Minggu, 22 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Features

Satu Jam Berbincang Bersama Korwil Densus 26 Madura

Cegah Radikalisme melalui Dakwah

Minggu, 07 Jan 2018 16:47 | editor : Abdul Basri

SANTAI: Wartawan JPRM Imam S. Arizal (kiri) berdiskusi dengan Korwil Densus 26 Madura Nur Faizin (dua dari kiri) didampingi pasukannya di kantor JPRM Biro Pamekasan kemarin.

SANTAI: Wartawan JPRM Imam S. Arizal (kiri) berdiskusi dengan Korwil Densus 26 Madura Nur Faizin (dua dari kiri) didampingi pasukannya di kantor JPRM Biro Pamekasan kemarin. (Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Terorisme atau radikalisme agama menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Tindakan destruktif itu bisa muncul di mana saja. Itulah yang kini menjadi perhatian khusus Korwil Densus 26 Madura.

Islam merupakan rahmat bagi alam semesta dan seisinya. Kehadiran agama yang dibawa Nabi Muhammad ini semestinya menjadi berkah, bukan petaka. Tetapi tak jarang kelompok kecil yang berhaluan radikal merusak citra Islam di seluruh dunia.

Islam terkadang dihadirkan dengan wajah bengis, teror. Demikian kalimat pembuka yang disampaikan Koordinator Wilayah (Korwil) Densus 26 Madura Nur Faizin saat berdiskusi di kantor Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan Sabtu (6/1).

Jend, sapaan akrab Nur Faizin, datang bersama rombongan. Salah satu tujuannya, menyuarakan gerakan deradikalisasi secara lunak. Sebuah upaya yang dilakukan melalui cara-cara kebudayaan dan dakwah dengan mengedepankan hikmah teladan.

Sebelum berdiskusi panjang lebar, Jend terlebih dahulu memperkenalkan organisasi yang dipimpinnya. Dijelaskan, Densus 26 merupakan organisasi yang dibentuk oleh aktivis-aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di Jogjakarta pada 2011. Untuk Korwil Madura, terbentuk awal 2017.

Pengunaan kata densus terinspirasi dari lembaga yang dibentuk Mabes Polri, yakni Densus 88 Antiteror. Angka 26 di belakang densus dinisbatkan pada sejarah berdirinya NU 1926. Angka 26 yang membedakan cara kerja dengan Densus 88. Jika Densus 88 dilengkapi dengan senjata, Densus 26 berbekal dakwah berkearifan budaya.

”Terorisme dan radikalisme agama berawal dari pemahaman yang keliru terhadap intisari ajaran agama, termasuk Islam,” jelas Jend. ”Oleh karena itu, perlu semacam pelurusan pemahaman keagamaan. Kami, Densus 26, mengajak mencegah terorisme dengan cara-cara ilmiah, berdiskusi, dakwah bil hikmah,” tambahnya.

Mengapa terorisme dan radikalisme agama yang menjadi konsentrasi Densus 26? Menurut alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini, karena terorisme menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia. Benih-benih terorisme muncul di kalangan masyarakat Indonesia.

Hasil survei The Pew Research Center 2015 menyebutkan, 4 persen atau sekitar 10 juta warga Indonesia setuju dengan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Fakta tersebut, menurut Jend, sangat memprihatinkan. Sebab, selama ini ISIS dikenal bukan sebagai kelompok Islam yang ramah, melainkan lebih sebagai kelompok terorisme global.

Pada 2011, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dipimpin guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo menampilkan fakta yang tak kalah mengejutkan. Dalam survei tersebut disebutkan, dari 100 sekolah menengah di Jakarta, menunjukkan hampir 50 persen pelajar mendukung cara-cara keras dalam menghadapi moralitas dan konflik keagamaan.

”Fakta ini ancaman nyata bagi keberlangsungan negara ini. Jika benih-benih terorisme dan radikalisme itu dibiarkan, ke depan akan menjadi bom waktu,” urai pria kelahiran Sumenep tersebut.

Hasil survei bukan satu-satunya tolok ukur untuk menentukan radikal atau tidaknya seseorang. Tetapi melihat perkembangan situasi berbangsa dan beragama belakangan ini, radikalisme agama tidak bisa dipandang sebelah mata. Para ulama, kiai, guru ngaji, dan generasi muda harus terlibat mencegah semakin berkecambahnya benih-benih radikalisme.

Belakangan muncul kelompok-kelompok yang mulai meragukan bahkan menentang keberadaan Pancasila sebagai dasar negara. Mereka berasusmsi bahwa Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebab, Pancasila tidak tercantum dalam Alquran.

Model-model dakwah yang tekstual dan kaku inilah yang coba dilawan oleh Densus 26. Bagi Densus 26, tidak tercantum dalam Alquran bukan berarti bertentangan dengan Islam. Jika Pancasila dipahami secara mendalam, menurut pria berkacamata itu, seluruhnya sesuai dengan intisari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

”Memahami Islam itu harus kontekstual. Berdakwah juga harus berkearifan lokal. Seperti dakwah-dakwah yang dilakukan Wali Sanga terdahulu yang mencerminkan Islam ramah, bukan Islam marah,” paparnya.

Selain berdiskusi secara ilmiah, Densus 26 juga menguatkan amaliah-amaliah dan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah (aswaja). Aswaja merupakan landasan berpikir dan berpijak masyarakat muslim Madura yang rata-rata merupakan warga NU.

”Mari jaga persatuan, pupuk toleransi, dan cegah radikalisme agama. Jangan biarkan benih-benih terorisme tumbuh di masyarakat Indonesia,” tukasnya.

(mr/mam/hud/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia