Sabtu, 21 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya
Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng

Hadirin Antusias Belajar Meng-Quran-kan Diri

Jumat, 01 Jun 2018 16:16 | editor : Abdul Basri

MERIAH: Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng bersama D. Zawawi Imron di depan Masjid Jamik Sumenep, Rabu malam (30/5).

MERIAH: Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng bersama D. Zawawi Imron di depan Masjid Jamik Sumenep, Rabu malam (30/5). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Setiap orang punya cara sendiri untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat. Setiap orang juga punya cara untuk memaknai Ramadan. Bagi Cak Nun, Ramadan adalah kesempatan emas untuk belajar meng-quran-kan diri.

Masjid Jamik Sumenep tidak pernah sepi. Tetapi, pada Rabu malam (30/5) ada yang berbeda. Ribuan warga Sumenep dan luar daerah datang ke halaman masjid di Jalan Trunojoyo itu. Mereka ingin mendengar langsung ceramah Emha Ainun Nadjib.

Pada malam penutupan Pekan Tilawatil Quran (PTQ) Ke-49 LPP RRI di Sumenep, panitia mendatangkan budayawan yang biasa dipanggil Cak Nun itu ke Bumi Sumekar. Sejak pukul 19.00, ribuan warga sudah berada lokasi.

Ada yang sudah duduk mengambil tempat paling depan menghadap ke gerbang masjid. Ada yang masih duduk di Taman Adipura sembari berbincang. Suasana yang biasanya redup pun, malam itu menjadi terang benderang. Lampu hias seakan mengalahkan cahaya bulan.

Satu jam berlalu, kegiatan dimulai. Yang ditunggu-tunggu pun datang. Cak Nun yang malam itu ditemani Budayawan D. Zawawi Imron duduk di atas panggung. Menunggu giliran untuk tampil.

Sementara personel Kiai Kanjeng memilih menghabiskan waktu menunggu sambil bersantai di belakang panggung. Teriakan hadirin yang kebanyakan adalah kaum santri, terlihat dari dandanan mereka yang mengenakan songkok, sarung, dan baju muslim itu terdengar riuh melihat idola mereka berada di depan mata.

Setelah pengumuman juara lomba PTQ, giliran Cak Nun dan kawan-kawan tampil. Teriakan takbir pun bergema menyambut Cak Nun yang berjalan ke tengah panggung bersama si Celurit Emas.

Kemudian Cak Nun turut memanggil Bupati Sumenep A. Busyro Karim dan Dirut LPP RRI M. Rohanudin untuk menemani di panggung. Seperti biasa Cak Nun duduk beralaskan tikar tanpa kursi.

Bukan Cak Nun kalau tidak ada guyonan satire. Saat itu Cak Nun tidak langsung mengucapkan salam. Cak Nun justru bertanya kepada orang-orang yang datang.

”Siapa yang lebih mulia, orang yang mengucapkan salam atau orang yang menjawab salam?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat perbedaan suara di antara warga yang hadir. Padahal pertanyaan itu bisa dipastikan bukan pertanyaan politis. Kemudian, penulis buku Markesot Bertutur itu menambahkan keterangan.

”Mengucapkan salam adalah sunah. Sedangkan menjawabnya adalah wajib. Siapa yang lebih mulia? Apakah orang yang mengerjakan sunah atau orang yang mengerjakan kewajiban?”

”Puasa itu diwajibkan oleh Allah karena kalian nggak suka. Makanya diwajibkan agar tetap dilakukan. Tapi kalau yang tidak diharuskan tetap dikerjakan, bayangkan betapa cintanya orang itu kepada rasulnya?” ungkapnya.

Suasana malam itu sungguh hidup. Forum itu tidak hanya didominasi Cak Nun. Terkadang celetukan Zawawi Imron dan Bupati Busyro atau Rohanudin juga membangkitkan tawa dari penikmat forum itu.

Tema besar dalam sinau bareng malam itu adalah belajar meng-quran-kan diri. Alquran adalah wahyu dari Allah yang sempurna. Di dalamnya terkandung firman Allah untuk tuntunan umat manusia. Lalu, bisakah manusia mencapai esensi Alquran yang seperti itu?

”Bisa saja meskipun tidak sama. Artinya, esensi kebergunaan Alquran bagi kehidupan manusia itu bisa ditiru. Seberapa berguna manusia itu bagi manusia lainnya? Itu maksudnya,” jelas Cak Nun.

Pengajian itu berjalan hingga dini hari, pukul 01.30. Hingga bubar, peserta yang bertahan masih tetap berjumlah ribuan. Mereka bertahan di lokasi sejak acara belum mulai sampai acara berakhir.

(mr/aji/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia