Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sorot Pidato Megawati, Guru Besar Unair: Bukan Karena Politik, Tapi Kecewa Karena Jokowi Khianati Konstitusi

Hendriyanto • Kamis, 30 November 2023 | 02:40 WIB

Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga, Prof Dr. Henry Subiakto.
Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga, Prof Dr. Henry Subiakto.

SURABAYA, RadarMadura.id - Pidato yang disampaikan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri saat Rapat Koordinasi Nasional Relawan Ganjar-Mahfud di Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Senin (27/11/2023), disorot Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga, Prof Dr. Henry Subiakto. Prof Henry menilai pidato itu menjadi sinyal retaknya hubungan Megawati dengan Presiden Joko Widodo.

“Apa yang disampaikan Bu Mega itu merupakan sinyal yang jelas bahwa Bu Mega tidak sedang punya hubungan baik-baik dengan Pak Jokowi. Kalau ada analisis yang mengatakan Bu Mega dan Jokowi bersandiwara, tidak benar," kata Henry, Rabu (29/11/2023).

"Bu Mega sungguh kecewa dan marah terhadap orang yang sudah dia tolong dan bantu saat ingin jadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI hingga jadi presiden selama dua periode,” sambung dia.

Baca Juga: Tanggapi Tuduhan Megawati Soal Perilaku Orba, Nusron Wahid: Jangan Karena Pak Jokowi Tak Mau Dijadikan Petugas Partai, Lalu Menuduh Perilaku Orba

Ia mengatakan, Megawati baru bereaksi secara keras, bukan karena sikap Jokowi dan keluarga yang berkhianat kepada partainya, tapi lebih karena melihat keadaan yang tidak sesuai dengan aturan main yang berlaku.

Megawati tidak hanya kecewa karena melihat Mahkamah Konstitusi (MK) yang terbukti digunakan untuk alat politik, tapi juga melihat cara-cara tidak fair belakangan ini.

Ia menyebut, misalnya, dugaan penggunaan aparat untuk pemenangan pasangan tertentu, hingga intimidasi yang banyak terjadi terhadap sejumlah orang.

“Hal itu yang dirasakan, membuat Megawati kecewa karena ternyata pemerintah yang dia lahirkan, menggunakan cara-cara yang tak terlalu beda dengan cara-cara orde baru. Megawati yang punya punya pengalaman panjang dalam tekanan dan intimidasi Orde Baru, merasakan bangkitnya cara-cara itu oleh orang yang dia percaya dan dukung selama ini,” jelasnya.

Menurutnya, Mega ingin menunjukkan bahwa yang sedang dihadapinya sekarang bukan pemerintahan yang netral seperti yang didengungkan, tetapi para elite yang tidak segan menggunakan kekuasaan. Maka, semua cara akan dihadapi karena Megawati adalah tokoh yang sepanjang hidupnya lebih banyak menghadapi intimidasi dan ancaman.

“Itu sudah jadi sejarah yang membesarkannya. Dan dia memperlihatkan kepada pengikutnya, bahwa Mega tidak gentar, Mega sudah cukup makan asam-garam menghadapi yang demikian. Dan Megawati tidak akan kalah sebagaimana sejarah telah membuktikan selama ini,” ujar pengamat komunikasi politik ini.

Baca Juga: Megawati Sindir Penguasa Saat Ini Seperti Orde Baru, Jokowi: Saya Tidak Ingin Memberi Tanggapan

Henry mengatakan, PDIP adalah partai terbesar yang memiliki pendukung ideologis nasionalisme. Dengan kondisi dikeroyok partai-partai yang didukung presiden, justru akan memunculkan simpati rakyat dan mengentalkan militansi dari pendukung.

“Bagi Ganjar-Mahfud sebagai peserta pilpres harus mengikuti aturan kampanye damai, di sisi lain Mega sebagai pejuang demokrasi dan tegaknya konstitusi, tampaknya ingin menunjukkan respon yang berbeda menghadapi situasi yang dia lihat, tidak baik baik saja,” katanya.

Megawati juga mengajak agar masyarakat tidak golput. Hal ini menunjukan, dalam keadaan apapun Megawati tetap ingin mengajak masyarakat menjadi warga negara yang baik dan aktif berpartisipasi dalam berdemokrasi, serta masih optimis akan mendapat kebaikan.

“Sebagai politisi senior, anak proklamator, maka Mega mengajak masyarakat luas untuk cerdas memilih pemimpin berdasarkan track record, pengalaman dan kemampuan, bukan berdasar yang lain. Bukan karena keturunan, ataupun sekadar lucu-lucuan,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, selama kurang lebih satu jam Megawati menyampaikan pidato dengan penuh emosional. Presiden RI kelima ini mengaku jengkel dan kesal dengan dinamika politik menjelang masa kampanye yang dimulai, Selasa (28/11) hari ini.

Dalam pidatonya, Megawati banyak menyoroti sejumlah isu terkait Pemilu dan Pilpres 2024. Kekesalan Mega terutama terlihat saat dia menyebut penguasa saat ini bertindak laiknya Orde Baru. Megawati mempertanyakan penguasa saat ini yang bertindak seperti era Orde Baru.

Dia juga menantang kepada siapapun yang mengerahkan kekuatan untuk melakukan aksi kekerasan di pemilu akan berhadapan dengan dirinya. (*/par)

Editor : Hendriyanto
#jokowi #pdip #orde baru #pemimpin #megawati soeakarnoputri