Senin, 23 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Ra Lilur Paku Bumi Kuasai Banyak Disiplin Ilmu

Kamis, 12 Apr 2018 00:10 | editor : Abdul Basri

Ribuan umat mengantarkan jenazah KH Kholilurrahman ke pemakaman setelah disalati di Masjid Syaikhona Kholil, Rabu (11/4).

Ribuan umat mengantarkan jenazah KH Kholilurrahman ke pemakaman setelah disalati di Masjid Syaikhona Kholil, Rabu (11/4). (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Kabar duka seketika menyebar dengan cepat. KH Kholilurrahman, ulama karismatik asal Bangkalan meninggal dunia Selasa malam (10/4) sekitar pukul 22.00. Cicit Syaikhona Moh. Kholil bin Abd. Latif dan Nyai Nur Jati itu tutup umur di usia 75 tahun di Desa Banjar, Kecamatan Galis. Malam itu juga jenazah dibawa ke rumah putranya, Ra Bir Aly di Jalan Moh. Kholil, Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan.

Sepanjang Jalan KH Moh. Kholil hingga kompleks pemakaman Syaikhona Moh. Kholil di Martajasah dibanjiri manusia Rabu siang (11/4). Ribuan manusia dari berbagai kalangan mengantarkan jenazah almarhum. Jenazah almarhum dimakamkan di dekat makam Syaikhona Moh. Kholil.

KH Imam Buchori, keponakan almarhum, tidak menyangka pamannya itu akan berpulang. Pukul 20.00 sebelum mengembuskan napas terakhir, kiai yang akrab disapa Ra Lilur itu hanya pamit untuk tidur dan lampu suruh matikan kepada sang pembantu (khadam). ”Saya dapat telepon dari Bir Aly. Dia bilang paman sudah tutup usia,” kata Ra Imam.

SELAMAT JALAN, GURU: Ribuan manusia mengantarkan jenazah KH Kholilurrahman ke pemakaman di Masjid Syaikhona Kholil kemarin.

SELAMAT JALAN, GURU: Ribuan manusia mengantarkan jenazah KH Kholilurrahman ke pemakaman di Masjid Syaikhona Kholil kemarin. (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

Ra Imam menyampaikan, keluarga bani Kholil sangat kehilangan. Namun, kehendak Allah yang tidak bisa ditawar-tawar. ”Paman itu cukup sepuh di antara keluarga bani Kholil yang lain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Ra Lilur meninggal di usia kurang lebih 75 tahun. Sebab, almarhum hanya selisih dua tahun dari KH Kholil AG, ayah Ra Imam. ”Paman itu adik abi paling bungsu,” terangnya.

Almarhum merupakan putra pasangan suami istri Nyai Romlah dengan KH Sahrawi Sampang. Nyai Romlah merupakan anak kandung KH Imron dengan Nyai Mutmainnah. KH Imron adalah putra Syaikhona Moh. Kholil.

”Nyai Romlah dengan KH Sahrawi punya anak KH Fahrurrozi, KH Abdullah Aschal, KH Kholil AG, dan terakhir Paman Lilur,” tuturnya.

Pada masa hidupnya, Ra Lilur menikah dengan Nyai Selani dari Kecamatan Sepulu. Hasil buah pernikahannya memiliki putra Ra Bir Aly yang kini menjadi anggota DPRD Bangkalan. ”Ra Bir Aly dari kecil diasuh abi saya (KH Kholil AG, Red). Karena memang paman menitipkan kepada abi sejak masih bayi,” ucapnya.

Kehidupan almarhum ketika masih muda seperti pemuda yang lain. Bermain dengan sepupu, saudara, dan teman yang lain. Baru ketika beranjak dewasa, almarhum mengenyam Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. ”Tapi, almarhum tidak lama mondoknya. Kurang lebih sekitar satu tahun,” tuturnya.

Namun, waktu itu almarhum sudah menampakkan keanehan-keanehan. Baik mulai dari sifat, perilaku hingga ucapan. ”Saat mau beranjak dewasa mulai menampakkan keanehan,” katanya.

Alamarhum memiliki feeling dan firasat yang tajam atas peristiwa yang akan terjadi. Hal itu sudah masyhur di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, meskipun beliau tidak mengenyam pendidikan umum dan hanya mondok satu tahun, almarhum sangat cerdas dan bisa menguasai banyak disiplin ilmu.

”Tidak mengada-ada. Meskipun beliau tidak sekolah, mondok hanya satu tahun. Tapi, beliau cukup menguasai segala disiplin ilmu,” terangnya.

Semasa hidupnya, Ra Lilur memang menjalani hidup sufistik. Dengan kejernihan dan kerendahan hatinya, kerap kali pindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, masyarakat tetap mencari untuk mendapat barokah. ”Tapi, beliau tetap menghindar. Akhirnya berpindah-pindah tempat,” ungkapnya.

Pertama tinggal di Desa Prancak, Kecamatan Sepulu. Kemudian di Desa Banyubunih, Kecamatan Galis. Lalu pindah ke Desa Pakaan Laok, Kecamatan Galis. Terakhir pindah ke Desa Banjar, Kecamatan Galis hingga tutup usia.

”Beliau inginnya menghindar dari masyarakat. Ingin fokus ’menyatu kepada Allah’. Tapi karena masyarakat selalu haus barokah beliau, ya beliau pindah-pindah tempat,” terangnya.

Menurut Ra Imam, keanehan Ra Lilur yang masyhur karena bisa mengetahui banyak hal. Misalnya, ada tamu yang berprofesi dokter, almarhum langsung nyambung. Bahkan, bisa menguasai ilmu kedokteran. ”Tidak hanya itu, ada tamu yang bergelar insinyur arsitek. Beliau juga nyambung berbicara tentang teknik,” ucapnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Kholil Bangkalan ini mengungkap, ketika ada orang Madura yang bekerja di pelayaran hingga ke Amerika. Kemudian, orang tersebut sowan ke almarhum.

”Beliau langsung ngobrol tentang daerah di sana. Bahkan, tahu persis tentang jalan dan bangunan yang ada di sana,” jelasnya.

Masyarakat selalu mendoakan dan ingat nasihat almarhum. ”Almarhum tidak punya kepentingan apa-apa. Apalagi urusan duniawi,” sebutnya.

KH Nasih Aschal, keponakan almarhum yang lain, mengatakan, Ra Lilur merupakan sebagai paku bumi Madura. Banyak pihak merasa kehilangan atas kepergian almarhum. Pihaknya berharap masyarakat tetap akur, tidak terpecah belah, dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) meski Ra Lilur telah berpulang.

”Semoga menjadi bahan pengingat kepada kita semua. Dengan kepergian beliau, rasa persatuan kita tetap terjaga,” tuturnya.

Sebagai perwakilan Pemkab Bangkalan, Pj Bupati I Gusti Ngurah Indra Setiabudi Ranuh mengaku turut berduka. ”Semoga keluarga diberi ketabahan,” harapnya.

(mr/luq/daf/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia