alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Saat Mondok Jualan Permen

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Zuhro Faizah, 24, terlahir dari keluarga menengah ke atas. Namun, perempuan kelahiran 1997 itu pantang berpangku tangan kepada kedua orang tuanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Sebab, sejak kecil dia biasa hidup mandiri.

Kemandirian Faizah terlihat sejak SD. Setiap akhir pekan menjaga bengkel yang dirintis orang tuanya. Rutinitas itu dilakukan hingga lulus SMP. ”Saya di bagian kasir, karena para pelanggan kerap membeli sparepart kendaraan,” ucapnya kemarin (17/5).

Jiwa enterpreneur Faizah berlanjut saat SMA di Darul Ulum, Jombang. Selain mondok dan sekolah, dia menawarkan jasa cuci piring serta jualan permen dan piscok (pisang cokelat). Hasilnya digunakan untuk kebutuhan di pondok.

Baca Juga :  Nia Kurnia: Keluarga Tetap Nomor Satu

”Saya beli permen dan piscok ke nyai di pondok. Kemudian, saya jual di sekolah. Kalau masih banyak, kadang saya jajakan ke kelas-kelas saat istirahat,” kenangnya.

Selepas dari pesantren, Faizah belajar administrasi negara di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Setelah lulus, dia enggan bekerja sesuai latar belakang pendidikan. Tetapi memilih mengembangkan usaha Seblak Duarr.

Faizah menyukai makanan berkuah pedas itu. Namun, cita rasa seblak di daerah dia tinggal belum dianggap lezat dan cocok dengan lidahnya. Kesempatan tersebut dijadikan peluang berbisnis. Dia pun menekuninya hingga kini. Bahkan, omzetnya tembus Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Faizah lebih enjoy mengembangkan usaha daripada bekerja di sektor formal dengan segala tekanan. Dengan berwirausaha, dia lebih leluasa. Perempuan berhijab itu menargetkan meraih sukses sebelum umur 30 tahun. ”Karena laki-laki tidak akan bersikap semena-mena kalau kita (perempuan) punya nilai lebih,” tegas warga Jalan Ki Lemah Duwur itu. (jup)

Baca Juga :  Jumlah Pokmaswas Sangat Terbatas

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Zuhro Faizah, 24, terlahir dari keluarga menengah ke atas. Namun, perempuan kelahiran 1997 itu pantang berpangku tangan kepada kedua orang tuanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Sebab, sejak kecil dia biasa hidup mandiri.

Kemandirian Faizah terlihat sejak SD. Setiap akhir pekan menjaga bengkel yang dirintis orang tuanya. Rutinitas itu dilakukan hingga lulus SMP. ”Saya di bagian kasir, karena para pelanggan kerap membeli sparepart kendaraan,” ucapnya kemarin (17/5).

Jiwa enterpreneur Faizah berlanjut saat SMA di Darul Ulum, Jombang. Selain mondok dan sekolah, dia menawarkan jasa cuci piring serta jualan permen dan piscok (pisang cokelat). Hasilnya digunakan untuk kebutuhan di pondok.

Baca Juga :  Ulang Tahun Ke-53, Ini Doa dan Harapan Khofifah Indar Parawansa

”Saya beli permen dan piscok ke nyai di pondok. Kemudian, saya jual di sekolah. Kalau masih banyak, kadang saya jajakan ke kelas-kelas saat istirahat,” kenangnya.

Selepas dari pesantren, Faizah belajar administrasi negara di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Setelah lulus, dia enggan bekerja sesuai latar belakang pendidikan. Tetapi memilih mengembangkan usaha Seblak Duarr.

Faizah menyukai makanan berkuah pedas itu. Namun, cita rasa seblak di daerah dia tinggal belum dianggap lezat dan cocok dengan lidahnya. Kesempatan tersebut dijadikan peluang berbisnis. Dia pun menekuninya hingga kini. Bahkan, omzetnya tembus Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Faizah lebih enjoy mengembangkan usaha daripada bekerja di sektor formal dengan segala tekanan. Dengan berwirausaha, dia lebih leluasa. Perempuan berhijab itu menargetkan meraih sukses sebelum umur 30 tahun. ”Karena laki-laki tidak akan bersikap semena-mena kalau kita (perempuan) punya nilai lebih,” tegas warga Jalan Ki Lemah Duwur itu. (jup)

Baca Juga :  Rektor: Kebiasaan Baik untuk Karakter Baik

Most Read

Artikel Terbaru