Sabtu, 21 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Features

Menjenguk Muhammadi Riyan, Anak yang Menderita Tumor Ganas

Jumat, 22 Jun 2018 13:05 | editor : Abdul Basri

BUTUH BANTUAN: Muhammadi Riyan, penderita tumor ganas terbaring didampingi ibunya.

BUTUH BANTUAN: Muhammadi Riyan, penderita tumor ganas terbaring didampingi ibunya. (RUSYDI ZAIN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Muhammadi Riyan, 11, anak di Desa Krampon, Kecamatan Torjun, Sampang, yang menderita tumor ganas jenis intra abdomen. Saat ini Riyan hanya terbaring lemas di langgar gedek miliknya karena tak memiliki biaya untuk berobat.

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2017 terus diingat oleh Riyan. Pada momentum itu, anak yang masih duduk di bangkus kelas V SD tersebut kali pertama merasakan gejala penyakit tumor ganas di tubuhnya.

Riyan merupakan putra pertama pasangan suami istri Samiyah, 45, dan Juhari, 46. Riyan tinggal bersama orang tua dan dua saudaranya. Yakni Riyani, 7, dan Siti Mukiah, 3. Rumah yang ditempati Riyan paling sederhana di antara rumah-rumah lain di sekitarnya.

Rumah yang ditempati Riyan terbuat dari gedek. Kemarin Riyan sedang rebahan di langgar gedeknya beralaskan karpet dan bantal guling. Kedua orang tuanya keluar dan menghampiri Jawa Pos Radar Madura yang datang menjenguk.

Orang tua Riyan lalu bercerita mengenai awal mula diketahuinya tumor ganas itu. Seperti siswa pada umumnya, Riyan mengikuti latihan gerak jalan untuk perlombaan dalam rangka merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sepulang latihan gerak jalan, Riyan mengeluh nyeri di bagian paha kanan hingga perut bagian kanan. Riyan juga mengadu kepada orang tuanya mengalami sesak napas karena perutnya begah. Setelah dilihat, seperti ada benjolan di perut Riyan.

Namun, gejala nyeri yang diderita riyan tidak berlangsung lama. Kemudian, Riyan oleh orang tuanya dibawa ke tukang pijat tradisional yang dianggap mengerti mengenai perut. Hasilnya, tukang pijat meminta supaya Riyan segera diperiksa ke dokter.

Orang tua Riyan memberanikan diri datang ke RSUD Mohammad Zyn Sampang untuk memeriksa anak sulungnya itu. Setelah diperiksa dan dilakukan uji lab, Riyan divonis menderita tumor jinak.

Saat itu orang tua Riyan masih ragu. Setelah dari rumah sakit Sampang, diperiksa lagi ke RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan. Hasilnya sama. Bahkan, Riyan disarankan dibawa ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Awal Maret 2018, Riyan dibawa ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Sesampainya di sana, Riyan diminta segera dioperasi. Sebab, berdasarkan hasil lab, tumor yang ada di tubuhnya merupakan tumor ganas. ”Tiga bulan lalu anak saya dioperasi di rumah sakit Surabaya,” kata Samiyah, ibu Riyan Kamis (21/6).

Saat itu Samiyah menggunakan BPJS Kesehatan sehingga biaya yang dikeluarkan tidak banyak. Namun setelah dioperasi, oleh pihak rumah sakit diminta supaya dilakukan lab darah dan dilanjutkan kemoterapi.

Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan karena terkendala biaya. Sebab, setelah Samiyah bertanya pada pihak rumah sakit, satu kali kemoterapi biayanya lebih dari Rp 1 juta. Riyan pun dibawa pulang. Bahkan, karena tidak memiliki biaya yang cukup, jahitan operasi Riyan hanya diperiksakan secara rutin ke bidan yang ada di desa.

Dua bulan kemudian, setelah Riyan dilakukan tindakan operasi di Surabaya, muncul lagi benjolan di bagian perut sebelah kiri. Benjolan itu semakin hari bertambah besar. Saat ini sudah ada tiga benjolan di bagian perut lainnya yang mulai membesar.

”Sebelum dioperasi benjolannya tak kelihatan karena di dalam. Setelah dioperasi, keluar benjolan yang besar dan tampak,” ujar Samiyah.

Meski benjolan yang ada di tubuh Riyan semakin membesar, kedua orang tua yang memiliki tiga anak itu tak bisa berbuat banyak karena terkendala biaya untuk berobat. ”Kami tidak punya biaya. Kami kebingungan. Kami hanya membelikan obat antinyeri ke apotek untuk dikonsumsi saat Riyan merasakan sakit luar biasa,” tuturnya.

Setiap hari, Samiyah dan Juhari bekerja sebagai buruh tani untuk bisa menghidupi tiga anaknya. Mirisnya, pasangan ini tempat tinggalnya masih menumpang di rumah saudara. Menurut Samiyah, sejak dioperasi, Riyan tak bisa lagi sekolah seperti biasanya.

Riyan tidak bisa duduk dalam waktu yang cukup lama. Jika dipaksakan, Riyan akan merasakan nyeri yang luar biasa di bagian pinggang, perut, dan paha. ”Kalau ujian ikut. Soal diantarkan ke sini oleh gurunya,” ucap Samiyah. 

(mr/rus/hud/bas/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia