Sabtu, 21 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Jaringan Pertemanan Pesantren

oleh Novie Chamelia*

Rabu, 20 Jun 2018 11:23 | editor : Abdul Basri

Jaringan Pertemanan Pesantren

SALAH satu rasa syukur atas kehidupan ini saya pernah menjadi santri di pesantren. Saya memiliki jaringan pertemanan dari berbagai daerah. Ketika melakukan traveling keliling Indonesia, saya tidak pernah khawatir menginjakkan kaki di kota baru.

Jaringan pertemanan di pesantren tidak hanya mengikat interaksi sesama satu angkatan saja. Juga terjalin kuat antarkakak dan adik kelas. Inilah yang dikatakan Wasserman & Faust (1994) sebagai jaringan pertemanan yang merupakan salah satu konsep utama dalam analisis jaringan sosial. Terdiri atas 2 orang atau kelompok yang diikat kesamaan nasib dan kesamaan kesukaan (hobi).

Nasib santri di pesantren sama. Harus disiplin menaati aturan. Jika melanggar harus rela menerima ‘iqob’ (sanksi). Iqob-nya pun terkesan lucu, namun ”menyakitkan dan memalukan”. Misalnya, jika kedapatan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dalam berkomunikasi antarsantri akan kena sanksi. Pesantren mewajibkan santri berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sanksinya mengangkat papan kecil bertulisan ”Ana mufsidatul lughah” (baca: saya adalah perusak bahasa) keliling wilayah pesantren.

Belum lagi jika tidak bangun pukul 03.00 untuk melaksanakan salat Tahajud. Atau terlambat datang ke musala untuk salat wajib. Atau terlambat masuk kelas. Tiba-tiba suasana setelah salat Asar menjadi horor manakala seorang pengurus akan membacakan ”Mad’uwwah” yang berisi nama santri dalam daftar ”tersangka” untuk diadili di mahkamah (pengadilan). Sesekali terdengar suara teriakan mencekam dan sesekali suara tangisan terisak. Tak pelak suasana musala berubah menjadi angker nun menyeramkan.

Jaringan pertemanan angkatan jauh lebih kuat dibandingkan dengan jaringan pertemanan almamater. Intensitas pertemanannya jauh lebih kuat lantaran seringkali kami harus menghadapi masalah bersama. Suatu kali, tiba-tiba kami satu angkatan dipanggil dan dikumpulkan di musala oleh pengurus organisasi pesantren yang terdiri dari kakak kelas akhir. Katanya kami telah melakukan pelanggaran dan penghinaan. Kemudian, kami dijemur di lapangan dengan satu kaki.

Kami benar-benar kesakitan, kepanasan, dan marah. Kami melakukan perlawanan. Tanpa komando, kami pun bubar. Sementara pengurus hanya melongo. Malam harinya kami harus mempertanggungjawabkan ke hadapan para pengasuh putri.

Setelah lulus, jaringan pertemanan angkatan perlahan tergantikan dengan jaringan pertemanan almamater (alumni). Semua bersatu dan terikat atas nama pesantren. Benar yang dikatakann Grootaer (2002), jaringan pertemanan bagian jaringan sosial adalah sebuah kapital sosial yang mampu mengatasi persoalan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.

Misalnya, persoalan ekonomi yang berkaitan dengan jaringan kerja. Ketika seorang menerima lamaran kerja dari sesama alumni, kemungkinan besar akan diterima kerja dengan alasan ikatan kealmamateran. Satu nasib, satu pola pikir, satu etos kerja, dll. Bekerja sama dengan orang yang memiliki satu visi dan misi akan tercipta potensi keberhasilan.

Pertemanan almamater juga menjadi kapital sosial bagi saya dalam menjalin jaringan sosial di berbagai bidang. Lantaran alumni tersebar luas di berbagai bidang. Ada yang menjadi jurnalis. Ada yang menjadi dosen atau tokoh penting di perguruan tinggi. Ada budayawan atau seniman. Ada politisi atau pengamat politik. Ada pemilik atau pengasuh pesantren. Dan lain sebagainya. Jaringan sosial inilah yang saya manfaatkan sebagai kapital untuk menjalin jaringan sosial lebih luas.

Jaringan sosial diikat kepercayaan dan norma-norma. Ketika kepercayaan dilanggar, jaringan akan rusak seketika dan harus dimulai dari awal. Jika saya bermasalah dengan salah seorang dalam sebuah jaringan sosial, seluruh elemen dalam ruang lingkup jaringan tersebut juga akan terputus.

Suatu kali saya difitnah dan dituduh sebagai pribadi ”buruk” yang tidak mencerminkan alumnus pesantren. Tuduhan itu tersebar dan mengakibatkan seluruh alumni mengecap saya sebagai alumnus yang buruk. Saya menerima dan mengakui tuduhan itu. Beberapa tahun kemudian, salah seorang alumnus bersaksi. Bahwa tuduhan itu tidak benar. Semua pun berubah. Seperti awal lagi.

”Kehebatan” jaringan sosial kepesantrenan ini tercipta karena banyak kultur dalam diri seseorang (santri). Santri dari berbagai daerah membawa pengetahuan kultur daerah masing-masing dalam jaringan pertemanan. Seperti dikatakan Peter L Berger, semakin banyak kultur dalam diri seseorang, semakin banyak peluang menyelesaikan persoalan hidup.

Tak ada hidup tanpa masalah. Semua orang pasti pernah berhadapan dengan masalah. Persoalannya bukan seberapa besar masalah yang dihadapi. Tapi, seberapa cepat masalah tersebut teratasi. Hanya seseorang yang memiliki banyak kultur dalam dirinya yang segera menyelesaikan masalahnya. Atau bahkan menganggap bahwa itu bukan masalah. 

*)Alumnus Al-Amien Prenduan, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia