Kamis, 19 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Gerebek Diduga Tempat Prostitusi, Massa Baku Hantam

Sabtu, 20 Jan 2018 01:17 | editor : Abdul Basri

BERBALUT HANDUK: Massa menggelandang perempuan yang diduga PSK ke Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan

BERBALUT HANDUK: Massa menggelandang perempuan yang diduga PSK ke Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan (PRENGKI WIRANANDA/ Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Kesabaran masyarakat terhadap dugaan praktik prostitusi di Bumi Gerbang Salam mencapai klimaks. Sikap pemerintah dianggap tidak sesuai harapan. Akibatnya, ratusan warga kemarin (19/1) menggerebek sebuah rumah di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan, yang diduga tempat prostitusi.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Madura, massa bergerak menuju lokasi diduga prostitusi sekitar pukul 13.30. Mereka menggunakan mobil. Untuk mengelabui masyarakat sekitar, mobil yang ditumpangi massa diberi hiasan mirip pengantin.

Tiba di lokasi yang dituju, massa langsung berhamburan mengepung rumah yang diduga tempat bisnis esek-esek. Dari dalam rumah, massa mengamankan dua perempuan yang diduga pekerja seks komersial (PSK).

GERAM: Ratusan warga gabungan dari berbagai ormas menyesaki Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan, usai sweeping di tempat yang diduga lokasi prostitusi di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, kemarin.

GERAM: Ratusan warga gabungan dari berbagai ormas menyesaki Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan, usai sweeping di tempat yang diduga lokasi prostitusi di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

Dua perempuan itu digiring ke dalam mobil untuk dibawa ke Pendapa Ronggosukowati, Pamekasan. Sebab, di tempat sakral itu, berlangsung audiensi dari berbagai ormas Islam dengan forum pimpinan daerah (forpimda) mengenai tempat hiburan karaoke.

Sebelum meninggalkan tempat yang digerebek itu, massa mendapat perlawanan dari masyarakat. Tak ayal, terjadi baku hantam antara warga setempat dengan massa yang melakukan sweeping.

Bentrok tidak bisa dihindari. Sejumlah warga mengalami luka. Mobil massa yang mendatangi rumah tersebut mengalami kerusakan lantaran diduga dipukul warga. Mendapat perlawanan warga sekitar, massa bergerak ke pendapa dengan membawa perempuan yang diduga PSK.

Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto, Kapolres Pameasan AKBP Teguh Wibowo, dan Plt Sekkab Pamekasan Moh. Alwi bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP). Personel Polri dan prajurit TNI juga dikerahkan.

Audiensi antara ulama dan forpimda beserta perwakilan pengusaha tempat hiburan karaoke berhenti sejenak. Di luar ruang audiensi, massa terus berdatangan dengan membawa senjata bambu dan kayu.

Panglima LPI Madura Abd. Aziz Muhammad Syahid mengatakan, massa bergerak ke tempat diduga prostitusi lantaran sudah tidak sabar dengan praktik haram tersebut. Sementara pemerintah tidak menunjukkan ketegasan.

Massa berinisiatif turun langsung ke lapangan. Namun, setiba di lapangan, ada perlawanan dari warga sekitar. ”Entah itu preman bayaran, kami kurang paham,” katanya.

Akibatnya, sejumlah massa jatuh korban. Sekitar lima orang dirawat di rumah sakit. Ada sebagian yang dirawat di rumah masing-masing. ”Ada yang patah tulang, bocor kepala, gigi rontok, dan luka-luka lain,” ungkap dia.

Selain itu, dua mobil yang dikendarai massa diduga dirusak. Satu kendaraan bermotor juga rusak. Atas kejadian tersebut, massa akan melaporkan kepada pihak berwajib agar segera diusut sesuai prosedur hukum yang berlaku. ”Kalau sampai tidak diusut, kami akan turun,” tegasnya.

Kapolres Pameasan AKBP Teguh Wibowo menyatakan, insiden dugaan pemukulan dan perusakan itu domain polisi. Pihaknya mengerahkan personel ke TKP dalam rangka melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Menurut Teguh, tanpa ada yang melapor, polisi tetap akan mengusut dan mencari pelaku dugaan pemukulan dan perusakan. ”Kami terus melakukan penyelidikan dan mencari pelaku,” katanya.

Meski demikian, Teguh meminta masyarakat tetap menjaga kondusivitas. Dia berharap, jangan sampai ada tindakan anarki yang dapat membahayakan keselamatan orang lain. ”Insya Allah di TKP kondusif,” ujarnya.

Sementara itu, Pemkab Pamekasan mengambil tindakan tegas terhadap pengusaha tempat hiburan karaoke. Terhitung sejak kemarin, seluruh tempat hiburan tersebut resmi ditutup.

Langkah tegas itu diambil lantaran tempat karaoke tidak sesuai kriteria dan ketentuan. Khusus tempat hiburan yang berizin, akan dibuka kembali pasca bentuk ruangan sesuai ketentuan. ”Misalnya kaca harus terang, tempat karaoke keluarga, dan semacamnya,” jelas Wakil Bupati Pamekasan Khalil Asy’ari.

Ketua Asosiasi Pengusaha Tempat Hiburan Karaoke Pamekasan Agus Sujarwadi mengaku, menerima keputusan pemerintah. Keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara pemerintah, ulama, dan pengusaha.

Dengan demikian, selama bentuk ruangan tidak sesuai aturan, tempat karaoke akan ditutup. ”Di Pamekasan ada empat tempat karaoke yang berizin. Untuk yang tidak berizin, setahu saya ada dua tempat,” ungkapnya.

(mr/hud/pen/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia