tidak tersedia saat ini,” demikian yang tertera di laman Facebook tersebut.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia