Sabtu, 21 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Bambang Parmadie, Penabuh Jimbe Itu Bergelar Doktor

Minggu, 10 Jun 2018 19:47 | editor : Abdul Basri

KOMPAK: Bambang Parmadie (tiga dari kanan) saat berkolaborasi dengan Turmedzi Djaka dkk dalam acara Nyare Malem e Bazar Takjil, Kamis (7/6).

KOMPAK: Bambang Parmadie (tiga dari kanan) saat berkolaborasi dengan Turmedzi Djaka dkk dalam acara Nyare Malem e Bazar Takjil, Kamis (7/6). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Berpendidikan tinggi bukan berarti harus jauh dari kesenian. Sebaliknya, wawasan luas akan menjadikan seseorang menghargai karya seni dan budaya. Itu pula yang ditunjukkan Bambang Parmadie yang tetap setia dengan alat musik jimbe meski dirinya sudah tuntas menempuh jenjang pendidikan S-3.

Bagi pengunjung acara Nyare Malem e Bazar Takjil di Perum Bumi Sumekar, Kamis (7/6), mungkin hanya fokus pada penampilan Turmedzi Djaka. Sebab, sosok yang satu ini memang sudah masyhur di Sumenep. Tetapi, ada satu orang yang minim perhatian, yakni sang penabuh jimbe, Bambang Parmadie.

Bambang Parmadie merupakan pria kelahiran Sumenep, 6 Mei 1974. Dia memang tidak terlalu populer di Sumenep. Sebab, dia kini mengabdi sebagai dosen di PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu.

Masa kecil Bambang dihabiskan di Kota Keris. Mulai dari TK Perwanida Parsanga, SDN Parsanga 2, SMPN 2 Sumenep, dan SMA di salah satu pesantren di Sumenep.

Kemudian, pada 1993 hingga 1998 dia menempuh S-1 Pendidikan Seni Musik IKIP Padang. Dia melanjutkan S-2 dengan konsentrasi Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Surakarta. Sementara program doktoralnya ditempuh di Kajian Budaya Pascasarjana FIB Universitas Udayana, Denpasar.

Sejak 1998 dia memulai karir di Bengkulu, tepatnya di SMPN 2 Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Di sekolah tersebut dia mengajar hingga 2009. Setelah itu, mulai 2010 dia menjadi dosen di PGSD FKIP Universitas Bengkulu.

Banyak karya yang dihasilkan Bambang Parmadie. Baik karya berupa publikasi artikel ilmiah ataupun karya musik. Dia juga telah menulis dua buku. Yakni, Buku Ansambel Musik Sekolah dan Buku Teori Musik Dasar.

Soal penghargaan jangan diragukan. Dia juga mendapat apresiasi dari banyak pihak. Seperti penghargaan Kreatif Seni Peduli Pendidikan. ”Pada 2008 saya mendapat penghargaan Seniman Pengembang Seni Tradisi Bengkulu,” katanya.

(mr/mam/onk/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia