alexametrics
29.5 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Manusia, Organisasi, dan Rencana-Rencana

Dalam kehidupan manusia tidak akan lepas dengan aktivitas-aktivitas. Aktivitas-aktivitas itulah dalam organisasi disebut dengan planning (perencanaan). Perencanaan yang dipikirkan sebelumnya.

 

SETELAH saya mengikuti materi tentang analisis SWOT di salah satu organisasi daerah (orda) di pesantren, saya bisa membedakan antara aktivitas-aktivitas dan rencana-rencana. Bagi senior saya, belajar dari pengalaman (ia bersikap tawaduk), perbedaan mendasar aktivitas dengan rencana itu terletak pada formal dan nonformal. Bicara aktivitas berarti membicarakan sesuatu yang tak perlu direncanakan. Ia akan dikerjakan tanpa perencanaan terlebih dahulu. Seperti mandi, makan, minum, dsb.

Sebagai manusia yang disibukkan dengan kepadatan aktivitas, waktu manusia tersita dengan aktivitas yang tidak bisa dikontrol secara baik. Semua dilakoni tampa pertimbangan akal sehat. Apakah aktivitas itu memberikan manfaat atau mafsadat.

Itu sebabnya, dalam organisasi butuh dibedakan antara aktivitas dengan perencanaan. Bagi Readi Sahen (senior organisasi saya tadi), rencana merupakan dunia ide-ide. Meski nyatanya ia tak meminjam teori filsafat platonisme yang menganggap segala wujud aktivitas adalah imitasi dari dunia ide-ide. Maka seluruh aktivitas yang jamak menyita konsistensi manusia harus dipilah-pilah, dan direncanakan dengan matang yang pada gilirannya menjadi program kerja.

Jika sistem manusia bisa dibentuk dengan teori atau sistem organisasi, saya pikir, tak ada kesalahan dalam melakukan aktivitas-aktivitas, karena semua perbuatan akan di-planning dengan baik. Sebagaimana membuat program kerja yang diperlukan pertimbangan matang dari segi kelemahan, kelebihan, hambatan, serta tujuan dan manfaat dari kegiatan tersebut.

James L. Gibson (1986) mengemukakan hal yang sama. Untuk mencapai semua tujuan atau visi-misi, seorang organisatoris harus merencanakan terlebih dahulu secara matang dengan target-target yang memungkinkan untuk direalisasikan sesuai tanggal yang ditentukan.

Bukan saya ingin mengatakan manusia adalah makhluk mekanik yang dapat dikontrol secara mekanis dengan pikiran-pikiran. Di luar teori organisasi yang saya pelajari, manusia adalah makhluk yang harus berusaha. Sedang Tuhan yang menggariskan takdir tiap manusia itu.

Baca Juga :  Surat Buat Guruku

Namun, di sini perlu, sebagai manusia yang berpikir, untuk memikirkan apa yang disampaikan senior saya tadi. Pertama, mengetahui tujuan atau visi-misi. Contoh, sebagai manusia, harus mengetahui tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi.

Setelah manusia tahu keberadaannya di muka bumi, ia akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sesuai dan searah dengan tujuan awal diciptakan. Kedua, membuat program kerja yang mengarah pada visi-misi dengan target-target pencapaian, baik dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang.

Beranjak dari persoalan perencanaan kemudian menganalisis berbagai kegiatan antara yang penting dan yang tidak, sebelum pada tindakan (actuating) perlu manusia mengenal kehidupan di sekitarnya (kondisi eksternal). Pertama, berupa lawan (rival) atau kelemahan (weakness), kondisi sosial yang mengancam terhadap manusia. Posisikanlah secara dzahir contoh yang tepat untuk manusia adalah setan. Akan tetapi bisa saja, secara halus, manusia mempunyai musuh dalam dirinya sendiri, atau makhluk di sekitarnya yang benci terhadap dirinya.

Kedua, adalah kekuatan (strength), bisa disebut kawan atau orang-orang yang dekat dengan kita, keluarga, guru, dsb. Secara otomatis ketika manusia mengenal dan mengetahui berbagai hal yang dapat mengancam, serta berbagai hal yang dapat memberikan keuntungan untuk dirinya, baru manusia memikirkan aktivitas-aktivitas dalam bentuk program kerja. Dalam pelaksanaannya, manusia harus melibatkan dirinya sendiri untuk mengontrol dan mengevaluasi. Evaluasi sangat penting karena kesalahan-kesalahan adalah bahan rekomendasi untuk masa selanjutnya, untuk mengarungi bahtera kehidupan. Ada yang mengatakan ”guru yang paling baik adalah pengalaman”. Serangkaian dari proses evaluasi terhadap diri manusia itu sendiri belajar dari pengalaman.

Dari berbagai tajuk rencana dan kegiatan yang sudah dibuat lalu menjadi program kerja, kira-kira adakah program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang? Jika ada, pikiran manusia tetap harus konsisten atau istiqamah dalam satu kegiatan yang itu bernilai menurut Tuhan, baik kegiatan salat berjamaah, mengaji, bersedekah, menolong orang lain yang membutuhkan, atau ibadah haji jika itu tidak termasuk dalam program jangka panjang.

Baca Juga :  Upaya Tim Satgas Covid-19 Cegah Kerumunan Manusia

Dari kegiatan yang dipilih, satu pesan dari senior saya, jangan terlalu banyak membuat kegiatan sedang itu tidak bisa meningkatkan kualitas diri manusia itu sendiri. Maka pada kesimpulannya manusia akan mendapatkan nilai zero atau kosong. Karena itu, membuat program harus disesuaikan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan nalar logika manusia. Sesuai dengan kemampuan.

Jika tidak mampu melaksanakan ibadah haji, tidak perlu terlalu muluk-muluk melaksanakan ibadah haji. Jika tidak mampu melakukan sedekah tidak usah bersedekah karena itu akan membuat kita melakukan sesuatu yang menyimpang dari syariah. Bisa saja manusia bersedekah dengan harta yang haram, atau bisa saja manusia naik haji dengan hasil curian. Maka dalam organisasi itu dikenal dengan  pelanggaran terhadap AD/ART.

Agar manusia tidak melanggar AD/ART atau ajaran dalam Alquran, manusia harus membuat program kerja sesuai konteks dan kemampuan. Sayangnya, banyak di belahan bumi ini ditemukan manusia yang rakus dan egois sehingga melakukan rancangan program kerja yang melampaui batas kemampuannya sendiri. Bahkan nabi pernah mengibaratkan manusia tersebut layaknya memikul beban terlalu berat sedang ia terlindas dengan beban yang dipikulnya sampai mati.

Jadilah manusia yang mempunyai rancangan kegiatan dengan baik, tidak berlebihan, dan tidak rakus—manusia yang mampu memanfaatkan momen tertentu—untuk menggapai rida Tuhan. Perbuatan yang tak diridai oleh Tuhan sama halnya dengan laporan pertanggungjawaban (LPj) yang ditolak. Wallahu a’lam.

 

*)Calon sarjana Ushuluddin Instika, asal Grujugan.

- Advertisement -

Dalam kehidupan manusia tidak akan lepas dengan aktivitas-aktivitas. Aktivitas-aktivitas itulah dalam organisasi disebut dengan planning (perencanaan). Perencanaan yang dipikirkan sebelumnya.

 

SETELAH saya mengikuti materi tentang analisis SWOT di salah satu organisasi daerah (orda) di pesantren, saya bisa membedakan antara aktivitas-aktivitas dan rencana-rencana. Bagi senior saya, belajar dari pengalaman (ia bersikap tawaduk), perbedaan mendasar aktivitas dengan rencana itu terletak pada formal dan nonformal. Bicara aktivitas berarti membicarakan sesuatu yang tak perlu direncanakan. Ia akan dikerjakan tanpa perencanaan terlebih dahulu. Seperti mandi, makan, minum, dsb.


Sebagai manusia yang disibukkan dengan kepadatan aktivitas, waktu manusia tersita dengan aktivitas yang tidak bisa dikontrol secara baik. Semua dilakoni tampa pertimbangan akal sehat. Apakah aktivitas itu memberikan manfaat atau mafsadat.

Itu sebabnya, dalam organisasi butuh dibedakan antara aktivitas dengan perencanaan. Bagi Readi Sahen (senior organisasi saya tadi), rencana merupakan dunia ide-ide. Meski nyatanya ia tak meminjam teori filsafat platonisme yang menganggap segala wujud aktivitas adalah imitasi dari dunia ide-ide. Maka seluruh aktivitas yang jamak menyita konsistensi manusia harus dipilah-pilah, dan direncanakan dengan matang yang pada gilirannya menjadi program kerja.

Jika sistem manusia bisa dibentuk dengan teori atau sistem organisasi, saya pikir, tak ada kesalahan dalam melakukan aktivitas-aktivitas, karena semua perbuatan akan di-planning dengan baik. Sebagaimana membuat program kerja yang diperlukan pertimbangan matang dari segi kelemahan, kelebihan, hambatan, serta tujuan dan manfaat dari kegiatan tersebut.

James L. Gibson (1986) mengemukakan hal yang sama. Untuk mencapai semua tujuan atau visi-misi, seorang organisatoris harus merencanakan terlebih dahulu secara matang dengan target-target yang memungkinkan untuk direalisasikan sesuai tanggal yang ditentukan.

Bukan saya ingin mengatakan manusia adalah makhluk mekanik yang dapat dikontrol secara mekanis dengan pikiran-pikiran. Di luar teori organisasi yang saya pelajari, manusia adalah makhluk yang harus berusaha. Sedang Tuhan yang menggariskan takdir tiap manusia itu.

Baca Juga :  Menabur Benih Kedisiplinan

Namun, di sini perlu, sebagai manusia yang berpikir, untuk memikirkan apa yang disampaikan senior saya tadi. Pertama, mengetahui tujuan atau visi-misi. Contoh, sebagai manusia, harus mengetahui tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi.

Setelah manusia tahu keberadaannya di muka bumi, ia akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sesuai dan searah dengan tujuan awal diciptakan. Kedua, membuat program kerja yang mengarah pada visi-misi dengan target-target pencapaian, baik dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang.

Beranjak dari persoalan perencanaan kemudian menganalisis berbagai kegiatan antara yang penting dan yang tidak, sebelum pada tindakan (actuating) perlu manusia mengenal kehidupan di sekitarnya (kondisi eksternal). Pertama, berupa lawan (rival) atau kelemahan (weakness), kondisi sosial yang mengancam terhadap manusia. Posisikanlah secara dzahir contoh yang tepat untuk manusia adalah setan. Akan tetapi bisa saja, secara halus, manusia mempunyai musuh dalam dirinya sendiri, atau makhluk di sekitarnya yang benci terhadap dirinya.

Kedua, adalah kekuatan (strength), bisa disebut kawan atau orang-orang yang dekat dengan kita, keluarga, guru, dsb. Secara otomatis ketika manusia mengenal dan mengetahui berbagai hal yang dapat mengancam, serta berbagai hal yang dapat memberikan keuntungan untuk dirinya, baru manusia memikirkan aktivitas-aktivitas dalam bentuk program kerja. Dalam pelaksanaannya, manusia harus melibatkan dirinya sendiri untuk mengontrol dan mengevaluasi. Evaluasi sangat penting karena kesalahan-kesalahan adalah bahan rekomendasi untuk masa selanjutnya, untuk mengarungi bahtera kehidupan. Ada yang mengatakan ”guru yang paling baik adalah pengalaman”. Serangkaian dari proses evaluasi terhadap diri manusia itu sendiri belajar dari pengalaman.

Dari berbagai tajuk rencana dan kegiatan yang sudah dibuat lalu menjadi program kerja, kira-kira adakah program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang? Jika ada, pikiran manusia tetap harus konsisten atau istiqamah dalam satu kegiatan yang itu bernilai menurut Tuhan, baik kegiatan salat berjamaah, mengaji, bersedekah, menolong orang lain yang membutuhkan, atau ibadah haji jika itu tidak termasuk dalam program jangka panjang.

Baca Juga :  Gua di Kangean Dihuni Manusia Prasejarah

Dari kegiatan yang dipilih, satu pesan dari senior saya, jangan terlalu banyak membuat kegiatan sedang itu tidak bisa meningkatkan kualitas diri manusia itu sendiri. Maka pada kesimpulannya manusia akan mendapatkan nilai zero atau kosong. Karena itu, membuat program harus disesuaikan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan nalar logika manusia. Sesuai dengan kemampuan.

Jika tidak mampu melaksanakan ibadah haji, tidak perlu terlalu muluk-muluk melaksanakan ibadah haji. Jika tidak mampu melakukan sedekah tidak usah bersedekah karena itu akan membuat kita melakukan sesuatu yang menyimpang dari syariah. Bisa saja manusia bersedekah dengan harta yang haram, atau bisa saja manusia naik haji dengan hasil curian. Maka dalam organisasi itu dikenal dengan  pelanggaran terhadap AD/ART.

Agar manusia tidak melanggar AD/ART atau ajaran dalam Alquran, manusia harus membuat program kerja sesuai konteks dan kemampuan. Sayangnya, banyak di belahan bumi ini ditemukan manusia yang rakus dan egois sehingga melakukan rancangan program kerja yang melampaui batas kemampuannya sendiri. Bahkan nabi pernah mengibaratkan manusia tersebut layaknya memikul beban terlalu berat sedang ia terlindas dengan beban yang dipikulnya sampai mati.

Jadilah manusia yang mempunyai rancangan kegiatan dengan baik, tidak berlebihan, dan tidak rakus—manusia yang mampu memanfaatkan momen tertentu—untuk menggapai rida Tuhan. Perbuatan yang tak diridai oleh Tuhan sama halnya dengan laporan pertanggungjawaban (LPj) yang ditolak. Wallahu a’lam.

 

*)Calon sarjana Ushuluddin Instika, asal Grujugan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Membuka Tirai yang Membelenggu

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Most Read

Artikel Terbaru

/