alexametrics
28.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Membaca Kehadiran Jazz di Madura

 ADA yang baru dalam rangkaian Hari Jadi Ke-748 Sumenep. Bertajuk Songennep Jazz & Culture Festival. Masyarakat Sumenep disuguhi sajian musik bergenre jazz. Pemkab Sumenep menghelat event ini di jantung kota pada Sabtu (11/11).

Ini tercatat sebagai festival jazz pertama di Sumenep, bahkan di bumi Madura. Demikian klaim panitia. Hadirnya jazz di Madura ini penting kemudian untuk dibaca dalam konstelasi kemaduraan.

Jazz dimafhumi bersama adalah salah satu genre musik yang terbatas penikmatnya. Notasinya yang rumit dan memerlukan skill bermusik mumpuni adalah alasan penguat mengapa tidak masyhur secara masif. Untuk menikmati diperlukan pengalaman rasa dan bermusik yang spesifik dan intens.

Menghadirkan suguhan karakter musik jazz yang tak masal dan familier di telinga masyarakat awam mengandung risiko. Jika di-ranking, dalam konteks musik sebagai hiburan, paling sering masyarakat Sumenep (dan Madura) rajin disuguhi konser musik dangdut. Dangdut menjiwai keseharian masyarakat Madura. Orkes melayu banyak bermunculan di berbagai sudut kabupaten. Ketika berjalan ke kampung-kampung, jangan kaget jika antarrumah membunyikan media audio secara keras. Bisa dipastikan musik dangdut yang tertinggi diperdengarkan.

Fenomena dangdut yang begitu kental mewarnai keseharian manusia Madura melahirkan beberapa penyanyi dangdut yang menasional. Imam S. Arifin menciptakan banyak lagu populer. Yus Yunus, musisi dangdut keturunan Arab, terkenal dengan tembang Sapu Tangan Merah. Lagu ini dibuka dengan lirik: Adhu ale’ se raddin manes, bagus onggu tengka gulina. Pada era dangdut zaman now, muncul fenomena Irwan D’Academia.

Urutan berikutnya adalah musik pop yang easy listening dan tipikal. Ini menyasar pasar remaja.  Lagu pop ini bercirikan notasi simpel dan lirik mudah dihafal (namun mudah dilupakan pada saat bersamaan).

Maka, pergelaran musik jazz pertama ini sebentuk uji pasar. Inisiasi awal ini kemudian diterjemahkan penyelenggara dalam bentuk, pertama, menggratiskan pertunjukan dan dilaksanakan akhir pekan. Kedua, musik dan musisi jazz yang dihadirkan mengakomodasi segmentasi penikmat berbeda. Aroma jazz tetap menjadi suguhan mayoritas, namun bukanlah jazz yang kental. Lebih ke arah fusion jazz. Sebagaimana namanya (fusi, percampuran), sentuhan jazz disajikan dikombinasikan dengan genre musik lain sehingga tidak serupa pola jazz standar.

Baca Juga :  Sandal Kiai dan Distingsi Barokah

Beberapa musisi penampil awal meracik lagu-lagu pop, juga dangdut, dengan aransemen jazzy. Beberapa lagu seperti Akad-nya Payung Teduh. Bahkan yang lagi hit dibawakan biduanita dangdut Via Valen, Sayang diaransemen dengan sentuhan jazz. Lagu dari grup band rock legendaris Toto juga menjadi salah satu lagu yang ditetesi aroma jazz.

Bintang tamu yang menjadi maskot acara adalah dua musisi beda generasi. Citra Scholastika, penyanyi imut jebolan ajang pencarian bakat merangkul penonton muda. Lagu-lagunya yang sweet diberi sentuhan aransemen jazz yang light. Aku Pasti Bisa, Galau, Sadis adalah deretan lagu yang berhasil mengajak penonton bernyanyi bersama. Everybody Knew memungkasi keriaan bersama artis berparas ayu ini.

Sebagai penampil akhir, tampillah musisi yang juga legenda hidup, Mus Mujiono. Pengunjung berusia 30–40-an ke atas adalah segmentasi pasar yang dibidik atas kehadiran adik musisi Mus Mulyadi ini. Mus membuka dengan tembang yang dipopulerkan Utha Likumahuwa, Esok kan Masih Ada.

Berturut-turut sejumlah lagu hit Mus Mujiono seperti Satu Jam Lagi, Mesra, Suara Hati dilantunkan. Lagu milik 2D (Deddy Dhukun dan Dian PP) Kerinduan juga dibawakan. Pada tembang Arti Kehidupan, Mus mengajak duet seorang rocker kenamaan asal Sumenep era 1990-an, Encunk Hariyadi. Tanda-Tanda memungkasi pergelaran jazz perdana ini saat waktu sudah melewati tengah malam.

Ide pergelaran musik jazz bagi masyarakat Sumenep (dan Madura secara umum) adalah sebentuk terobosan menarik. Kehadirannya laksana sebuah edukasi bahwa musik tidak melulu dangdut dan pop/rock. Secara pasar, penikmat jazz memang tidak masal. Tapi, mereka adalah konsumen loyal dan setia. Dalam ilmu marketing (pemasaran), jazz ini merupakan ceruk pasar yang tidak diisi banyak produsen, juga konsumen. Namun, ia adalah pasar spesifik yang secara segmentasi dan positioning sudah jelas keberadaannya. Inilah yang disebut Kotler (2003) sebagai niche market.

Dalam posisi keunikan pasar itulah tidak mengherankan beberapa daerah mencoba mengusung tema jazz ini sebagai penarik wisatawan. Jika biasanya jazz hanya ada di ibu kota negara (Jak Jazz dan Java Jazz yang rutin diselenggarakan saban tahun), maka jazz kemudian hadir di pelbagai daerah. Tempatnya pun tak lagi monoton di dalam concert hall. Tercatat beberapa event menjadi jujukan penikmat musik karena keunikan konsep penyelenggaraan. Sebut saja Jazz Gunung di Probolinggo, Ijen Jazz Banyuwangi, Dieng Culture Festival di Wonosobo, Ngayogjazz di Jogjakarta, dan lain-lain.

Baca Juga :  Melacak Alam Imaji Sastra Pelajar

Konsep yang unik dan menarik serta promosi yang gencar ini bisa direplikasi oleh pemkab di Madura jika hendak mengusung musik jazz. Pemerintah daerah perlu serius menggarap sektor pariwisata semacam ini, mengingat besarnya trickle down effect secara ekonomi. Ketika wisatawan datang, ia membawa uang untuk diputar. Penginapan, kuliner, industri kreatif, jasa transportasi dan seterusnya akan mencicipi limpahan uang yang dikeluarkan turis.

Selain wisata religi, beberapa tahun terakhir wisata alam mulai digarap masif. Eksotika perairan dan pulau-pulau kecil di Sumenep pelan-pelan kesohor. Segitiga emas: Gili Labak (pantai berterumbu karang indah), Gili Iyang (pulau dengan kadar oksigen tertinggi kedua dunia), dan Pantai Sembilan adalah idola baru jujukan wisata.

Ke depan, pergelaran jazz ini juga bisa menjadi wisata andalan. Ceruk pasar yang spesifik pada diri penggemar musik jazz adalah sektor yang harus digarap. Lebih-lebih para pencinta jazz ini berasal dari kalangan berada. Mereka tidak segan merogoh kantong guna menikmati jazz. Hanya perlu memikirkan konsep penyelenggaraan yang khas. Misalkan saja, pemkab dengan menggandeng masyarakat lain, bisa mengadakan festival jazz di Gili Iyang. Menikmati sajian jazz sembari menghirup oksigen nan segar adalah pengalaman yang bisa ”dipasarkan” secara ekonomi jika dikonsep dengan baik.

Memadukan pementasan jazz dengan warisan seni-budaya lokal adalah hal penting untuk mengangkat budaya Madura. Secara penamaan, Songenep Jazz and Culture Festival 2017 sudah tepat. Namun, eksekusi malam itu belum menghadirkan nuansa budaya lokal (culture) itu. Konsep mengenalkan seni tari, musik tradisional, motif batik, dan seni lainnya adalah ikhtiar yang penting dipikirkan secara berkelanjutan.

Dalam konteks aroma fusion jazz misalkan pula, kolaborasi jazz dengan saronen, ngejung, dan seterusnya adalah sajian menarik dan unik. Selain dapat melestarikan seni budaya, usaha menyejahterakan masyarakat melalui sektor pariwisata adalah niscaya. 

 

*)Warga Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura. Lahir dan besar di Sumenep. Penikmat awam musik.

 

 ADA yang baru dalam rangkaian Hari Jadi Ke-748 Sumenep. Bertajuk Songennep Jazz & Culture Festival. Masyarakat Sumenep disuguhi sajian musik bergenre jazz. Pemkab Sumenep menghelat event ini di jantung kota pada Sabtu (11/11).

Ini tercatat sebagai festival jazz pertama di Sumenep, bahkan di bumi Madura. Demikian klaim panitia. Hadirnya jazz di Madura ini penting kemudian untuk dibaca dalam konstelasi kemaduraan.

Jazz dimafhumi bersama adalah salah satu genre musik yang terbatas penikmatnya. Notasinya yang rumit dan memerlukan skill bermusik mumpuni adalah alasan penguat mengapa tidak masyhur secara masif. Untuk menikmati diperlukan pengalaman rasa dan bermusik yang spesifik dan intens.


Menghadirkan suguhan karakter musik jazz yang tak masal dan familier di telinga masyarakat awam mengandung risiko. Jika di-ranking, dalam konteks musik sebagai hiburan, paling sering masyarakat Sumenep (dan Madura) rajin disuguhi konser musik dangdut. Dangdut menjiwai keseharian masyarakat Madura. Orkes melayu banyak bermunculan di berbagai sudut kabupaten. Ketika berjalan ke kampung-kampung, jangan kaget jika antarrumah membunyikan media audio secara keras. Bisa dipastikan musik dangdut yang tertinggi diperdengarkan.

Fenomena dangdut yang begitu kental mewarnai keseharian manusia Madura melahirkan beberapa penyanyi dangdut yang menasional. Imam S. Arifin menciptakan banyak lagu populer. Yus Yunus, musisi dangdut keturunan Arab, terkenal dengan tembang Sapu Tangan Merah. Lagu ini dibuka dengan lirik: Adhu ale’ se raddin manes, bagus onggu tengka gulina. Pada era dangdut zaman now, muncul fenomena Irwan D’Academia.

Urutan berikutnya adalah musik pop yang easy listening dan tipikal. Ini menyasar pasar remaja.  Lagu pop ini bercirikan notasi simpel dan lirik mudah dihafal (namun mudah dilupakan pada saat bersamaan).

Maka, pergelaran musik jazz pertama ini sebentuk uji pasar. Inisiasi awal ini kemudian diterjemahkan penyelenggara dalam bentuk, pertama, menggratiskan pertunjukan dan dilaksanakan akhir pekan. Kedua, musik dan musisi jazz yang dihadirkan mengakomodasi segmentasi penikmat berbeda. Aroma jazz tetap menjadi suguhan mayoritas, namun bukanlah jazz yang kental. Lebih ke arah fusion jazz. Sebagaimana namanya (fusi, percampuran), sentuhan jazz disajikan dikombinasikan dengan genre musik lain sehingga tidak serupa pola jazz standar.

Baca Juga :  Hikmah Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng

Beberapa musisi penampil awal meracik lagu-lagu pop, juga dangdut, dengan aransemen jazzy. Beberapa lagu seperti Akad-nya Payung Teduh. Bahkan yang lagi hit dibawakan biduanita dangdut Via Valen, Sayang diaransemen dengan sentuhan jazz. Lagu dari grup band rock legendaris Toto juga menjadi salah satu lagu yang ditetesi aroma jazz.

Bintang tamu yang menjadi maskot acara adalah dua musisi beda generasi. Citra Scholastika, penyanyi imut jebolan ajang pencarian bakat merangkul penonton muda. Lagu-lagunya yang sweet diberi sentuhan aransemen jazz yang light. Aku Pasti Bisa, Galau, Sadis adalah deretan lagu yang berhasil mengajak penonton bernyanyi bersama. Everybody Knew memungkasi keriaan bersama artis berparas ayu ini.

Sebagai penampil akhir, tampillah musisi yang juga legenda hidup, Mus Mujiono. Pengunjung berusia 30–40-an ke atas adalah segmentasi pasar yang dibidik atas kehadiran adik musisi Mus Mulyadi ini. Mus membuka dengan tembang yang dipopulerkan Utha Likumahuwa, Esok kan Masih Ada.

Berturut-turut sejumlah lagu hit Mus Mujiono seperti Satu Jam Lagi, Mesra, Suara Hati dilantunkan. Lagu milik 2D (Deddy Dhukun dan Dian PP) Kerinduan juga dibawakan. Pada tembang Arti Kehidupan, Mus mengajak duet seorang rocker kenamaan asal Sumenep era 1990-an, Encunk Hariyadi. Tanda-Tanda memungkasi pergelaran jazz perdana ini saat waktu sudah melewati tengah malam.

Ide pergelaran musik jazz bagi masyarakat Sumenep (dan Madura secara umum) adalah sebentuk terobosan menarik. Kehadirannya laksana sebuah edukasi bahwa musik tidak melulu dangdut dan pop/rock. Secara pasar, penikmat jazz memang tidak masal. Tapi, mereka adalah konsumen loyal dan setia. Dalam ilmu marketing (pemasaran), jazz ini merupakan ceruk pasar yang tidak diisi banyak produsen, juga konsumen. Namun, ia adalah pasar spesifik yang secara segmentasi dan positioning sudah jelas keberadaannya. Inilah yang disebut Kotler (2003) sebagai niche market.

Dalam posisi keunikan pasar itulah tidak mengherankan beberapa daerah mencoba mengusung tema jazz ini sebagai penarik wisatawan. Jika biasanya jazz hanya ada di ibu kota negara (Jak Jazz dan Java Jazz yang rutin diselenggarakan saban tahun), maka jazz kemudian hadir di pelbagai daerah. Tempatnya pun tak lagi monoton di dalam concert hall. Tercatat beberapa event menjadi jujukan penikmat musik karena keunikan konsep penyelenggaraan. Sebut saja Jazz Gunung di Probolinggo, Ijen Jazz Banyuwangi, Dieng Culture Festival di Wonosobo, Ngayogjazz di Jogjakarta, dan lain-lain.

Baca Juga :  Melacak Alam Imaji Sastra Pelajar

Konsep yang unik dan menarik serta promosi yang gencar ini bisa direplikasi oleh pemkab di Madura jika hendak mengusung musik jazz. Pemerintah daerah perlu serius menggarap sektor pariwisata semacam ini, mengingat besarnya trickle down effect secara ekonomi. Ketika wisatawan datang, ia membawa uang untuk diputar. Penginapan, kuliner, industri kreatif, jasa transportasi dan seterusnya akan mencicipi limpahan uang yang dikeluarkan turis.

Selain wisata religi, beberapa tahun terakhir wisata alam mulai digarap masif. Eksotika perairan dan pulau-pulau kecil di Sumenep pelan-pelan kesohor. Segitiga emas: Gili Labak (pantai berterumbu karang indah), Gili Iyang (pulau dengan kadar oksigen tertinggi kedua dunia), dan Pantai Sembilan adalah idola baru jujukan wisata.

Ke depan, pergelaran jazz ini juga bisa menjadi wisata andalan. Ceruk pasar yang spesifik pada diri penggemar musik jazz adalah sektor yang harus digarap. Lebih-lebih para pencinta jazz ini berasal dari kalangan berada. Mereka tidak segan merogoh kantong guna menikmati jazz. Hanya perlu memikirkan konsep penyelenggaraan yang khas. Misalkan saja, pemkab dengan menggandeng masyarakat lain, bisa mengadakan festival jazz di Gili Iyang. Menikmati sajian jazz sembari menghirup oksigen nan segar adalah pengalaman yang bisa ”dipasarkan” secara ekonomi jika dikonsep dengan baik.

Memadukan pementasan jazz dengan warisan seni-budaya lokal adalah hal penting untuk mengangkat budaya Madura. Secara penamaan, Songenep Jazz and Culture Festival 2017 sudah tepat. Namun, eksekusi malam itu belum menghadirkan nuansa budaya lokal (culture) itu. Konsep mengenalkan seni tari, musik tradisional, motif batik, dan seni lainnya adalah ikhtiar yang penting dipikirkan secara berkelanjutan.

Dalam konteks aroma fusion jazz misalkan pula, kolaborasi jazz dengan saronen, ngejung, dan seterusnya adalah sajian menarik dan unik. Selain dapat melestarikan seni budaya, usaha menyejahterakan masyarakat melalui sektor pariwisata adalah niscaya. 

 

*)Warga Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura. Lahir dan besar di Sumenep. Penikmat awam musik.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Membuka Tirai yang Membelenggu

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Most Read

Pabrikan Tidak Transparan

Atap Rusak, Siswa SDN Belajar Luar Kelas

Artikel Terbaru

/