Jumat, 20 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Sport

Harus Berani Belajar di Luar Daerah

Rabu, 10 Jan 2018 13:55 | editor : Abdul Basri

BERPRETASI: Salah satu pebulu tangkis berbakat asal Kabupaten Bangkalan, Naufal, mendapat rekomendasi belajar di luar Madura.

BERPRETASI: Salah satu pebulu tangkis berbakat asal Kabupaten Bangkalan, Naufal, mendapat rekomendasi belajar di luar Madura. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Ada sederet alasan mengapa atlet asal daerah tak mampu berkembang hingga level nasional. Salah satunya karena pola latihan serta minimnya jam terbang. Itu yang ungkapkan Pelatih PB Saka Bangkalan Edy Susanto. Untuk itu, dia menyarankan meningkatkan kualitas dengan pindah ke klub besar.

Menurut dia, bakat seorang atlet itu mudah untuk dilihat. Namun belum tentu dia akan terus berkembang jika menetap di klub asal daerah. ”Jika menetap di klub daerah yang pola latihannya masih untuk anak usia dini, saya yakin atlet itu akan stagnan di situ terus,” jelas Edy.

Untuk itu Edy sangat mengharapkan anak didiknya di PB Saka mau untuk menimba ilmu di luar Madura. Dengan begitu, lanjut Edy, para atlet akan memperoleh pelatihan yang pas untuk usianya.

Salah satu contoh klub besar yang sukses di level nasional adalah PB Djarum Kudus. Mereka mampu menempatkan sejumlah atletnya dalam pelatnas bulu tangkis. Bahkan salah satu pebulu tangkis asal PB Saka ada yang belajar di sana.

”Saya harap ada yang mau menyusul Rahul ke sana,” ungkap Edy. Ya, pebulu tangkis bernama lengkap Farrahul Arham merupakan pebulu tangkis pertama asal PB Saka yang mempu masuk ke djarum Kudus.

”Selain pola latihan, di beberapa klub besar tentu menerapkan disiplin tinggi. Itu merupakan modal dasar bagi atlet yang ingin terjun di level nasional,” ujar Edy. Hal itu lah yang mendorong Edy untuk atlet lainnya mampu keluar Madura.

Namun atlet yang akan belajar di luar daerah tentu harus memiliki persiapan. Baik mental maupun materi. Menurut Edy yang paling berat tentu adalah orang tuanya. ”Yang mengarahkan anak pasti orang tua. Orang tua harus siap tidak bertemu dan sekolah juga harus pindah,” tambah Edy. 

(mr/dam/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia