alexametrics
22.6 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Tidak Nakal dan Anarkistis

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Seiring perkembangan zaman, sepak bola tidak hanya menjadi olahraga yang disukai oleh kaum adam. Banyak perempuan yang juga kesengsem dengan olahraga sebelas pemain di tiap tim tersebut.

Salah satu perempuan yang gila bola (gibol) adalah Aisyah Maulidiya. Perempuan asal Jalan Jeruk, VII Perumnas Kamal, Kecamatan Kamal, Bangkalan, itu mencintai olahraga si kulit bundar karena keluarganya yang juga gibol.

”Dari bapak, ibu, dan kakak semuanya suka menonton bola. Dulu sebelum ada Persepam dan Madura United, nontonnya Persebaya langsung ke Tambak Sari (Stadion Gelora 10 November),” ucap perempuan kelahiran Bangkalan, 14 Juni 1999 itu.

Gairah kecintaan terhadap dunia sepak bola kian berkembang saat dirinya mengenyam pendidikan di MTsN Bangkalan. Lokasi sekolah yang berdekatan dengan Stadion Gelora Bangkalan (SGB) membuatnya semakin akrab dengan sepak bola.

”Dulu waktu Persepam Pamekasan dan Perseba Bangkalan masih gratis. Setelah pulang sekolah kadang mampir dulu ke SBG menonton pertandingan,” imbuhnya. Lulus MTsN, dia lanjut ke MAN Bangkalan. Masih berdekatan dengan SBG.

Baca Juga :  Keperkasaan PSM Terhenti di SGB

Keseringan menonton pertandingan secara langsung, dirinya terdorong untuk bergabung dengan ke kelompok suporter. Namun saat Aisyah izin kepada kedua orang tua, keinginan itu tidak diamini. Hanya karena dirinya seorang perempuan.

Pada saat Persepam Madura United berlaga di Divisi Utama pada 2012, Aisyah menonton pertandingan secara langsung. Agar mendapat izin dari orang tua, dia mengajak kakak dan sepupunya. ”Kebetulan sepupuku waktu itu kenal dengan anak-anak Mabes (Madura Bersatu) saat itu dan kita menonton di belakang drummer,” kata perempuan yang saat ini bekerja sebagai barista di Kota Salak itu.

Dari situlah awal mula dia berkenalan dengan pengurus dan anggota kelompok Mabes. Keakraban semakin terjalin membawa dirinya bergabung dengan kelompok suporter. Hingga akhirnya juga menjadi bagian dari kelompok suporter Cebbing (sebutan supporter perempuan).

Saat ini Aisyah aktif menjadi dirigen dengan memandu suporter untuk bersorak mendukung tim kecintaannya. Dirinya mengakui banyak menerima anggapan miring atas pilihannya itu. Tidak terkecuali dari orang-orang terdekat. Untuk menepis itu, dirinya membalas dengan sikapnya saat menjadi bidadari tribun.

Baca Juga :  Sudah Jatuh Hati pada Apparel Lama

”Saya tidak membalas dengan kata-kata, tetapi dengan sikap. Yaitu, dengan menunjukkan bahwa kita tidak nakal dan anarkistis,” imbuhnya.

Bagi Aisyah, sepak bola tidak hanya olahraga milik laki-laki. Saat ini banyak klub sepak bola perempuan. Jadi tidak salah kalau kaum hawa juga menggandrungi sepak bola. ”Perempuan harus diam saja di rumah? Tidaklah, kita semua punya hak sama untuk mmeilih apa yang kita suka,” tegasnya.

Aisyah mengaku sedih karena pandemi berdampak pada hobinya. Kegemarannya nonton ke stadion jadi terhenti. Tapi, dia menyadari bahwa memang seharusnya berdamai dengan keadaan. Tidak mendatangi stadion dan membuat kerumunan agar pandemi cepat selesai.

Dia punya harapan terhadap persepakbolaan Madura ke depan. Tidak muluk muluk. ”Semoga pandemi cepat berlalu agar kita bisa mendukung langsung di dalam stadion. Semoga persepakbolaan Madura semakin maju, khususnya Madura United yang berada di Liga 1. Semoga bisa juara,” harap Aisyah yang pada 14 Juni nanti akan berulang tahun ke-22. (jup)

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Seiring perkembangan zaman, sepak bola tidak hanya menjadi olahraga yang disukai oleh kaum adam. Banyak perempuan yang juga kesengsem dengan olahraga sebelas pemain di tiap tim tersebut.

Salah satu perempuan yang gila bola (gibol) adalah Aisyah Maulidiya. Perempuan asal Jalan Jeruk, VII Perumnas Kamal, Kecamatan Kamal, Bangkalan, itu mencintai olahraga si kulit bundar karena keluarganya yang juga gibol.

”Dari bapak, ibu, dan kakak semuanya suka menonton bola. Dulu sebelum ada Persepam dan Madura United, nontonnya Persebaya langsung ke Tambak Sari (Stadion Gelora 10 November),” ucap perempuan kelahiran Bangkalan, 14 Juni 1999 itu.

Gairah kecintaan terhadap dunia sepak bola kian berkembang saat dirinya mengenyam pendidikan di MTsN Bangkalan. Lokasi sekolah yang berdekatan dengan Stadion Gelora Bangkalan (SGB) membuatnya semakin akrab dengan sepak bola.

”Dulu waktu Persepam Pamekasan dan Perseba Bangkalan masih gratis. Setelah pulang sekolah kadang mampir dulu ke SBG menonton pertandingan,” imbuhnya. Lulus MTsN, dia lanjut ke MAN Bangkalan. Masih berdekatan dengan SBG.

Baca Juga :  Rifanissa Eka Pratiwi Jaga Martabat Perempuan

Keseringan menonton pertandingan secara langsung, dirinya terdorong untuk bergabung dengan ke kelompok suporter. Namun saat Aisyah izin kepada kedua orang tua, keinginan itu tidak diamini. Hanya karena dirinya seorang perempuan.

Pada saat Persepam Madura United berlaga di Divisi Utama pada 2012, Aisyah menonton pertandingan secara langsung. Agar mendapat izin dari orang tua, dia mengajak kakak dan sepupunya. ”Kebetulan sepupuku waktu itu kenal dengan anak-anak Mabes (Madura Bersatu) saat itu dan kita menonton di belakang drummer,” kata perempuan yang saat ini bekerja sebagai barista di Kota Salak itu.

Dari situlah awal mula dia berkenalan dengan pengurus dan anggota kelompok Mabes. Keakraban semakin terjalin membawa dirinya bergabung dengan kelompok suporter. Hingga akhirnya juga menjadi bagian dari kelompok suporter Cebbing (sebutan supporter perempuan).

Saat ini Aisyah aktif menjadi dirigen dengan memandu suporter untuk bersorak mendukung tim kecintaannya. Dirinya mengakui banyak menerima anggapan miring atas pilihannya itu. Tidak terkecuali dari orang-orang terdekat. Untuk menepis itu, dirinya membalas dengan sikapnya saat menjadi bidadari tribun.

Baca Juga :  Sempatkan Telepon Istri ketika Hendak Sahur

”Saya tidak membalas dengan kata-kata, tetapi dengan sikap. Yaitu, dengan menunjukkan bahwa kita tidak nakal dan anarkistis,” imbuhnya.

Bagi Aisyah, sepak bola tidak hanya olahraga milik laki-laki. Saat ini banyak klub sepak bola perempuan. Jadi tidak salah kalau kaum hawa juga menggandrungi sepak bola. ”Perempuan harus diam saja di rumah? Tidaklah, kita semua punya hak sama untuk mmeilih apa yang kita suka,” tegasnya.

Aisyah mengaku sedih karena pandemi berdampak pada hobinya. Kegemarannya nonton ke stadion jadi terhenti. Tapi, dia menyadari bahwa memang seharusnya berdamai dengan keadaan. Tidak mendatangi stadion dan membuat kerumunan agar pandemi cepat selesai.

Dia punya harapan terhadap persepakbolaan Madura ke depan. Tidak muluk muluk. ”Semoga pandemi cepat berlalu agar kita bisa mendukung langsung di dalam stadion. Semoga persepakbolaan Madura semakin maju, khususnya Madura United yang berada di Liga 1. Semoga bisa juara,” harap Aisyah yang pada 14 Juni nanti akan berulang tahun ke-22. (jup)

Artikel Terkait

Saat Mondok Jualan Permen

Putri Guru Ngaji Penyuka Seni

Suarakan Anti Kekerasan Seksual

Perempuan Harus Berpendidikan

Most Read

Artikel Terbaru

/