alexametrics
22.6 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Lawan Konstruksi Miring Perempuan

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Suara Maskiyatun semakin lantang ketika menjabat ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumenep. Perempuan asal Desa Ketawang Daleman, Kecamatan Ganding, itu aktif berorganisasi sejak di bangku SMA.

Aktif bergabung dalam persatuan OSIS Ganding, pengurus cabang IPPNU Sumenep, dan Aliansi Perempuan Milenial. Cita-cita besar memilih menjadi aktivis agar berani melawan konstruksi sosial tentang perempuan. Perempuan 23 tahun ini ingin membuktikan perempuan tidak boleh dipandang lemah. Perempuan bisa berkiprah dalam banyak hal.

”Perempuan tidak boleh diam terpaku oleh pandangan sosial yang sering dianggap lemah bahwa perempuan bukan hanya bertugas mengurus rumah,” jelas alumnus Instika Guluk-Guluk itu.

Baca Juga :  Kekerasan pada Perempuan Marak

Dia mengakui tidak mudah memang melawan mindset masyarakat dalam menilai perempuan. Namun, baginya ini adalah tantangan yang bisa dilawan dengan bukti konkret. Seperti yang telah dirinya lakukan dengan mengarang buku Pemikiran Kartini sebagai Muslimah terhadap Pemberdayaan Pendidikan Perempuan.

Buku ini diharapkan mampu menginspirasi kaum perempuan untuk berpikir lebih luas seperti sikap RA Kartini. Buku ini bisa rampung berkat dirinya terjun menjadi aktivis. Sebagian besar buku itu juga menceritakan gerakan-gerakan yang dilakukan. Terutama yang berkaitan dengan pengawalan hak-hak perempuan. (jun)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Suara Maskiyatun semakin lantang ketika menjabat ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumenep. Perempuan asal Desa Ketawang Daleman, Kecamatan Ganding, itu aktif berorganisasi sejak di bangku SMA.

Aktif bergabung dalam persatuan OSIS Ganding, pengurus cabang IPPNU Sumenep, dan Aliansi Perempuan Milenial. Cita-cita besar memilih menjadi aktivis agar berani melawan konstruksi sosial tentang perempuan. Perempuan 23 tahun ini ingin membuktikan perempuan tidak boleh dipandang lemah. Perempuan bisa berkiprah dalam banyak hal.

”Perempuan tidak boleh diam terpaku oleh pandangan sosial yang sering dianggap lemah bahwa perempuan bukan hanya bertugas mengurus rumah,” jelas alumnus Instika Guluk-Guluk itu.

Baca Juga :  Gelorakan Semangat Wirausaha ala Siti Khodijah

Dia mengakui tidak mudah memang melawan mindset masyarakat dalam menilai perempuan. Namun, baginya ini adalah tantangan yang bisa dilawan dengan bukti konkret. Seperti yang telah dirinya lakukan dengan mengarang buku Pemikiran Kartini sebagai Muslimah terhadap Pemberdayaan Pendidikan Perempuan.

Buku ini diharapkan mampu menginspirasi kaum perempuan untuk berpikir lebih luas seperti sikap RA Kartini. Buku ini bisa rampung berkat dirinya terjun menjadi aktivis. Sebagian besar buku itu juga menceritakan gerakan-gerakan yang dilakukan. Terutama yang berkaitan dengan pengawalan hak-hak perempuan. (jun)

Artikel Terkait

Saat Mondok Jualan Permen

Putri Guru Ngaji Penyuka Seni

Suarakan Anti Kekerasan Seksual

Perempuan Harus Berpendidikan

Most Read

Artikel Terbaru

/