Minggu, 21 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Mereka yang Setia Lestarikan Kakaktua Jambul Kuning Abbotti Masakambin

Minggu, 23 Jul 2017 21:26 | editor : Abdul Basri

CINTA BURUNG: Usman Daeng Mangung berada di dekat papan informasi tentang kakaktua jambul kuning abbotti di Desa/Pulau Masakambing, Sabtu (15/7).

CINTA BURUNG: Usman Daeng Mangung berada di dekat papan informasi tentang kakaktua jambul kuning abbotti di Desa/Pulau Masakambing, Sabtu (15/7). (ABD. MUKSIDYANTO/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Kakaktua tua jambul kuning abbotti menjadi data tarik wisatawan asing. Pada 1980-an mencapai ribuan dan saat ini tinggal sedikit. Sisa beberapa ekor itu yang kini masih dilestarikan.

Seorang pria menunggu di pelabuhan rakyat (pelra) Dusun Ketapang, Desa/Pulau Masakambing, Sabtu (15/7). Dialah Usman Daeng Mangung yang kami hubungi sebelum berlayar dari Pulau Masalembu. Matahari saat itu sudah condong ke barat, sekitar pukul 14.00.

Perahu tidak bisa menepi karena pelabuhan tidak dilengkapi dermaga. Untuk sampai ke daratan harus basah-basahan dulu. Penumpang turun ke air laut setinggi perut orang dewasa.

Di pelra ini sudah terlihat tanda-tanda bahwa Pulau Masakambing merupakan tempat burung kakaktua jambul kuning. Itu terlihat pada banner imbauan Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI). Disitu tertulis Mari Lestarikan Kakaktua Masakambing.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) dan beberapa orang lain segera bersalaman dengannya. Perbincangan awal memulai pertemuan kami sebelum keliling pulau. ”Ayo jalan kaki sambil lihat-lihat. Mungkin ada kakaktua terbang,” katanya memulai obrolan.

Pria 47 tahun itu merupakan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim. Bapak lima anak asli penduduk setempat ini kali pertama mengajak ke rumah seorang perangkat desa.

Di beberapa samping ruas jalan terdapat papan informasi tentang pengunjung. Banyak turis asing berdatangan ke pulau ini. Mereka berasal dari Australia, Amerika Serikat, Kanada, Swedia, dan beberapa negara lain.

”Wisatawan yang datang memanfaatkan rumah warga untuk sewa. Kemudian, ngojek ke warga lokal untuk keliling Desa Masakambing. Jadi, ada dampak ekonomi kepada warga setempat,” kata Usman.

”Ini salah satu tugas saya. Mengantar pengunjung yang datang dan ingin tahu kakaktua jambul kuning abbotti yang hinggap di pepohonan,” katanya melanjutkan obrolan.

Usman kemudian mengajak kami ke area tumbuhan pohon kelapa dan randu. Dia bersuara seperti sedang memanggil seseorang. ”Kakaak, kakaaaaak,” ucap Usman sambil menengadah ke atas.

Satu kakaktua terbang. Lalu hinggap di janur pohon kelapa. Satu pasang lagi keluar sarang di ujung pohon sukun. Burung bernama latin cacatua sulphurea ini kemudian berbunyi. Sambil separo badannya keluar dari pohon dengan ketinggian sekitar 50 meter itu.

Usman semakin aktif melakukan pengawasan dan kampanye pelestarian kakaktua setelah 2011. Saat itu, petugas dari BBKSDA Jatim datang ke pulau yang dihuni sekitar 900 penduduk ini. Kali pertama, pria berkumis ini bertemu tim BBKSDA di Pelabuhan Masalembu saat akan menyeberang ke Masakambing.

Pria kelahiran 27 Agustus 1970 ini kemudian diminta mengantar tim ke lokasi kakaktua berada. Setelah itu, Usman dipercaya menjadi petugas yang setiap hari memantau burung yang hanya ada di pulau yang terletak utara Pulau Masalembu ini. Selain mengajak penduduk, pria berbadan kurus ini keliling ke hutan mangrove, pepohonan randu, kelapa, dan semak belukar.

”Orang luar banyak yang peduli dengan satwa yang ada di desa kami, masak kami selaku warga setempat tidak peduli? Masyarakat Masakambing berkomitmen melestarikan satwa kakaktua,” ujarnya.

Dari tugas itulah dia tahu bahwa kakaktua mengeram sekali dalam setahun. Biasanya, Juli ini bertelur. Paling banyak dua butir. Tidak pernah lebih. Pada November nanti baru bisa terbang.

”Tidak boleh dilihat ke tempat bersarang karena gampang stres. Baru ditahui ketika induknya sudah terbang. Apalagi mengeram di ujung pohon randu,” katanya sambil tangannya menunjuk ke sarang burung itu.

Pagi hari, kakaktua kecil jambul kuning berada di hutang mangrove. Sore kembali ke pohon randu, kelapa, dan pohon lain untuk tidur.

Usman menikah dengan Istiqomah. Hasil pernikahan dengan perempuan kelahiran 1975 ini Usman dikaruniai lima anak. Tiga perempuan dan dua laki-laki.

Si sareyang Nurul Auliya Isman, 20. Saat ini kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kedua, Alfin Salim Isman, 18. Menempuh pendidikan di SMK Kehutanan Majalengka, Jateng. Ketiga, Nurul Izzah Amaliyah Isman, 15. Mengenyam pendidikan di SMAN 1 Masalembu.

Putra keempat mereka, Haikal Abrar Isman, 13, masih duduk di bangku MTs di Masakambing. Sementara si bungsu adalah Najwa Aizzati Isman, 6. Dia masih duduk di bangku MI di Desa Masakambing.

”Selain honor dari BBKSDA, kadang jualan kepiting dan kerja serabutan lainnya. Yang penting halal,” katanya menjelaskan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

(mr/sid/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia