alexametrics
29 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Sastra dan Kearifan Lokal

INDONESIA memiliki banyak budaya, adat, tradisi, dan kearifan lokal yang laik untuk dilestarikan. Terutama lewat karya tulis yang mampu mengabadikan nilai-nilai tersebut. Sastra jadi salah satu jalan penulis mengangkatnya menjadi karya yang bisa dinikmati secara global.

Sebelum terbit novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Banyak orang tidak tahu bahwa di belahan bumi Indonesia ini ada pulau bernama Belitung yang menyimpan kekayaan budaya yang unik dan eksotisme alamnya yang memukau. Sejak novel itu beredar lalu diadaptasi ke layar lebar, barulah orang banyak tahu tentang tradisi dan kearifan lokal yang tersimpan di sana.

Berbicara tentang lokalitas dalam karya sastra, banyak sastrawan yang telah mengangkatnya dalam karya sastra. Marah Rusli lewat Sitti Nurbaya, Ahmad Tohari lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, AA Navis dengan Robohnya Surau Kami, Remy Silado dengan Pangeran Diponegoro, dan lainnya. Karya-karya dengan nuansa lokal yang kental tersebut mampu menerjemahkan eksotisme Indonesia lewat karya yang mampu mengobati kerinduan pembaca akan sastra lokal.

Kolecer & Hari Raya Hantu adalah kumpulan cerita pendek dari sejumlah penulis dengan latar belakang budaya dan daerah berbeda. Mengangkat lokalitas dalam karya sastra, para penulis dalam buku ini menyuguhkan pelbagai keunikan dan ciri khas budaya dan tradisi yang ada di daerah masing-masing.

Benny Arnas, cerpenis asal Lubuklinggau, menghadirkan cerita dengan keunikan tersendiri. Kita bisa melihat bagaimana kegelisahan seorang Benny lewat Anak Ibu yang Kembali. Sebagaimana ditulis Free Hearty dalam pengantar, ada daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan karena dianggap akan lebih memperhatikan orang tua kelak ketika sudah renta. Ketika anggapan (juga harapan) agar anak perempuan kelak memberi perhatian, justru asyik dengan suami dan keluarganya sendiri, tragedi pun muncul sebagaimana dikisahkan dalam cerita ini (hlm 20).

Baca Juga :  Kebangkitan Sastra Madura dan Peran Pemerintah

Dalam Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam, Hanna Fansisca yang berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat, menyuguhkan kisah yang kental dengan budaya leluhurnya. Hanna memaparkan kisahnya dengan kritik yang jenaka dan canda yang membuat pembaca miris. Kritikan Hanna mengalir dengan tajam namun lembut dalam pilihan diksi yang memancing imajinasi (hlm 75).

Lewat Baminantu, Sastri Yunizarti Bakry mendedah dua tradisi pernikahan yakni, Pariaman dan Jawa. Sebagaimana lazim diketahui, pantang bagi pihak perempuan untuk melamar calon mempelai laki-laki. Demikian yang dipegang Yendril yang berpegang teguh pada tradisi Jawa, juga Islam, sebagaimana dipelajarinya sejak kecil.

Sementara, ibunya tak mau jika ia yang harus pergi menemui keluarga calon istri anaknya. Sebab, dalam adat dan tradisi Pariaman, pihak perempuan yang harus menemui keluarga calon mempelai laki-laki.

Di sinilah pertentangan antara tokoh Yendril dan Ibu dalam mempertahankan dua adat (Jawa dan Pariaman) dalam tradisi pernikahan bergulir. Ibu tetap pada pendiriannya sebagai orang Pariaman. Sementara Yendril yang terlahir dari dua suku (ibu Minang dan ayah Jawa) juga merasa perlu untuk melaksanakan pernikahan secara Jawa dan Islam. Apalagi, paman Yendril dari pihak ayahnya begitu kukuh untuk tidak bisa menghadiri acara pernikahan jika perayaan itu tidak dilaksanakan secara adat Jawa (hlm 176).

Baca Juga :  Apakah Harga Pertamax Jadi Turun?

Banyak kisah yang bisa dinikmati pembaca lewat kumpulan cerita yang kental dengan nuansa lokal ini. Adat serta kearifan lokal Bali bisa dinikmati dalam Pastu karya Oka Rusmini, Sunda lewat cerpen Kolecer karya Nenden Lilis A., Jogjakarta lewat goresan pena Gunawan Maryanto dalam cerpen Arya Mangkunegara dan Sarpakenaka, Khrisna Pabhicara dengan cerita Laduka dan Pembunuh Parakang, serta Saut Poltak Tambunan lewat Lali Panggora, Omak, dan Menunggu Matahari.

Sebelas cerpenis kenamaan Indonesia dalam buku ini menghadirkan berbagai tema seperti cinta, pengkhianatan, dendam, amarah, pembunuhan, dan kelicikan yang sering menjadi masalah dasar manusia—dari suku, agama, dan bangsa apa pun. Lewat kumpulan cerita pendek ini, pembaca bisa mengenal sastra dan sejarah yang dikemas secara menarik, sekaligus memahami keindonesiaan yang multikultural.

UNTUNG WAHYUDI

Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

 

- Advertisement -

INDONESIA memiliki banyak budaya, adat, tradisi, dan kearifan lokal yang laik untuk dilestarikan. Terutama lewat karya tulis yang mampu mengabadikan nilai-nilai tersebut. Sastra jadi salah satu jalan penulis mengangkatnya menjadi karya yang bisa dinikmati secara global.

Sebelum terbit novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Banyak orang tidak tahu bahwa di belahan bumi Indonesia ini ada pulau bernama Belitung yang menyimpan kekayaan budaya yang unik dan eksotisme alamnya yang memukau. Sejak novel itu beredar lalu diadaptasi ke layar lebar, barulah orang banyak tahu tentang tradisi dan kearifan lokal yang tersimpan di sana.

Berbicara tentang lokalitas dalam karya sastra, banyak sastrawan yang telah mengangkatnya dalam karya sastra. Marah Rusli lewat Sitti Nurbaya, Ahmad Tohari lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, AA Navis dengan Robohnya Surau Kami, Remy Silado dengan Pangeran Diponegoro, dan lainnya. Karya-karya dengan nuansa lokal yang kental tersebut mampu menerjemahkan eksotisme Indonesia lewat karya yang mampu mengobati kerinduan pembaca akan sastra lokal.


Kolecer & Hari Raya Hantu adalah kumpulan cerita pendek dari sejumlah penulis dengan latar belakang budaya dan daerah berbeda. Mengangkat lokalitas dalam karya sastra, para penulis dalam buku ini menyuguhkan pelbagai keunikan dan ciri khas budaya dan tradisi yang ada di daerah masing-masing.

Benny Arnas, cerpenis asal Lubuklinggau, menghadirkan cerita dengan keunikan tersendiri. Kita bisa melihat bagaimana kegelisahan seorang Benny lewat Anak Ibu yang Kembali. Sebagaimana ditulis Free Hearty dalam pengantar, ada daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan karena dianggap akan lebih memperhatikan orang tua kelak ketika sudah renta. Ketika anggapan (juga harapan) agar anak perempuan kelak memberi perhatian, justru asyik dengan suami dan keluarganya sendiri, tragedi pun muncul sebagaimana dikisahkan dalam cerita ini (hlm 20).

Baca Juga :  Unit Kesenian Desa:┬áTerobosan Pembangunan (Jiwa) Manusia

Dalam Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam, Hanna Fansisca yang berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat, menyuguhkan kisah yang kental dengan budaya leluhurnya. Hanna memaparkan kisahnya dengan kritik yang jenaka dan canda yang membuat pembaca miris. Kritikan Hanna mengalir dengan tajam namun lembut dalam pilihan diksi yang memancing imajinasi (hlm 75).

Lewat Baminantu, Sastri Yunizarti Bakry mendedah dua tradisi pernikahan yakni, Pariaman dan Jawa. Sebagaimana lazim diketahui, pantang bagi pihak perempuan untuk melamar calon mempelai laki-laki. Demikian yang dipegang Yendril yang berpegang teguh pada tradisi Jawa, juga Islam, sebagaimana dipelajarinya sejak kecil.

Sementara, ibunya tak mau jika ia yang harus pergi menemui keluarga calon istri anaknya. Sebab, dalam adat dan tradisi Pariaman, pihak perempuan yang harus menemui keluarga calon mempelai laki-laki.

Di sinilah pertentangan antara tokoh Yendril dan Ibu dalam mempertahankan dua adat (Jawa dan Pariaman) dalam tradisi pernikahan bergulir. Ibu tetap pada pendiriannya sebagai orang Pariaman. Sementara Yendril yang terlahir dari dua suku (ibu Minang dan ayah Jawa) juga merasa perlu untuk melaksanakan pernikahan secara Jawa dan Islam. Apalagi, paman Yendril dari pihak ayahnya begitu kukuh untuk tidak bisa menghadiri acara pernikahan jika perayaan itu tidak dilaksanakan secara adat Jawa (hlm 176).

Baca Juga :  Janganlah Ragu Akan Cinta

Banyak kisah yang bisa dinikmati pembaca lewat kumpulan cerita yang kental dengan nuansa lokal ini. Adat serta kearifan lokal Bali bisa dinikmati dalam Pastu karya Oka Rusmini, Sunda lewat cerpen Kolecer karya Nenden Lilis A., Jogjakarta lewat goresan pena Gunawan Maryanto dalam cerpen Arya Mangkunegara dan Sarpakenaka, Khrisna Pabhicara dengan cerita Laduka dan Pembunuh Parakang, serta Saut Poltak Tambunan lewat Lali Panggora, Omak, dan Menunggu Matahari.

Sebelas cerpenis kenamaan Indonesia dalam buku ini menghadirkan berbagai tema seperti cinta, pengkhianatan, dendam, amarah, pembunuhan, dan kelicikan yang sering menjadi masalah dasar manusia—dari suku, agama, dan bangsa apa pun. Lewat kumpulan cerita pendek ini, pembaca bisa mengenal sastra dan sejarah yang dikemas secara menarik, sekaligus memahami keindonesiaan yang multikultural.

UNTUNG WAHYUDI

Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Membuka Tirai yang Membelenggu

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Most Read

Artikel Terbaru

/