Selasa, 23 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Jalan-Jalan ke Pulau Kakaktua Kecil Jambul Kuning

21 Juli 2017, 00: 57: 19 WIB | editor : Abdul Basri

ROMANTIS: Sepasang kakaktua kecil jambul kuning abbotti berduaan di atas pohon randu setelah keluar dari sarangnya, Sabtu sore (15/7).

ROMANTIS: Sepasang kakaktua kecil jambul kuning abbotti berduaan di atas pohon randu setelah keluar dari sarangnya, Sabtu sore (15/7). (ABD. MUKSIDYANTO/Radar Madura/JawaPos.com)

Share this      

SUMENEP – Kabupaten Sumenep memiliki kekayaan satwa satu-satunya di dunia yang hanya ada di Pulau Masakambing. Yakni, burung kakaktua kecil jambul kuning jenis abbotti. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Madura yang akhir pekan lalu ke pulau yang termasuk wilayah Kecamatan Masalembu.

Untuk sampai sampai ke Pulau Masalembu harus menempuh perjalanan laut sekitar 12 jam dari Pelabuhan Kalianget. Perjalanan itu ditempuh koran ini Rabu (12/7) dengan naik KM Sabuk Nusantara 56. Berangkat sekitar pukul 08.17. Tiba di Pelabuhan Masalembu sekitar pukul 22.12.

Sabtu (15/7) koran ini beranjak menuju Pulau Masakambing. Pulau ini berada di sisi utara Pulau Masalembu. Pulau ini dihuni sekitar 900 penduduk.

Perjalanan laut dengan perahu nelayan memakan waktu kurang lebih dua jam. Sebab, kondisi ombak saat itu kurang bersahabat. Padahal, ketika cuaca sedang normal, hanya butuh waktu satu jam.

Saat itu banyak kapal pengangkut barang berlindung di perairan Masalembu. Koran ini bersama sejumlah warga memaksakan berlayar meski ketinggian ombak rata-rata di atas dua meter. Meski gelombang tinggi, kami tiba di pulau yang banyak berdiri rumah panggung itu.

Perahu berlabuh di perairan Dusun Ketapang sekitar pukul 14.00. Kemudian turun di laut dengan batas air sampai perut. Sebab, kondisi pelabuhan rakyat (pelra) ini tidak ada dermaga. Penumpang harus nyemplung dulu ke laut untuk sampai ke daratan.

Di Pelra Ketapang kami sudah ditunggu Usman Daeng Mangung, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim. Bapak lima anak ini asli penduduk setempat. ”Ayo jalan kaki sambil lihat-lihat. Mungkin ada kakaktua terbang,” katanya memulai obrolan.

Di pelra terdapat tulisan imbauan Mari Lestarikan Kakaktua Masakambing. Tulisan itu tertera di banner Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI). Kami kemudian bergegas menuju rumah Sekretaris Desa (Sekdes) Masakambing Nurliyustanti memberi tahu maksud kedatangan.

Setelah itu, Usman mengajak jalan ke rumah Juhriya. Perempuan 50 tahun itu tinggal di Dusun Ketapang. Dia merawat satu kakaktua yang sedang sakit. Sebab, kaki dan sayap patah karena terjatuh dari pohon rapuh saat diterpa angin kencang.

”Kami sudah empat tahun merawat kakaktua jambul kuning yang sakit ini. Tidak bisa terbang karena kaki dan sayap patah. Kami senang merawat. Semoga bisa sembuh agar bisa terbang lagi,” ujarnya ditemui di tempat rehabilitasi di samping rumahnya.

Di beberapa samping ruas jalan Desa Masakambing terdapat papan informasi tentang pengunjung. Banyak turis asing berdatangan ke pulau ini. Mereka berasal dari Australia, Amerika Serikat, Kanada, Swedia, dan beberapa negara lain. Dalam waktu dekat akan ada kunjungan turis asing lagi.

”Wisatawan yang datang memanfaatkan rumah warga untuk sewa. Kemudian, ngojek ke warga lokal untuk keliling Desa Masakambing. Jadi, ada dampak ekonomi kepada warga setempat,” kata Usman yang hampir tiap hari memantau kakaktua ini.

Di papan pengumuman itu banyak foto turis dipampang. Di beberapa foto mereka terlihat bersama warga lokal. Termasuk saat mengabadikan kakaktua lewat kamera yang dibawa. Ada foto kenangan yang dipampang.

Selama ini kedatangan mereka tidak lewat Kalianget. Mereka menuju Masakambing melalui Surabaya dan Kalimantan. Mereka kadang menginap hingga berhari-hari di rumah penduduk. Sebab, mereka ingin melihat burung berbulu putih tersebut bercengkerama saat pagi maupun sore.

Dari tempat ”kenangan” itu Usman mengajak kami ke area tumbuhan pohon kelapa dan randu. Usman memanggil seperti sedang memanggil temannya. ”Kakaak, kakaaaaak,” ucap Usman sambil menengadah ke atas.

Mendengar panggilan sang petugas khusus yang menjaga konservasi satwa di pulau ini, ada satu kakaktua terbang. Lalu hinggap di janur pohon kelapa. Satu pasang lagi keluar dari tempat mengerami di ujung pohon sukun.

Mendengar panggilan Usman, burung bernama latin cacatua sulphurea ini kemudian berbunyi. Sambil separo badannya keluar dari pohon dengan ketinggian sekitar 50 meter itu.

Usman menceritakan, pihaknya bersama warga komitmen menjaga kelestarian salah satu burung langka ini. Salah satu caranya dengan tidak menangkap burung tersebut. Jika ada pohon yang dihinggapi, seperti belimbing milik warga, rela buahnya dimakan kakaktua.

”Kini sudah tinggal 24 ekor kakaktua. Tapi, ada lima pasang yang sedang mengeram. Biasanya bulan November jika sampai menetas akan terbang,” katanya.

Dari keterangan Usman pula diketahui tidak semua telur bisa bertahan hingga menetas di sarang. Terutama pada musim angin kencang. Padahal, dulu jumlahnya mencapai ribuan. Tapi karena diburu, populasi kakaktua kecil jambul kuning kian sedikit.

Banyak kakaktua bersarang di pohon randu yang rapuh. Pada saat itu kadang batang pohon patah diterpa angin. Proses regenerasi burung ini jadi gagal.

”Burung kakaktua ini termasuk jenis hewan yang setia kepada pasangannya hingga kematian tiba,” tutur pria yang sudah puluhan tahun bertugas menjaga keberlangsungan hewan langka ini. 

(mr/sid/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia