Senin, 23 Jul 2018
radarmadura
icon featured
Kedai

Pemuda Zaman Now dan Keberlangsungan Bahasa Kesatuan

Oleh: Ina Herdiyana

Minggu, 29 Oct 2017 17:10 | editor : Abdul Basri

Pemuda Zaman Now dan Keberlangsungan Bahasa Kesatuan

SELAMAT pagi, Pemuda. Selamat pagi, Madura. Selamat pagi untuk kita, pemuda Indonesia. Pemegang tonggak masa depan bangsa. Tidak terasa 28 Oktober telah kita lewati sebagai hari bersejarah atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Yang ketika itu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda mengucapkan ikrarnya dalam satu-kesatuan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu, yakni Indonesia, yang kita sebut sebagai Hari Sumpah Pemuda.

”Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” begitulah Bung Karno, presiden pertama kita, berucap dalam pidatonya yang terakhir pada HUT Republik Indonesia 1996. Dari sumpah tersebut selayaknya kita mampu meneruskan sikap nasionalisme pemuda di masa sekarang dan yang akan datang.

Dalam tulisan ini saya tidak akan menerangkan seluk-beluk perjuangan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada 1928. Sebab, seperti halnya waktu, zaman tak pernah statis. Ia selalu bergerak secara dinamis. Unsur-unsur di dalamnya juga berubah sesuai situasi dan kondisi yang terjadi pada masanya.  Generasi pun mengikuti tumbuh kembangnya. Kecintaan pemuda zaman dahulu terhadap Indonesia ditunjukkan dengan menyingsingkan baju. Mempertaruhkan raga dan nyawa. Berperang melawan penjajah. Mati dikenang menjadi pahlawan.

Lalu, apa kabar pemuda masa kini? Pemuda zaman now, generasi micin, atau pemuda hit yang suka narsis di media sosial (medsos). Tentu kita memiliki cara berbeda dengan pemuda zaman dahulu. Jika pemuda dulu memperjuangkan Indonesia melalui tindakan fisik dan mempertaruhkan nyawa, saatnya kita bisa mengharumkan nama Indonesia melaui prestasi-prestasi dan karya-karya membanggakan. 

Menyikapi sikap pemuda masa kini yang bahasa kerennya kids zaman now, kita bisa geleng-geleng kepala atau bahkan terbahak-bahak karena lucu. Beberapa waktu lalu saya sempat membaca meme di Instagram dengan gambar pasangan anak-anak seusia sekolah dasar berpegangan tangan. Kata-kata yang diungkapkan layaknya pasangan dewasa. Lalu, di bawahnya tertulis kids zaman now. Namun, di sini saya tidak berbicara kelakuan anak-anak masa kini yang tidak sesuai dengan usianya. Saya hanya bertanya-tanya tentang khazanah bahasa kesatuan kita. Bahasa Indonesia. Masihkah bahasa kita mampu bertahan di tengah maraknya media daring yang menyajikan informasi dengan beragam bahasa gaul?  Jawabannya bergantung pada kita.

Selain kids zaman now, yang lagi menjamur di medsos adalah bentukan-bentukan akronim dan singkatan. Baik di WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, maupun ujaran-ujaran langsung dalam obrolan sehari-hari. Misalnya, salfok (salah fokus), mager (malas gerak), kepo, rempong, unyu, galau, woles, PHP, GWS, OTW, lo gue end, eaa, gengges, hoax, rempong, narsis, unyu, alay, japri, gaje, typo, keleus, hater, dan sebagainya.

Ujaran-ujaran itu sudah biasa digunakan kalangan pemuda. Bahkan sering kita jumpai adanya campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Misalnya, me-launching, mem-plotting,  me-regrouping, nge-dance, mem-blocking, dan lain-lain. Semua itu harus menjadi koreksi bagi kita semua. Mengingat, bahasa Indonesia merupakan bagian dari sumpah pemuda yang harus kita lestarikan bersama.

Timbulnya bahasa tersebut menunjukkan bahwa kita telah terpengaruh oleh bentukan-bentukan bahasa asing. Baik melalui iklan di televisi maupun di medsos. Hal itu tidak menjadi masalah asal diujarkan dalam konteks nonformal. Parahnya, ketika campur kode antara bahasa asing dengan bahasa kesatuan kita digunakan dalam konteks resmi seperti dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Atau, dalam dunia literasi yang lain.

Perlu kita ketahui, tidak ada yang salah dengan perkembangan bahasa. Maraknya bahasa slang (gaul) pun akan memiliki tempat sendiri. Bahasa gaul merupakan ekspresi pemuda yang ingin terlihat eksklusif pada zamannya. Boleh saja digunakan sesuai konteks. Biasanya, ketika ngumpul dengan teman akrab, saat makan bareng, nongkrong, atau ngopi tipis-tipis.

Namun, sebagai pemuda yang mencintai bahasa kesatuan dan melek literasi, kita harus mampu menyampaikan penuturan secara kontekstual, profesional, dan proporsional. Memahami apa yang kita dituturkan. Dengan siapa kita bertutur. Di mana kita bertutur dan dalam konteks apa kita bertutur. Mari jaga khazanah bahasa kesatuan kita. Salam semangat, para pemuda. Sebab, di tangan kitalah tergenggam arah bangsa.

Copy Editor Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia