alexametrics
20.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Masih Adakah Anga’ hoo di Sumenep?

MEREKA yang pernah hidup di era 1990-an pasti masih ingat dengan ujaran-ujaran seperti ini: anga’ ho; akulot, Le’; dan asonglot, Le’. Tiga frasa kebudayaan itu pernah diujarkan di tengah keramaian jalanan Sumenep ketika melihat wanita-wanita berpenampilan ”lain” daripada penampilan wanita Madura pada umumnya.

Saat itu, jangankan rok mini, memakai kulot saja, sejenis celana longgar yang sebenarnya masih dalam batas kesopanan, sudah disorak orang-orang di jalanan Sumenep. Masyarakat tak sungkan untuk meneriakkan protes sosial yang tak ada dalam strukturalisme kebudayaan mapan saat itu.

Anga’ ho dan sejenisnya tampil tanpa pakem tertentu. Teriakannya bebas meski terbelit kungkungan Orde Baru yang punya aturan tak boleh berbicara seenaknya sendiri. Anga’ ho juga hadir mengiringi film-film panas di Bioskop Jaya Sumenep paro kedua era 1990-an. Ungkapan anga’ ho dan asonglot le’ biasa disematkan kepada film-film bergenre hangat seperti Gairah Malam, Gairah Binal, Gairah Terlarang, Macho plus aktris-aktrisnya sekalian.

Anga’ dalam bahasa Madura artinya hangat. Ungkapan anga’ ho diutarakan bagi fenomena terbukanya aurat wanita di depan publik. Diksi psikologisnya mirip ”aura panas” respons penikmat tontonan mengejutkan itu. Sama dengan asonglot le’ yang juga mengkritik terbukanya area dekat-dekat keintiman wanita di mana mata sembarang orang bisa menikmati. Sedang akulot le’ lebih kepada sindiran tentang sesuatu yang lain yang tak sama dengan budaya Madura pada aslinya.

Anga’ ho tak hanya sebuah ujaran sarkastis tentang fenomena sosial tak sepantasnya yang hadir di tengah masyarakat. Sebagaimana karakternya yang berciri slang, anga’ ho hadir dengan masyarakat pendukungnya sendiri. Selain sebagai kritik atas kesusilaan yang mulai terlanggar, ujaran anga’ ho juga menyiratkan satu bentuk oposisi terhadap ”kesantunan” para parjaji (priyayi) yang punya tata krama sendiri dalam mengkritik sebuah fenomena tak sopan.

Para parjaji memiliki area kesopanannya sendiri sebagaimana kaum santri yang meneriakkan kritisisme itu dalam ruang ritual keagamaan. Para keyae dan santre biasanya mengkritik tata nilai yang mulai terlanggar dengan ceramah agama dalam bilik-bilik musala dan masjid. Para parjaji dan kaum terpelajar membincangkan dalam pranata keluarga agar sikap tak sesuai budaya leluhur ditinggalkan jauh-jauh. Institusi sekolah era 1990-an juga hadir dengan pelajaran PMP, agama, dan bahasa Madura untuk membendung budaya mengumbar aurat yang dilabeli sebagai budaya Barat itu.

Baca Juga :  Cara Bahagia di Pengantar Kebahagiaan

Memang, anga’ ho merupakan ujaran sarkartis yang tiba-tiba muncul dalam ruang publik dan diteriakkan oleh ingar bingar kaum kelas menengah ke bawah. Bagi kalangan atas Sumenep dan kalangan terpelajar, ucapan sarkastis anga’ ho, asonglot le’, dan akulot le’ merupakan sinisme kebudayaan yang tak santun. Bahkan, penulis masih ingat, di era 1990-an itu, terjadi pertengkaran antara seorang yang berteriak dengan ucapan anga’ ho dengan seorang wanita yang diteriaki demikian.

Istilah colo’ pasar juga sering penulis dengar sebagai umpatan terhadap mereka yang meneriakkan anga’ ho di tengah jalan. Memang ungkapan anga’ ho itu biasanya diucapkan oleh kalangan tukang becak yang sedang mangkal di pinggir jalan ketika melihat wanita-wanita berbaju seronok melintas.

Terlepas dari kontroversi itu, inilah keunikan strukturalisme anga’ ho. Sindirannya tegas tanpa bias, diteriakkan spontan tanpa pakem, serta tak memiliki konsekuensi apa pun kecuali sekadar balik diteriaki sebagai oreng ta’ tao atoran. Anga’ ho yang bercitarasa kalangan bawah itu penting sebagai spirit kontrol masif mana kala kalangan parjaji dan agamawan tak bisa bersuara di ruang yang lebih luas. Justru karena tata krama yang dianutnya, terkadang, kalangan parjaji dan kaum santre sebagai pemegang nilai luhur itu tersandera.

Di sinilah kelebihan anga’ ho, karena diteriakkan kalangan jalanan yang tak mengenal pakem kecuali pakem kebudayaan jalanan, spiritnya justru tampil dengan sikap heroik tanpa harus disemati sebagai kritikus sosial.

Kini, Sumenep butuh kenaikan ekonomi baru, barang-barang khas kota ini dapat laris dijual di pasaran nasional, bahkan internasional. Demi perdagangan, terkadang ada nilai-nilai baru yang tak cocok terselip di percaturan periklanan. Pamer paha, pusar, dan pinggang yang tampil hypercare beberapa hari lalu bisa jadi nilai spontan yang terselip tiba-tiba.

Anehnya, pamer paha itu tampil tanpa sorakan kecuali rasan-rasan geli para penonton dan obrolan sporadis di media sosial. Masyarakat kita yang telah terlanda hipersosial tak lagi membawa dalam dunia nyata. Saya sempat berpikir, apakah pentas gratis di ruang terbuka itu tak ditonton kalangan jalanan yang secara spontan sering mengucapkan sinisme tanpa sungkan. Apakah kontrol jalanan telah mati. Atau, jangan-jangan teosofi dan teknosofi Sumenep telah leleh menjadi libidosofi yang dianggap wajar.

Baca Juga :  Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat

Taman Bunga harusnya tetap berfilosofikan alun-alun Sumenep. Pola kulturalnya mengikuti filosofi budaya Jawa yang mempertautkan keraton, masjid, pasar, dan alun-alun sendiri. Di alun-alun orang bisa berefleksi dengan kontemplasi nilai leluhur. Alun-alun tak boleh menjadi hypermall, di mana orang justru berprinsip i shop there for i am.

Dulu, alun-alun menjadi tempat berkumpul segala kalangan untuk mendengarkan arahan raja dan ulama. Babad Sumenep menceritakan berkumpulnya rakyat ketika suasana genting melanda Sumenep. Jika ada pentas paha di alun-alun, ini telah menambah deretan sakralitas yang terinterupsi. Diakui atau tidak, beberapa tahun terakhir, reduksi penghormatan terhadap simbol-simbol kultural Sumenep banyak terjadi. Dangdutan di depan Masjid Jamik, juga dulu waktu PKL masih di Taman Bunga sering ada kebut-kebutan remaja di depan keraton setiap malam minggu. Kini, ada pentas paha di Taman Bunga.

Penjaga moral di Sumenep itu selain kaum ulama dan santri adalah juga para parjaji dan seluruh masyarakat. Parjaji yang disebut para agus keturunan keraton. Semua pilar ini berperan teguh dalam menjaga susila Madura. Inilah mainstream kesantunan Madura. Tapi, kalangan  bawah tak bisa diabaikan. Abang becak, pedagang kaki lima, juru parkir, dan semua yang di jalan yang memiliki kuasa kritik.

Kalangan bawah inilah yang sebenarnya bersentuhan langsung dengan aspek ruang terbuka. Ujaran anga’ ho bisa jadi telah berakhir dan berganti zaman baru yang lebih sopan. Namun, rangsangan panas anga’ ho sepertinya masih ada dan akan terus ada seiring penetrasi turisme.

Kita berharap spirit anga’ ho tak luntur, namun disampaikan dengan lebih santun, terbuka, dan dinamis. Kita tak berharap anga’ ho itu menjadi fosil kebudayaan yang mati. Kita berharap ujaran kritis itu tetap hidup, namun bukan dengan logika jalanan yang kasar. Kita juga berharap filosofi alun-alun, masjid, keraton pada Taman Bunga tengah kota itu tetap terjaga.

*)Alumnus Hubungan Internasional FISIP Unej. Berdomisili di Sumenep.

- Advertisement -

MEREKA yang pernah hidup di era 1990-an pasti masih ingat dengan ujaran-ujaran seperti ini: anga’ ho; akulot, Le’; dan asonglot, Le’. Tiga frasa kebudayaan itu pernah diujarkan di tengah keramaian jalanan Sumenep ketika melihat wanita-wanita berpenampilan ”lain” daripada penampilan wanita Madura pada umumnya.

Saat itu, jangankan rok mini, memakai kulot saja, sejenis celana longgar yang sebenarnya masih dalam batas kesopanan, sudah disorak orang-orang di jalanan Sumenep. Masyarakat tak sungkan untuk meneriakkan protes sosial yang tak ada dalam strukturalisme kebudayaan mapan saat itu.

Anga’ ho dan sejenisnya tampil tanpa pakem tertentu. Teriakannya bebas meski terbelit kungkungan Orde Baru yang punya aturan tak boleh berbicara seenaknya sendiri. Anga’ ho juga hadir mengiringi film-film panas di Bioskop Jaya Sumenep paro kedua era 1990-an. Ungkapan anga’ ho dan asonglot le’ biasa disematkan kepada film-film bergenre hangat seperti Gairah Malam, Gairah Binal, Gairah Terlarang, Macho plus aktris-aktrisnya sekalian.


Anga’ dalam bahasa Madura artinya hangat. Ungkapan anga’ ho diutarakan bagi fenomena terbukanya aurat wanita di depan publik. Diksi psikologisnya mirip ”aura panas” respons penikmat tontonan mengejutkan itu. Sama dengan asonglot le’ yang juga mengkritik terbukanya area dekat-dekat keintiman wanita di mana mata sembarang orang bisa menikmati. Sedang akulot le’ lebih kepada sindiran tentang sesuatu yang lain yang tak sama dengan budaya Madura pada aslinya.

Anga’ ho tak hanya sebuah ujaran sarkastis tentang fenomena sosial tak sepantasnya yang hadir di tengah masyarakat. Sebagaimana karakternya yang berciri slang, anga’ ho hadir dengan masyarakat pendukungnya sendiri. Selain sebagai kritik atas kesusilaan yang mulai terlanggar, ujaran anga’ ho juga menyiratkan satu bentuk oposisi terhadap ”kesantunan” para parjaji (priyayi) yang punya tata krama sendiri dalam mengkritik sebuah fenomena tak sopan.

Para parjaji memiliki area kesopanannya sendiri sebagaimana kaum santri yang meneriakkan kritisisme itu dalam ruang ritual keagamaan. Para keyae dan santre biasanya mengkritik tata nilai yang mulai terlanggar dengan ceramah agama dalam bilik-bilik musala dan masjid. Para parjaji dan kaum terpelajar membincangkan dalam pranata keluarga agar sikap tak sesuai budaya leluhur ditinggalkan jauh-jauh. Institusi sekolah era 1990-an juga hadir dengan pelajaran PMP, agama, dan bahasa Madura untuk membendung budaya mengumbar aurat yang dilabeli sebagai budaya Barat itu.

Baca Juga :  Pesantren Ujung Tombak Pendidikan

Memang, anga’ ho merupakan ujaran sarkartis yang tiba-tiba muncul dalam ruang publik dan diteriakkan oleh ingar bingar kaum kelas menengah ke bawah. Bagi kalangan atas Sumenep dan kalangan terpelajar, ucapan sarkastis anga’ ho, asonglot le’, dan akulot le’ merupakan sinisme kebudayaan yang tak santun. Bahkan, penulis masih ingat, di era 1990-an itu, terjadi pertengkaran antara seorang yang berteriak dengan ucapan anga’ ho dengan seorang wanita yang diteriaki demikian.

Istilah colo’ pasar juga sering penulis dengar sebagai umpatan terhadap mereka yang meneriakkan anga’ ho di tengah jalan. Memang ungkapan anga’ ho itu biasanya diucapkan oleh kalangan tukang becak yang sedang mangkal di pinggir jalan ketika melihat wanita-wanita berbaju seronok melintas.

Terlepas dari kontroversi itu, inilah keunikan strukturalisme anga’ ho. Sindirannya tegas tanpa bias, diteriakkan spontan tanpa pakem, serta tak memiliki konsekuensi apa pun kecuali sekadar balik diteriaki sebagai oreng ta’ tao atoran. Anga’ ho yang bercitarasa kalangan bawah itu penting sebagai spirit kontrol masif mana kala kalangan parjaji dan agamawan tak bisa bersuara di ruang yang lebih luas. Justru karena tata krama yang dianutnya, terkadang, kalangan parjaji dan kaum santre sebagai pemegang nilai luhur itu tersandera.

Di sinilah kelebihan anga’ ho, karena diteriakkan kalangan jalanan yang tak mengenal pakem kecuali pakem kebudayaan jalanan, spiritnya justru tampil dengan sikap heroik tanpa harus disemati sebagai kritikus sosial.

Kini, Sumenep butuh kenaikan ekonomi baru, barang-barang khas kota ini dapat laris dijual di pasaran nasional, bahkan internasional. Demi perdagangan, terkadang ada nilai-nilai baru yang tak cocok terselip di percaturan periklanan. Pamer paha, pusar, dan pinggang yang tampil hypercare beberapa hari lalu bisa jadi nilai spontan yang terselip tiba-tiba.

Anehnya, pamer paha itu tampil tanpa sorakan kecuali rasan-rasan geli para penonton dan obrolan sporadis di media sosial. Masyarakat kita yang telah terlanda hipersosial tak lagi membawa dalam dunia nyata. Saya sempat berpikir, apakah pentas gratis di ruang terbuka itu tak ditonton kalangan jalanan yang secara spontan sering mengucapkan sinisme tanpa sungkan. Apakah kontrol jalanan telah mati. Atau, jangan-jangan teosofi dan teknosofi Sumenep telah leleh menjadi libidosofi yang dianggap wajar.

Baca Juga :  Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat

Taman Bunga harusnya tetap berfilosofikan alun-alun Sumenep. Pola kulturalnya mengikuti filosofi budaya Jawa yang mempertautkan keraton, masjid, pasar, dan alun-alun sendiri. Di alun-alun orang bisa berefleksi dengan kontemplasi nilai leluhur. Alun-alun tak boleh menjadi hypermall, di mana orang justru berprinsip i shop there for i am.

Dulu, alun-alun menjadi tempat berkumpul segala kalangan untuk mendengarkan arahan raja dan ulama. Babad Sumenep menceritakan berkumpulnya rakyat ketika suasana genting melanda Sumenep. Jika ada pentas paha di alun-alun, ini telah menambah deretan sakralitas yang terinterupsi. Diakui atau tidak, beberapa tahun terakhir, reduksi penghormatan terhadap simbol-simbol kultural Sumenep banyak terjadi. Dangdutan di depan Masjid Jamik, juga dulu waktu PKL masih di Taman Bunga sering ada kebut-kebutan remaja di depan keraton setiap malam minggu. Kini, ada pentas paha di Taman Bunga.

Penjaga moral di Sumenep itu selain kaum ulama dan santri adalah juga para parjaji dan seluruh masyarakat. Parjaji yang disebut para agus keturunan keraton. Semua pilar ini berperan teguh dalam menjaga susila Madura. Inilah mainstream kesantunan Madura. Tapi, kalangan  bawah tak bisa diabaikan. Abang becak, pedagang kaki lima, juru parkir, dan semua yang di jalan yang memiliki kuasa kritik.

Kalangan bawah inilah yang sebenarnya bersentuhan langsung dengan aspek ruang terbuka. Ujaran anga’ ho bisa jadi telah berakhir dan berganti zaman baru yang lebih sopan. Namun, rangsangan panas anga’ ho sepertinya masih ada dan akan terus ada seiring penetrasi turisme.

Kita berharap spirit anga’ ho tak luntur, namun disampaikan dengan lebih santun, terbuka, dan dinamis. Kita tak berharap anga’ ho itu menjadi fosil kebudayaan yang mati. Kita berharap ujaran kritis itu tetap hidup, namun bukan dengan logika jalanan yang kasar. Kita juga berharap filosofi alun-alun, masjid, keraton pada Taman Bunga tengah kota itu tetap terjaga.

*)Alumnus Hubungan Internasional FISIP Unej. Berdomisili di Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Membuka Tirai yang Membelenggu

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Most Read

Artikel Terbaru

/