Sabtu, 21 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Features

Nenek Jemani Paling Istimewa Makan Tahu Tempe Bersama Cucu

Jumat, 16 Mar 2018 05:00 | editor : Abdul Basri

LUPUT DARI PERHATIAN: Jemani di Dusun Bertah, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Rabu (14/3).

LUPUT DARI PERHATIAN: Jemani di Dusun Bertah, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Rabu (14/3). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPOs.com)

PAMEKASAN Langit mendung menyelimuti Dusun Bertah, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Rabu (14/3). Di sepanjang jalan, dedaunan menunduk. Sesekali air menetes dari ujung daun yang menjadi perindang jalan desa itu.

Suasananya sepi. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Burung berkejaran menikmati ketenangan dusun itu. Jalan rusak membuat laju kendaraan pelan bak keong.

Warga menyapa penuh keakraban. Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menepi dan menanyakan kediaman Jemani. Kabar dari seorang teman, nenek yang diperkirakan berusia 85 tahun itu hidup serba pas-pasan.

Berkat petunjuk warga, koran ini tiba di gubuk sederhana nenek dengan dua anak itu. Penghuni rumah menghadap selatan itu berada di amper (teras). Senyum renyah seolah menyapa kedatangan JPRM.

”Sampean siapa? Dari mana?” kata Nenek Jemani mengawali perbincangan. Perempuan yang sudah susah berdiri itu sangat menghargai kedatangan tamu. Meski susah berdiri, dia memaksa mencari tikar sebagai alas kami.

Kepada koran ini, Nenek Jemani mengaku sangat bahagia. Sebab, di usianya yang sudah tua, dia masih diberi kesehatan oleh Sang Pencipta. Meski kerap dilanda sakit, dia masih bisa bernapas, mulutnya masih sanggup membaca zikir dan puji-pujian pada Tuhan.

Sehari-hari dia hidup bersama cucunya, Syaiful Anam. Remaja 18 tahun. Sebab, Jemani takut jika harus hidup sendirian. ”Saya takut dilempari batu sama orang,” katanya.

Tak ayal, Syaiful tidak banyak keluar rumah. Dia banyak menghabiskan waktu menemani nenek di gubuk tua yang pintu dan jendelanya terbuat dari gedek itu.

Makanan yang dikonsumsi nenek dan cucunya itu dari anaknya yang hidup bersama keluarganya. Sekali dalam sepekan, anaknya mengirim beras dan sedikit uang belanja.

Syaiful bertugas sebagai juru masak sekaligus tukang bersih-bersih rumah. Sebab, Nenek Jemani sudah tidak bisa bekerja apa-apa. ”Membersihkan rumput saja saya sudah tidak bisa,” katanya.

Ironisnya, dia juga tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Bantuan beras juga tidak pernah menerima. Padahal, menurut Jemani, tetangga sekitarnya banyak yang mendapat bantuan tersebut.

Tidak hanya bantuan berupa beras, jaminan kesehatan juga tidak dia dapatkan. Meski pemerintah mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), keluarga miskin itu tidak kebagian program yang diprakarsai Presiden Joko Widodo itu. ”Paling istimewa makan tahu tempe,” kata Syaiful.

Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, pendataan warga miskin di Pamekasan amburadul. Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tidak dilakukan verifikasi dan validasi (verval).

Padahal, data tersebut dibuat secara berkala, tidak setiap tahun. Akibatnya, banyak warga miskin luput dari pendataan. ”Beberapa waktu lalu kami mengumpulkan seluruh instansi terkait agar melakukan pendataan lebih maksimal,” katanya.

Ismail menyampaikan, pendataan warga miskin harus satu pintu. Tim koordinasi penanggulangan kemiskinan harus jalan. Data tersebut bisa dijadikan acuan bagi pemerintah dalam merealisasikan program.

Sebelumnya, Plt Sekkab Pamekasan Mohamad Alwi mengakui data kemiskinan akan diverifikasi agar valid. ”Akan terus kami benahi,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia