alexametrics
22.6 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Suarakan Anti Kekerasan Seksual

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Perempuan sering mendapat perlakuan tidak baik dari lawan jenis. Selain kekerasan fisik, masalah seksual kerap menyasar kaum hawa. Setiap tahun kasusnya mewarnai pemberitaan media.

Ketua Kopri PC PMII Sampang Raudhotul Jannah sering terlihat turun jalan. Dia bersama teman seperjuangannya bersuara lantang memperjuangkan hak-hak perempuan. Apalagi ketika melihat permasalahan perempuan semakin meningkat.

Masalah perempuan yang menjadi fokus alumni Pondok Pesantren Tanwirul Islam yakni kekerasan seksual. Menurutnya, kekerasan seksual berlawanan dengan kodrat perempuan. Bahkan, yang menjadi korban bukan hanya perempuan remaja atau dewasa. ”Ada yang masih balita jadi korban,” tuturnya.

Aktivis yang pernah kuliah di IAI Nata itu menilai, ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kekerasan seksual. Faktor internal muncul karena kurang pengawasan dari orang tua sehingga anak terjerumus pada kenakalan remaja. Sedangkan faktor eksternal terjadi karena hukuman kepada pelaku belum memberikan efek jera.

Baca Juga :  Evi Febriani Ajak Lanjutkan Perjuangan Kartini

Karena itu, Raudhah berjuang memerdekakan perempuan dari dunia patriarki. Menurutnya, salah satu cara memajukan daerah melalui memberdayakan perempuan dengan memberi kesempatan kepada perempuan untuk menempuh jenjang pendidikan utamanya yang berkaitan dengan moral.

Peran perempuan tidak hanya menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Apalagi hanya sandaran suami. Lebih dari itu. Perempuan memiliki peran dalam kemajuan daerah. ”Kita harus belajar berlomba-lomba dalam kebaikan,” tandasnya. (bil)

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Perempuan sering mendapat perlakuan tidak baik dari lawan jenis. Selain kekerasan fisik, masalah seksual kerap menyasar kaum hawa. Setiap tahun kasusnya mewarnai pemberitaan media.

Ketua Kopri PC PMII Sampang Raudhotul Jannah sering terlihat turun jalan. Dia bersama teman seperjuangannya bersuara lantang memperjuangkan hak-hak perempuan. Apalagi ketika melihat permasalahan perempuan semakin meningkat.

Masalah perempuan yang menjadi fokus alumni Pondok Pesantren Tanwirul Islam yakni kekerasan seksual. Menurutnya, kekerasan seksual berlawanan dengan kodrat perempuan. Bahkan, yang menjadi korban bukan hanya perempuan remaja atau dewasa. ”Ada yang masih balita jadi korban,” tuturnya.

Aktivis yang pernah kuliah di IAI Nata itu menilai, ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kekerasan seksual. Faktor internal muncul karena kurang pengawasan dari orang tua sehingga anak terjerumus pada kenakalan remaja. Sedangkan faktor eksternal terjadi karena hukuman kepada pelaku belum memberikan efek jera.

Baca Juga :  Godaan Terbesar Tawaran Berbusana Terbuka

Karena itu, Raudhah berjuang memerdekakan perempuan dari dunia patriarki. Menurutnya, salah satu cara memajukan daerah melalui memberdayakan perempuan dengan memberi kesempatan kepada perempuan untuk menempuh jenjang pendidikan utamanya yang berkaitan dengan moral.

Peran perempuan tidak hanya menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Apalagi hanya sandaran suami. Lebih dari itu. Perempuan memiliki peran dalam kemajuan daerah. ”Kita harus belajar berlomba-lomba dalam kebaikan,” tandasnya. (bil)

Artikel Terkait

Saat Mondok Jualan Permen

Putri Guru Ngaji Penyuka Seni

Perempuan Harus Berpendidikan

Most Read

Lebaran Ajang Perkuat Ukhuwah

Siapkan Rewards Desa Bebas Narkoba

Artikel Terbaru

/