Senin, 23 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Madura Jadi Pusat Bisnis Rokok Ilegal Terbesar

Rabu, 04 Apr 2018 18:49 | editor : Abdul Basri

BUKTI: Kabid Promosi dan Perlindungan Konsumen Disperindag Sumenep Cicik Suryaningsih menunjukkan rokok ilegal yang ditemukan di pasaran Selasa (3/4).

BUKTI: Kabid Promosi dan Perlindungan Konsumen Disperindag Sumenep Cicik Suryaningsih menunjukkan rokok ilegal yang ditemukan di pasaran Selasa (3/4). (MUSTAJI/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Peredaran rokok ilegal di Madura, termasuk Sumenep begitu masif. Terdapat puluhan merek rokok dinyatakan ilegal. Bahkan dalam setahun 1,4 juta batang rokok ilegal diamankan.

Kabid Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep Cicik Suryaningsih tidak menampih hal itu. Menurut dia, pada 2017 di Sumenep terdapat 23 pabrik produksi rokok legal. Namun, memasuki 2018, 4 pabrik di antaranya dilarang berproduksi karena tidak memperpanjang izin produksi sehingga tersisa 19 pabrik yang legal.

Untuk jumlah pabrik ilegal, Cicik mengaku tidak mengetahui. Namun, berdasar hasil pengawasan, sepanjang 2017, disprindag menemukan 83 rokok ilegal yang diperjualbelikan dengan bebas. Puluhan merek rokok itu tidak dilengkapi pita cukai atau menggunakan cukai palsu.

Rokok ilegal tersebut ditemukan di Kecamatan Manding, Dasuk, Ambunten, Pasongsongan, Kota, Dungkek, dan Gapura. Kemudian, Batuputih, Batang-Batang, Rubaru, Pragaan, Bluto, Saronggi, Lenteng, dan Ganding.

Cicik mengaku, pengawasan peredaran rokok ilegal oleh disperindag masih sebatas daerah daratan Sumenep. Di kepulauan belum diawasi.

”Dari pengawasan yang kami lakukan, kami berhasil menemukan 83 merek rokok ilegal yang diperjualbelikan dengan bebas di pasar dan di toko-toko warga,” jelasnya.

Cicik menjelaskan, pihaknya tidak bisa menindak para penjual dan produsen rokok tersebut. Menurut dia, pihaknya hanya melakukan pemetaan dan menegur serta mengarahkan penjual agar tidak ikut memasarkan produk ilegal tersebut.

”Kalau sudah diingatkan tidak ditanggapi dan tetap menjual, baru kami laporkan ke bea cukai. Sebab, mereka yang punya wewenang menindak. Bahkan kalau kami turun ke bawah dan menemukan rokok ilegal dijual, kami harus membeli untuk bukti, kami tidak boleh menyita,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bea Cukai Wilayah Madura di Sumenep Latif Helmi mengatakan, Madura menjadi tempat peredaran rokok ilegal terbesar se-Indonesia. Hasil tangkapan selama 2017 mencapai 1,4 juta batang rokok ilegal. Sementara pada 2018, Januari hingga awal April 1 juta lebih batang rokok ilegal yang diamankan.

Pihaknya gencar melakukan operasi bersama pihak terkait. Yakni, polisi, TNI, dan satpol PP. Operasi serupa akan terus dilakukan untuk meminimalkan rokok ilegal. ”Hasil tangkapan terbesar di Pulau Sulawesi. Rokoknya dari Madura,” ucapnya Selasa (3/4).

Pria asal Jember itu menambahkan, kemungkinan denda yang harus ditanggung perusahaan tersebut Rp 3 miliar. Beberapa waktu lalu pihaknya menangkap ratusan slop rokok di Pelabuhan Kalianget karena pemasangan pita tidak sesuai. Perusahaan tersebut dikenai denda lebih kurang Rp 300 juta.

   ”Seluruh Indonesia melakukan operasi gempur. Jadi, tidak hanya di Madura. Ini bergerak semua,” jelasnya.

Selain melakukan pengawasan dengan polisi, TNI, dan satpol PP, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan dalam pertukaran informasi. Pengawasan dilakukan di tiga lini. Pertama, di pabrik atau pengusaha. Jika terbukti melanggar langsung ditindak seperti penyegelan agar tidak beroperasi.

Kedua, pengawasan dalam distribusi. Barang yang dijual di pasar distribusinya menggunakan transportasi dan jasa pengiriman. Dalam hal ini, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan transportasi. ”Ada sekitar 13 perusahaan seperti bus,” ujarnya.

Juga di lini pemasaran. Pihaknya melakukan operasi pasar. Minimal sebulan tiga kali dan setahun 36 kali. ”Di Madura potensi hasil survei nomor satu di Indonesia dan Jatim peredaran rokok ilegal. Padahal merupakan daerah produksi,” ucapnya.

Sementara di Madura paling rawan di Sumenep dan Pamekasan. Supaya citra Madura tidak menjadi jelek, masalah itu menjadi tugas bersama. Tugas pokok dan fungsi memang bea cukai. ”Ada yang diblokir, dibekukan, dan tidak dilayani,” pungkasnya.

(mr/aji/rul/han/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia